• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Maret 2024

Opini

Budaya Jujur di Era Post-Truth: Antara Sikap dan Nilai

Budaya Jujur di Era Post-Truth: Antara Sikap dan Nilai
Ilustrasi jujur. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi jujur. (Foto: Istimewa)

Oleh: Ahmad Dahri

“Menyajikan fakta dengan jujur itu adalah bagian dari integritas dan moral seseorang”. Pesan itulah yang saya terima di kala ruang dan waktu sedang menghimpit dan berdiskusi dengan ragam kegelisahan.


Jujur memang sebuah kata yang mudah diucap tetapi sukar untuk dilakukan. Bahkan, jujur juga memiliki risiko tertentu. Bisa dijauhi teman, dimarjinalkan, bahkan ‘dibunuh’. Itulah kata yang oleh kaum Quraisy disandangkan kepada Nabi Muhammad SAW karena memang ia adalah sosok yang bisa dipercaya, al-Amin.


Dengan bersikap jujur orang bisa menerima dan menolak. Sikap jujur adalah konsekuensi tegas yang memang harus selalu dipelajari dan dipraktikkan oleh setiap manusia. Perjumpaan dan komunikasi adalah media yang kerap menyajikan kejujuran dan ketidak jujuran, menyajikan keakraban yang dibuat-buat, ketulusan, dan bahkan kerap menampakkan sikap bermuka dua.


Inilah panggung yang tidak sedikit orang berlomba untuk mendapat simpati, hingga pujian dan tepuk tangan di mana-mana. Simpati itu justru dicari dan dibuat. Sehingga bukan lagi kejujuran publik yang didapatkan, kecuali kedustaan-kedustaan semata. Sebab, ketika kepentingannya sudah selesai, maka lainnya akan diabaikan.


Kajian agama, berikut tentang kejujuran juga disampaikan melalui platform-platform sosial media. Tak kurang, hampir setiap jam muncul kajian dan podcast yang membicarakan agama, moral dan nilai-nilai luhur.


Di lain hal justru terjadi kemorosotan nilai, ketidak jujuran, ketidak adilan, bahkan cenderung manipulatif. Literasi yang seabrek berkembang dan mudah didapat, justru menjadi sangat minim pembaca dan pemerhatinya.


Wajar jika kemiskinan literatur itu tampak, karena semakin sulitnya mencari kejujuran berbanding lurus dengan sulitnya mencari keadilan. Hal ini sama sekali tidak sejalan dengan perkembangan media yang memuat ajaran-ajaran agama tanpa batas ruang dan waktu.


Sepertinya memang perlu ada forum kejujuran di mana-mana. Penting pula digalakkan forum-forum keadilan agar siapapun dapat melatih instrospeksi diri, termasuk diri penulis pribadi. Sehingga di dalamnya bukan lagi kumpulan justifikasi, tetapi konfirmasi dan diskusi.


Sementara yang hilang dari kemajuan bangsa ini adalah ruang-ruang konfirmasi dan diskusi. Kebanyakan lebih suka berkata kotor, kumuh, justifikasi di sosial media, hingga fitnah sana sini. Padahal, melatih ketegasan, kejujuran, dan keadilan butuh konfirmasi dan diskusi. Butuh njagong bareng, bukan saling tuding di balik jaringan internet.


Semoga kita semua senantiasa diselamatkan dari defisit adab dan diberi semangat untuk selalu belajar jujur dan bersikap adil kepada siapapun. Wallahu a’lam.


*) Ahmad Dahri, adalah pengurus PC Lesbumi NU Kabupaten Malang


Opini Terbaru