• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Metropolis

LTNNU Jatim Komitmen Lakukan Digitalisasi Turots dan Manuskrip

LTNNU Jatim Komitmen Lakukan Digitalisasi Turots dan Manuskrip
H Ahmad Karomi. (Foto: NOJ/Madchan)
H Ahmad Karomi. (Foto: NOJ/Madchan)

Surabaya, NU Online Jatim

Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta'lif wan Nasr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur sukses mengadakan  seminar literasi digital sekaligus konsolidasi LTNNU se-Jawa Timur. Salah satu output yang ingin dihasilkan dari acara tersebut adalah mendorong masing-masing daerah untuk digitalisasi turost hingga manuskrip.

 

Acara dibingkai dengan seminar 'Literasi Digital: Strategi Turost Pesantren Beradaptasi Dengan Ekosistem Digital'. Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) LTNNU Jawa Timur, H Ahmad Karomi memberikan pesan kepada LTNNU se-Jawa Timur selepas acara seminar literasi digital Turost pesantren di Aula KH. Hasyim Asyari.

 

Suasana konsolidasi berlangsung gayeng, Direktur Alkimya itu menuturkan, "Saya pernah berbicara dengan salah satu dzuriyyah Syaikhona Kholil Bangkalan bahwa kita LTN Jatim akan mengadakan sosialisasi menggandeng teman-teman PC LTNNU untuk menelusuri turots di daerah masing-masing," ungkap H Ahmad Karomi, Selasa (26/07/2022).

 

Ia mencontohkan di Tuban ada kitab apa saja, nanti akan bisa saling kerja sama. Pihaknya pernah mendapat laporan dari rekanan di daerah bahwa banyak sekali turost, tapi untuk memulai cara penanganan belum tahu. Oleh sebab itu, LTNNU Jatim mengarahkan LTNNU di masing-masing daerah menjadi ujung tombak digitalisasi. Karena di LTNNU ada yang membuat konten YouTube, media cetak maupun tulisan.

 

"Yang bagian turost silakan, tapi tidak semua ke turost, harus dibagi. Ada yang mengambil sumbernya, dikemas di NU Online atau dibuat sebagai YouTube, monggo semua ada tempat dimulai dari situ," ujarnya.

 

Alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri ini mengungkapkan, pasti ada jalan ketika semua bisa kompak. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah door to door langsung ke pondok-pondok salaf.

 

"Pondok yang paling tua atau cari kiai yang produktif menulis. Insyaallah ada turost atau manuskrip," terangnya.

 

Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengaku, jumlah manuskrip pesantren di dunia sangat banyak. Di Leiden Belanda, ada sekitar belasan ribu manuskrip Jawa serta sebanyak 60 persen berkaitan dengan pesantren.

 

"Karena saya yakin, manuskrip yang dibawa oleh Belanda yang sekarang di Leiden sedikit. Sedangkan yang dibawa masyarakat itu lebih banyak, disimpan untuk menjadi jimat, rata-rata begitu," paparnya.

 

Ia menceritakan pernah masuk ke dalam kamar milik Syaikhona Cholil Bangkalan oleh salah satu dzurriyah. Kamar tersebut tidak boleh digunakan tidur, aura positifnya kuat, apalagi kitab asli karangan Syaikhona Cholil Bangkalan.

 

"Apalagi kitab asli, kalau pegang seperti memegang barang pusaka. Banyaklah yang bisa kita mulai," imbuhnya.

 

Gus Karomi juga menuturkan, di Kediri seperti karangan KH Djazuli Ustman banyak yang dimakan rayap, karena kesadaran untuk merawat terlambat. Ia menceritakan kejadian saat pameran manuskrip ulama Kediri, tepatnya di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

 

"Saya merasa kecolongan, mondok lama malah tidak tahu kok ada kitabnya Mbah Djazuli di makan rayap miris sekali. Berarti kesadaran kita merawat itu kurang, perlakuannya bagaimana itu kita tidak tahu dan harus perlu belajar," tutupnya.


Metropolis Terbaru