• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Nahdlatul Ulama dan Tradisi Jurnalistik

Nahdlatul Ulama dan Tradisi Jurnalistik
Contoh Majalah Berita Nahdlatoel Oelama. (Foto: NOJ/NUO)
Contoh Majalah Berita Nahdlatoel Oelama. (Foto: NOJ/NUO)

Madrasah Shaulatiyah, Makkah, pada suatu siang, di tahun 1934. Zulkifli, seorang pelajar, menerima kiriman Majalah Berita Nahdlatoel Oelama dari Indonesia. Sebagaimana biasanya, adik KH Zubair (Salatiga, kelak menjadi Rektor Pertama IAIN Walisongo) ini membacanya dengan antusias bersama kawan-kawannya sesama orang Indonesia.

 

Tak disangka, gurunya tahu lalu memaksa mengambil majalah tersebut, merobek-robeknya dan membuangnya ke arah jendela di lantai tiga lembaga pendidikan tersebut. Peristiwa ini membuat para siswa sewot. Namun yang lebih membuat muntab mereka adalah kalimat penghinaan yang dilontarkan guru tersebut: “Kalian orang-orang Jawa [Indonesia] adalah bangsa yang berbudi rendah!”

 

Kejadian di siang hari itu benar-benar menyakiti hati para pelajar. Mereka dengan kompak mogok belajar. Kegiatan di madrasah pun lumpuh. Sebab, 95 persen siswa di Shaulatiyah berasal dari Indonesia. Demikian juga sebagian pengajarnya. Karena sudah terlanjur sakit hati, maka aksi ini berlanjut dengan tindakan yang tak kalah mencengangkan: para pengajar asal Indonesia memutuskan mendirikan sebuah madrasah sendiri.

 

Para orang tua siswa menghimpun dana, dibantu oleh para ‘syekh haji Indonesia’ yang ada di Makkah. Syekh Abdul Manan ditunjuk sebagai penggerak proyek pendidikan ini. Hingga pada akhirnya, rencana ini berhasil diwujudkan. Lokasinya ada di Suq al-Layl. Gedungnya disediakan oleh Syekh Ya’qub, yang berasal dari Perak, Malaysia.

 

Lembaga gres ini diberi nama Madrasah Darul Ulum, siswanya merupakan pindahan dari Shaulatiyah, dan Sayyid Muhsin al-Musawa, seorang ulama muda kelahiran Palembang yang cakap ilmunya, disepakati menjadi pimpinan.

 

Sejak saat itu, Darul Ulum mulai menapak jejaknya sebagai salah satu lembaga pendidikan yang berpengaruh di Makkah, khususnya bagi para pelajar dari kawasan Nusantara. Selain Syekh Muhsin al-Musawa, ada juga Syekh Yasin bin Isa al-Fadani, ulama keturunan Indonesia, yang punya reputasi jempolan di bidang hadits. Syekh Yasin ini memimpin Darul Ulum sampai beliau wafat, 20 Juli 1990.

 

Kejadian di atas ditulis dengan detail oleh H Abubakar Atjeh dalam biografi KH A Wahid Hasyim, ‘Sedjarah Hidup KH A Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar’ (1957: 90). Sebuah peristiwa yang membuka kotak pandora pasang surut hubungan antara ulama Nusantara dengan India.

 

Bukan kejadian di atas yang hendak saya komentari, melainkan bacaan para santri madrasah tersebut. Ya, Majalah Berita Nahdlatoel Oelama. Melalui kejadian di atas kita paham jika di era lawas tersebut, majalah berbahasa Melayu yang digawangi oleh KH Mahfudz Shiddiq dan KH A Wahab Chasbullah ini bukan hanya dibaca Nahdliyyin di dalam negeri, melainkan di Mekkah, pusat inkubator ulama Nusantara. Sebuah revolusi kecil berawal dari insiden perobekan majalah.

 

Selain Berita Nahdlatoel Olama, NU juga punya Majalah Soeara Nahdlatoel Oelama (Arab Pegon berbahasa Jawa, terbit awal 1927), Majalah Oetoesan Nahdlatoel Oelama (berbahasa Melayu, menggunakan aksara latin), dan Soeloeh NO (1940). Hal ini membuktikan apabila di era pergerakan, kaum santri tidak mau kalah dalam urusan pers.

 

Tidak ada yang tahu kapan persisnya Berita NO lahir. Salah satu edisi paling sepuh yang masih tersimpan di perpustakaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan juga Arsip Nasional adalah edisi nomor 6 tahun pertama, bulan Jumadits Tsani 1346 H.

