• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 22 April 2024

Opini

Pesantren dan Korelasinya dengan Kekuasaan Islam Jawa

Pesantren dan Korelasinya dengan Kekuasaan Islam Jawa
Ilustrasi santri di pondok pesantren. (Foto: NOJ/ Ist)
Ilustrasi santri di pondok pesantren. (Foto: NOJ/ Ist)

Oleh: Muhammad Ulil Albab *)

 

Pesantren atau yang lebih kita kenal dengan pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia, terutama Jawa, yang sudah terbukti kontribusinya dalam transmisi keilmuan dan pengajaran Islam kepada masyarakat. Pesantren menjadi lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, kemunculannya beriringan dengan masuknya Islam dan penyebaran Islam di tanah Jawa.

 

Menurut berbagai literatur sejarah, pesantren pertama di tanah Jawa adalah Pesantren Ampel Denta yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) di Surabaya sekitar pertengahan abad 15. Dari pesantren inilah muncul kader-kader ulama yang akhirnya berhasil mendirikan beberapa pesantren di tanah Jawa.

 

Salah satu pesantren tersebut adalah Pesantren Glagah Arum yang didirikan oleh Raden Fatah atas arahan dari Sunan Ampel. Pesantren ini terletak di Desa Glagah Arum (sebelah selatan Jepara). Desa ini akhirnya berkembang menjadi sebuah kadipaten dengan nama Bintoro dan kemudian menjadi kerajaan Islam pertama di Jawa dengan nama Kerajaan Demak Bintoro. Lewat kekuasaan Kerajaan Demak inilah pesantren semakin dikembangkan di beberapa daerah dan menjadi pusat penyebaran dan pengajaran agama Islam.

 

Pada era Kerajaan Mataram Islam, penguatan pesantren terus dilakukan, terutama di era kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645 M). Pada era kepemimpinannya, Sultan Agung memerintahkan agar di setiap pusat kadipaten (kabupaten) dibangun sebuah masjid gede atau sekarang kita kenal dengan nama Masjid Agung. Begitu pula di setiap kecamatan atau yang kita kenal sekarang dengan nama masjid besar.

 

Sultan Agung juga memerintahkan untuk setiap desa dibangun sebuah pesantren dengan menempatkan kiai sepuh atau dikenal dengan modin (pak kaum) sebagai pengasuhnya. Dari pesantren di tiap desa inilah Islam semakin tersebar luas dan menjadi agama mayoritas rakyat Jawa.

 

Setelah era Sultan Agung, penjajah yang berkedok kelompok dagang dengan nama VOC masuk ke tanah Jawa. Pada era itu pesantren bukan hanya memosisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran Islam, namun juga ikut berkontribusi dalam perjuangan melawan penjajah, yang saat itu melakukan kelaliman dan penindasan terhadap rakyat. Puncaknya yaitu ketika terjadi perang dahsyat yang masyhur kita kenal dengan nama perang Jawa (1825- 1830 M), yaitu perang yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, seorang Pangeran dari kesultanan Yogya (bagian dari Kerajaan Mataram Islam).

 

Para pimpinan dan elemen pesantren pada saat itu bersatu bahu-membahu dan ikut serta menjadi punggawa-punggawa Pangeran Diponegoro. Walaupun pada akhirnya Pangeran Diponegoro harus diasingkan ke luar Jawa, namun para pasukannya tetap berada pada satu barisan melawan penjajah.

 

Setelah terjadinya perang Jawa, para pasukan Pangeran Diponegoro, termasuk para ulamanya kembali lagi ke daerah masing-masing. Banyak dari mereka yang akhirnya mendirikan pesantren yang pada saatnya nanti di samping menjadi tempat menimba ilmu agama, juga menjadi tempat pengkaderan para pejuang yang siap melawan para penjajah yang sewenang-wenang.

 

Biasanya di setiap halaman pesantren tersebut selalu ditanami pohon sawo, hal itu memberi suatu simbol dengan mengambil filosofi dari sebuah kalimat sakral yang diucapkan ketika akan dilaksanakan shalat berjamaah di masjid atau mushala, yaitu "Shawwu shufufakum fainna tashwiyatas shufuf min tamamis shalat". Hal tersebut seakan ingin mengatakan bahwa adanya pohon sawo di setiap pesantren menunjukkan bahwa pasukan Pangeran Diponegoro masih ada (eksis) dan akan selalu merapatkan barisan dalam melawan dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Dari pesantren-pesantren inilah nantinya akan bermunculan pesantren-pesantren induk di tanah Jawa.

 

Pesantren induk merupakan pesantren yang menjadi pusat dan rujukan keilmuan serta banyak menghasilkan alumni-alumni yang berhasil mendirikan pesantren di daerahnya sebagai kelanjutan dari proses transmisi keilmuan dan pengembangan pendidikan yang berbasis agama Islam. Di antara pesantren induk tersebut akan mengalami perkembangan yang menghasilkan tipologi pesantren yang berbeda-beda.

 

Tipologi Pesantren

Berdasarkan tipologinya, secara ringkas bisa kita kelompokkan pada tiga hal. Pertama, pesantren yang fokus pada pengajaran Al-Qur'an dan Ulumul Qur'an, di antara pionirnya yaitu Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Kedua, pesantren yang fokus pada kitab kuning dan keilmuan pendukungnya, di antara pionirnya yaitu Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Ketiga, pesantren yang fokus pada tarekat dan tasawuf, yang pionirnya yaitu Pondok Pesantren Giri Kusumo Mranggen Demak.

 

Dari berbagai pesantren induk yang ada di Jawa, bisa dikelompokkan berdasarkan abad berdirinya. Pertama, pesantren induk generasi pertama (sekitar abad 18), di antaranya yaitu, Pesantren Tegalsari Ponorogo, Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Buntet Cirebon, dan lain-lain.

 

Kedua, pesantren induk generasi kedua (sekitar abad 19), di antaranya, Pondok Tremas Pacitan, Pesantren Kademangan (Syaikhona Kholil) Bangkalan, Pesantren Tambakberas Jombang, Pesantren Sarang Rembang, Pesantren Kajen Pati, Pesantren Mranggen Demak, Pesantren Kauman Kudus, Pesantren Lasem, Pesantren Langitan, Ponpes Rejoso Jombang, dan lainnya.

 

Ketiga, yakni pesantren induk generasi ketiga (awal abad 20). Di antaranya adalah Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Denanyar Jombang, Pesantren Gontor Ponorogo, Pesantren Krapyak Yogyakarta, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Salafiyah Syafi'iyyah Situbondo, Pesantren Leteh (Kasingan) Rembang, dan yang lainnya.

 

Dari berbagai pesantren induk tersebut, kemudian bermunculan pesantren-pesantren yang dapat ditemui di sekitar daerah kita. Pertumbuhan dan perkembangan pesantren sebenarnya terdapat suatu benang merah yang saling terkait. Hal tersebut menunjukkan bahwa pesantren dari awal kemunculannya sampai sekarang selalu menjaga transmisi keilmuan dan bergerak dalam perjuangan terhadap agama, negara, dan masyarakat.

 

*) Muhammad Ulil Albab, alumni Pesantren Krapyak Yogyakarta dan Mahasiswa Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati.


Opini Terbaru