Surabaya, NU Online Jatim
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menekankan pentingnya peningkatan human capital dan penguasaan teknologi di tubuh Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Ia meyakini terkait hal itu, NU dan termasuk pula GP Ansor, memiliki modal sosial yang sangat besar dan kuat.
“Modal ini bisa berupa tradisi yang dijaga, solidaritas tinggi, serta jaringan komunitas yang luas dan mengakar kuat di masyarakat,” ujarnya pada acara Syawal Fest Halal Bihalal Akbar dan Inaugurasi Pelantikan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jatim masa khidmat 2024-2028 yang dipusatkan di Jatim Expo Surabaya, Ahad (13/04/2025).
Ia menjelaskan bahwa modal sosial semacam ini kerap bisa dikonversi menjadi kekuatan politik dalam konteks demokrasi elektoral. Menurutnya, peran Ansor dalam kontestasi politik sudah terbukti di berbagai level, mulai dari pemilihan kepala desa hingga pemilu.
“Dalam setiap kontestasi demokrasi, kader-kader Ansor selalu menjadi magnet politik. Mulai dari pilkades, pilbup, pilgub, hingga pilpres, kekuatan Ansor selalu diperebutkan. Ini adalah bentuk konversi dari kekuatan sosial menjadi kekuatan politik,” katanya.
Namun demikian, Pratikno menegaskan bahwa modal sosial dan politik saja tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang. Ia mengingatkan bahwa GP Ansor juga harus memperkuat modal-modal lain seperti kemampuan digital, ekonomi, dan komunikasi.
“Sekarang ini, kita hidup di dunia yang berbeda. Ribuan penceramah yang kita miliki bisa saja kalah pengaruh dengan segelintir influencer yang menguasai algoritma media sosial. Pedagang-pedagang kita di pasar konvensional bisa kalah oleh pelaku bisnis online yang tahu cara membaca kebutuhan konsumen melalui data,” jelasnya.
Dirinya menyampaikan bahwa yang mampu memenangkan kompetisi saat ini adalah sumber daya manusia yang bisa mengembangkan modal teknologi serta mampu membaca dan mengakumulasi data untuk memprediksi kebutuhan dan persepsi masyarakat. Menurutnya, GP Ansor harus melahirkan kader yang tidak hanya religius dan sosial, tetapi juga profesional dan visioner.
“Kita butuh kader-kader yang menguasai teknologi digital, kita butuh kader yang mengasai ilmu komunikasi strategis,” tegasnya.
Di akhir penyampaiannya, ia menekankan bahwa lembaga organisasi seperti GP Ansor perlu mampu menyediakan pembelajaran daring dan terlibat dalam penyusunan kurikulum. “Serta membantu menjalin kerja sama antar lembaga pendidikan di lingkungan keluarga besar NU,” pungkasnya.
Penulis: Diky Kurniawan Arief