• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Metropolis

Dikukuhkan Guru Besar Tasawuf UINSA, Begini Kisah Rubaidi

Dikukuhkan Guru Besar Tasawuf UINSA, Begini Kisah Rubaidi
Rubaidi saat orasi ilmiah pengukuhan guru besar (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)
Rubaidi saat orasi ilmiah pengukuhan guru besar (Foto: NOJ/ Boy Ardiansyah)

Surabaya, NU Online Jatim
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengukuhkan empat guru besar pada Kamis (10/02/2022). Salah satu di antaranya adalah Rubaidi yang dikukuhkan menjadi guru besar ke-75 bidang ilmu tasawuf.

 

Dalam perjalanan karir intelelaktualnya sampai menyandang guru besar, Rubaidi mengaku tidak menemukan kesulitan yang berarti.

 

“Bagi saya tidak ada yang sulit, itu tergantung kepada ikhtiar atau upaya kita sebagai ilmuwan di dalam menuangkan ide-ide untuk dijadikan karya tulis artikel atau jurnal,” ungkapnya kepada NU Online Jatim, Jumat (11/02/2022).

 

Pria yang pernah menjadi bagian dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor tahun 1998-2000 itu menyampaikan, prestasi yang diraihnya tidak lepas dari peran para guru, syekh, serta murabbinya di tiga mejelis shalawat. Yakni, Mejelis Shalawat Kubro, Majelis Shalawat Muhammad dan Majelis Shalawat Adzimiyah.
 

“Kalau ditanya siapa yang paling berpengaruh dalam karier intelektual saya, maka saya jawab ada tiga tokoh. Pertama ada namanya Mbah Abdul Hamid atau akrab dipanggil Mbah Hamid. Beliau adalah kakek saya dari Jepara. Sejak saya keluar rumah masa SMA, saya merasa dibimbing dari jauh oleh beliau,” terangnya.
 

Dua tokoh lagi yang berpengaruh bagi  Rubaidi adalah murabbi sufinya. Yakni Gus Kahar yang merupakan Mursyid Majelis Shalawat Muhammad. Selanjunya adalah Gus Mursidin.
 

“Beliau Gus Mursidin saat ini masih hidup, jadi saya tidak bisa menyebut nama lengkapnya. Cukup inisial itu,” katanya.
 

Ia juga menyebut Gus Syamsu seorang Mursyid Shalawat Kubro asli China. Di atasnya ada KH Muhammad Tamyiz, seorang wali mastur pembawa tiga majelis shalawat tersebut.
 

“Tetapi saya tidak mempunyai kesempatan bertemu beliau berdua (Gus Syamsu dan Mbah Tamyiz),” terangya.
 

Rubaidi yang pernah menjadi jajaran pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini didik Gus Kahar selama tujuh tahun.

 

Rubaidi juga selalu mendampingi Gus Kahar kala mengisi pengajian dan diminta untuk menulis materi tentang tasawuf yang akan disampaikan.
 

“Saat tidak bersama, beliau selalu mencari saya. Kadang saat duduk saya jauh dari beliau, saya dipanggil untuk menulis buah pemikirannya,” urainya.​​​​​​​
 

Rubaidi juga selalu diminta menulis oleh Gus Mursidin tentang pemikiran-pemikirannya. Bahkan Rubaidi diajari secara langsung untuk praktik hidup ala tasawuf.
 

"Itu pun sebenarnya sejak Gus Kahar, saya sudah diajari hidup ala tasawuf. Jadi secara singkat, ini yang membedakan tasawuf dengan ilmu yang lain. Jadi tasawuf itu disiplin ilmu yang berbasis pada praktik. Berbeda dengan ilmu lain, yang melulu hanya pada membaca dan menulis,” ungkapnya.
 

Rubaidi berpesan kepada generasi muda bahwa hidup mempunyai panduan nilai-nilai agama. Dan nilai-nilai agama tersebut haruslah dipraktikkan. Tidak hanya sekedar dibaca dan ditulis, tetapi dipraktikkan.

  

Untuk dapat mempraktikkan nilai-nilai agama dibutuhkan adanya guru. Guru di sini maksudnya adalah guru sejati yang hanya ada di tasawuf.
 

“Oleh karena itu tasawuf seharusnya dipraktikkan siapa saja. Apakah orang tua, muda, remaja. Ini yang dibutuhkan dalam kehidupan kontemporer,” pungkasnya.


Editor:

Metropolis Terbaru