• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Metropolis

Respons Pernyataan Menag soal Toa, Ansor Jatim: Ada Manipulasi Informasi

Respons Pernyataan Menag soal Toa, Ansor Jatim: Ada Manipulasi Informasi
Ketua PW GP Ansor Jatim, HM Syafiq Syauqi. (Foto: NOJ)
Ketua PW GP Ansor Jatim, HM Syafiq Syauqi. (Foto: NOJ)

Surabaya, NU Online Jatim

Pernyataan Menteri Agama (Menag) H Yaqut Cholil Qoumas tentang aturan pengeras suara memancing respons banyak pihak. Disinyalir pernyataan tersebut ada yang dipelintir oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jatim turut bersuara dan bersikap.


Ketua PW GP Ansor Jatim HM Syafiq Syauqi memberikan beberapa pandangan dan analisa atas pernyataan Menag RI yang kini jadi polemik banyak pihak. Secara tegas, pihaknya mengingatkan kepada semua pihak untuk bersama-sama mewaspadai pola gerakan framing media dengan gaya lama tersebut.


“Ini merupakan gerakan lama dan pelaku yang sama yang kembali membuat gaduh dengan melakukan framing di media,” ujar Gus Syafiq dalam keterangan yang diterima awak media, Jum’at (25/02/2022).


Menurut Gus Syafiq, framing media dengan teknik propaganda dan manipulasi informasi tersebut masih menjadi pilihan mereka dalam upaya membuat kegaduhan yang sistematis untuk mengganggu stabilitas nasional.


"Tantangan dalam era disrupsi informasi saat ini adalah pola-pola gerakan framing media dengan teknik propaganda dan manipulasi informasi yang menyesatkan publik. Ini yang sedang mereka lakukan dengan memotong beberapa pernyataan dari Menteri Agama," jelasnya.


"Framing ini jelas teknik manipulasi informasi yang ditujukan memancing sisi emosional umat Islam dengan membenturkan sesuatu yang sakral dengan hal yang tabu. Ini pola lama yang coba mereka lakukan lagi," tambahnya.


Ia menambahkan, senyatanya framing bukanlah sebuah kebohongan. Namun, pembelokan fakta secara halus tersebut justru merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Maka dari itu, dirinya meminta masyarakat dapat bersikap cerdas dan memahami secara utuh hal-hal yang disampaikan Menag RI.


“Mereka itu membelokkan fakta. Caranya dengan memilih sudut pandang yang berbeda, kemudian memotong dan mengambil diksi lain dengan membenturkan antara adzan dengan suara anjing," tegas Gus Syafiq.


Padahal menurut kajiannya, tidak ada kata membandingkan atau mempersamakan antara adzan atau suara yang timbul dari pengeras suara masjid dengan lolongan anjing. Menurutnya, Menag RI justru mempersilahkan, bahkan mengajak umat Islam untuk menggunakan pengeras suara sebagai syiar dakwah dan berbagai keperluan masyarakat lainnya.


“Tentu, hal tersebut sesuai dengan aturan yang dicanangkan untuk kemaslahatan Bersama,” imbuh Gus Syafiq.


Dirinya menegaskan, bahwa yang disampaikan Menag RI adalah memberikan banyak contoh tentang sumber kebisingan di tengah masyarakat yang faktual. Berbagai contoh kebisingan itu, menurut Gus Syafiq, membuat Menag RI mengambil benang merah bahwa suara-suara itu harus diatur supaya tidak menjadi gangguan kalangan tertentu.


Menurutnya, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur jauh hari pada tahun 1982 telah menulis tentang ‘Islam Kaset dan Kebisingan Sosial’. Hal tersebut menurutnya, justru bentuk sikap yang memiliki persamaan dengan yang disampaikan oleh Menag RI.
 


“Itu karena kita semua menjunjung tinggi kaidah Dar'ul Mafashid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih. Mencegah kemudharatan itu harus menjadi skala prioritas di atas mengambil kemaslahatan. Saya kira cukupkan gerakan framing ini dan sudahi," pungkasnya.


Metropolis Terbaru