• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Kapan Kita Naik Kelas?

Kapan Kita Naik Kelas?
Prof Masdar Hilmy, Rektor UINSA. (Foto: Unusia)
Prof Masdar Hilmy, Rektor UINSA. (Foto: Unusia)

Oleh: Prof Masdar Hilmy*


Polemik dan kontroversi di seputar SE Menag No 5/2022 tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala mengindikasikan lebarnya kesenjangan antara kedewasaan keberagamaan (sebagian) umat di satu sisi dengan kehadiran negara (Kemenag) dalam kehidupan keberagamaan umat di sisi lain. Jika setiap kebijakan negara disikapi dan disambut secara kontroversi maka pertanyaannya adalah; kapan kita “naik kelas” dalam aspek kesewasaan beragama kita?


Kedewasaan beragama akan tercipta manakala setiap kebijakan negara yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan dalam beragama (toleransi dan kerukunan beragama) tidak disikapi secara berlebih-lebihan, reaktif dan resisten (denial). Kedewasaan beragama dicirikan oleh “ketercukupan diri” (self-suffiency) dalam merespons kebijakan apa pun dalam kehidupan beragama. Artinya, seseorang cenderung “bersumbu panjang” dalam menyikapi setiap kebijakan negara. Sebaliknya, jika kita selalu terjebak pada situasi polemik atas sebuah kebijakan beragama, maka sesungguhnya kita masih tetap “bersumbu pendek” dalam beragama.


Kondisi sumbu pendek merupakan pintu masuk yang paling mudah untuk mendestabilisasi sebuah masyarakat. Jika masyarakat kita mudah dikompori dan diprovokasi, dikhawatirkan akan sangat menguntungkan para pialang dan petualang politik untuk mengais keuntungan di balik kerawanan sosial kita. Sesungguhnya, inilah yang masih menjadi titik lemah masyarakat kita dalam memasuki percaturan bangsa-bangsa di dunia.


Kondisi bangsa-bangsa Arab di Timur Tengah yang tengah dilanda konflik berkepanjangan sesungguhnya menggambarkan secara sempurna bagaimana kerawanan sosial dapat dikapitalisasi menjadi keuntungan bagi sebagian bangsa lain yang memiliki kepentingan jangka pendek (baca; kepentingan ekonomi dan energi). Maka, jadilah sebagian negara-negara tersebut sebagai ladang konflik yang menggiurkan bagi para “investor konflik” di dunia.


Oleh karena itu, belajar lah dari negara-negara tersebut untuk menaikkan level kedewasaan beragama masyarakat kita agar tidak mudah diprovokasi. Jika kita tetap reaktif dan resisten terhadap apapun kebijakan negara dalam kehidupan beragama, maka kita tetap menjadi ummat bersumbu pendek alias tidak naik kelas menjadi lebih dewasa.


*Penulis adalah Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya 


Opini Terbaru