• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 25 Juni 2022

Opini

Antara Puasa dan Rasa Lapar

Antara Puasa dan Rasa Lapar
Ilustrasi: NU Online
Ilustrasi: NU Online

Oleh: Fataty Maulidiyah*)
Dalam sebuah kitab karangan Usman bin Hasan bin Ahmad Asyakir Al Khauwbawiyi, seorang ulama yang hidup pada abad ke-8 Hijriyah menerangkan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan akal. Allah berfirman dalam sebuah dialog-Nya setelah menciptakan akal yang memiliki maksud:
 

“Wahai akal, menghadaplah engkau pada-Ku!”

Akal pun menghadap pada Allah, dan Allah berfirman, ”Wahai akal, berbaliklah engkau!”,​​​​​​​ akalpun berbalik sesuai perintah Allah.

 

“Wahai akal, siapakah Aku?”

“Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku, dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah”

Lalu Allah berfirman. “Wahai akal, tidak Kuciptakan makhluk yang lebih mulia dari pada engkau.”

 

Setelah itu Allah SWT menciptakan nafsu dan berfirman padanya.

“Wahai nafsu, menghadaplah pada-Ku!”

Nafsu tidak menjawab. Lantas Allah befirman lagi, ”Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Nafsu menjawab, ”Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau!”

Setelah itu Allah menyiksa nafsu di neraka Ju’ selama seratus tahun. Lalu Allah berfirman lagi, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?”

Nafsu menjawab, ”Aku adalah hamba-Mu dan Engkau adalah Tuhanku.”

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa sebab itulah Allah mewajibkan puasa.

 

Ramadhan

Memasuki bulan suci Ramadan, ragam budaya dan kuliner menemani hari-hari kita dalam menjalani puasa. Berbagai menu menjelang berbuka juga aneka resep bertebaran di berbagai sosial media. Dan gairah bulan Ramadhan selalu menjadi inspirasi ibu-ibu untuk meramu berbagai hidangan.
 

Tradisi termasuk di dalamnya ragam boga khas berbagai daerah memang sulit dipisahkan dengan bulan Ramadhan. Kuliner merupakan hasil interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya, dirinya sendiri, maupun dengan Sang Pencipta. Dan bulan Ramadhan selalu menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha makanan.
 

Namun, esensi dari bulan Ramadhan bukanlah tentang makanan, hakikatnya adalah menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Tentu lebih dari sekadar menahan secara lahiriah saja. Akan tetapi, jauh dari itu ibadah puasa adalah tentang bagaimana kita mengendalikan hawa nafsu.
 

Belajar dari kisah dialog antara Allah dengan akal dan nafsu, dapat kita ambil ibrah bahwa nafsu mudah dikendalikan dan ditaklukkan dalam keadaan lapar. Rasa lapar menimbulkan ketaatan. Bahkan disebutkan dalam QS.Al Baqarah 155, lapar merupakan bagian dari ujian.
 

“Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan suatu cobaan, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa, serta buah-buahan. Maka berilah kabar gembira bagi orang- orang yang sabar”
 

Salah satu maksud dari ayat tersebut adalah adanya kabar gembira bagi orang-orang yang sabar dengan perolehan pahala baik karena bersabar menghadapi rasa lapar. Disebutkan pula pada QS.Al Hasyr 9:

”Mereka mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri meskipun mereka sedang membutuhkan”
 

Dari sahabat Anas bin Malik RA diceritakan bahwa Fatimah pernah memberikan pecahan roti pada ayahnya, Rasulullah SAW, beliau bertanya, ”Pecahan apa ini, wahai Fatimah?”

“Pecahan roti,Ayah” Fatimah diam sebelum melanjutkan jawabannya.

“Saya tidak akan tenang sebelum memberikan roti ini pada ayah.”
 

Lalu Rasulullah berkata, ”Pecahan roti ini adalah makanan ayahmu setelah tiga hari.”
 

Tidak ada dalam kisah, jika para Nabi dan keluarganya berkenyang-kenyang. Juga dalam semua kisah para wali dan hamba Allah yang shalih. Mereka mendekati Allah dalam keadaan lapar. Lapar merupakan bagian dari sifat-sifat Nabi dan para ulama sebagai suatu sendi perjuangan.
 

Orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah berangsur-angsur dapat mengembalikan lapar pada posisinya. Sehingga mereka mampu menghindari makanan. Oleh karena itu, mereka telah menemukan kebijaksanaan dengan cara melaparkan diri.​​​​​​​
 

Sahal bin Abdullah berkata, ”Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menciptakan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan”.
 

Untuk itu pula Yahya bin Muadz berpendapat bahwa lapar bagi orang yang hendak menuju Allah adalah latihan. Bagi orang yang bertaubat sebagai ujian, bagi orang zuhud sebagai pengaturan, dan bagi orang makrifat sebagai kemuliaan. Hal ini senada dengan sebuah tamsil dari bangsa arab,”Kelahapan menghilangkan kecerdasan”.
 

Tentu kita ingat lagu religi dari Bimbo tentang dialog seorang anak bertanya pada bapaknya, tentang “Untuk apa berlapar-lapar puasa”, yang kemudian dijawab.”Lapar mengajarmu rendah hati selalu”. Dalam keadaan lapar, dan membiasakannya melalui ibadah puasa, memiliki maksud untuk memberikan kita rasa peka terhadap suatu penderitaan, membatasi hawa nafsu, dan sebagai ikhtiar belajar mengendalikan emosi. Dengan lapar pula kita menahan diri dari sikap melebih-lebihkan diri sendiri terhadap orang lain.
 

Term lapar dalam konstelasi ruhani merupakan satu tahapan olah batin yang sangat penting. Kelaparan yang dimaksudkan dalam lelaku mereka adalah sebagai upaya menyedikitan makanan, membatasai urusan makanan hanya untuk menguatkan diri menjalankan ibadah.
 

Datangnya bulan Ramadhan kadangkala serasa kontras. Kita terkesan sangat melebih-lebihkan dalam urusan makanan, sedangkan maksud ibadah puasa adalah belajar menghadapi rasa lapar yang berdampak pada pengendalian hawa nafsu. Mengingatkan kita bahwa dengan berpuasa kita hanya perlu makan untuk menjalankan ibadah.
 

Mari kita isi bulan Ramadan dengan menyukuri segala nikmat kesehatan dan hadirnya aneka ragam makanan yang akan menguatkan kita menjalankan ibadah, dan semoga ridha Allah akan senantiasa mengiringinya.
 

*) Penulis adalah guru Al-Qur’an–Hadis dan Ilmu Tafsir di MAN 2 Mojokerto dan alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang


Editor:

Opini Terbaru