 

Apabila mengacu pada nomor tersebut, bisa dipastikan edisi perdana terbit pada Muharam 1346 H atau sekitar Juli 1927 M. Sekira empat bulan sebelum muktamar kedua NU atau setahun lebih 4 bulan setelah berdirinya NU, 31 Januari 1926. Keren!

 

Selain KH A Wahab Chasbullah, di kemudian hari KH Muhammad Ilyas, KH Abdullah Ubaid, KH A Wahid Hasyim dan KH Mahfudz Siddiq menjadi penggerak majalah ini. Nama terakhir bahkan juga menjadi tukang tombok sekaligus penulis kolom, andai kata tidak ada tulisan yang masuk.

 

KH Saifuddin Zuhri, dalam memoarnya, ‘Guruku Orang-orang dari Pesantren’ (1974: 89) menyatakan kekagumannya pada KH Mahfudz Siddiq, ulama muda yang menjadi Pemimpin Redaksi Berita Nahdlatoel Oelama. ‘Tulisan tulisannya itu melukiskan betapa jauh pandangannya ke depan serta betapa luas pengetahuannya. Ditulis dengan gaya populer ilmiah dan dalam susunan bahasa yang bagus sekali. Dibentangkannya, misalnya, tentang bagaimana kedudukan kita di tengah-tengah kancah perjuangan, ke mana jalan yang hendak kita tuju, manfaat apa yang bakal kita capai, tetapi juga risiko apa yang akan kita hadapi diuraikan secara jelas mantap dan sangat mengesankan.’ Demikian urai Kiai Saifuddin Zuhri.

 

Majalah ini pula yang disebut oleh Kiai Saifuddin Zuhri memberikan wawasan wawasan politik dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya, tatkala Belanda diserbu oleh Jerman pada 1939, ulama yang ada di pelosok Purbalingga bernama Kiai Hisyam dan Kiai Iskandar mendapatkan informasi ini ini dari Berita NO yang di dalamnya juga menjelaskan sikap Hoofbestuur NU atas peristiwa tersebut (1974: 142).

 

Kiai Saifuddin Zuhri memang memiliki kesan mendalam terhadap majalah ini. Selain karena sering menulis artikel di dalamnya hingga KH A Wahid Hasyim mengajaknya bergabung, dia juga melihat apabila majalah ini bisa menjadi alternatif bacaan warga NU, khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Saat itu, setiap ideologi memiliki corong propagandanya dan terafiliasi dengan kelompoknya sendiri-sendiri. Misalnya, ‘Mustika’ yang dikelola jaringan HOS Tjokroaminoto, ‘Pikiran Rakjat’ yang dipandegani Soekarno dan Gatot Mangkuprojo. Juga Sin Po dan Matahari, dua koran Melayu-Tionghoa, serta ‘Pemandangan’ yang tak kalah populer. Harian politik radikal ‘Indonesia Berjoang’ yang tidak diketahui siapa redakturnya juga beredar.

 

Berita NO juga menjadi corong propaganda yang efektif atas kebijakan organisasi serta tanding wacana dengan kubu lain. Kiai Saifuddin Zuhri, dalam memoar lainnya, ‘Berangkat dari Pesantren’ (2012: 141), menyebut apabila Kiai Mahfudz Siddiq menjawab tulisan Soekarno yang kontroversial di Majalah Pandji Islam berjudul ‘Islam Sontoloyo’. Berita NO juga bereaksi atas tulisan Soekarno lainnya, ‘Memudahkan Syariat Islam’. Hanya saja, tulisan bantahan dari redaksi tidak tendensius dan berisi fitnah. Isinya bantahan dan juga kritikan yang disampaikan dengan elegan.

 

Di lain waktu, Berita NO juga membela amaliah Nahdliyin yang dituduh syirik, sesat, dan sebagainya. Misalnya Berita NO tahun 1940 an membela Majalah Al-Mizan milik Perti, mengenai tuduhan Buya Hamka soal tarekat. Atau klarifikasi lainnya: benarkah tahlilan njiplak budaya Hindu? Apakah berziarah kubur sama dengan menyembah kubur? Dan sebagainya.

 

Bagi saya, majalah ini menjadi pengawet kabar yang efektif puluhan tahun silam. Misalnya, dalam Berita NO November 1936, saya bisa mengecek nama-nama kiai yang terlibat dalam pendirian NU Central Kring (saat ini setara dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama/MWCNU) di daerah kecamatan Jombang, Kabupaten Jember. Hal ini menjadi sumber data yang otentik sekaligus membuktikan kerapian arsip zaman itu. Wallahu a'lam bishshawab 

 

Bersambung.....

 

Rijal Mumazziq Z adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember dan mahasiswa program doktor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 


Editor:

Opini Terbaru