• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 14 Agustus 2022

Parlemen

Fauzan Fuadi: Hari Lahir Pancasila Tidak Cukup Hanya Diperingati

Fauzan Fuadi: Hari Lahir Pancasila Tidak Cukup Hanya Diperingati
Ketua F PKB DPRD Jawa Timur, Fauzan Fuadi. (Foto: NOJ/A Toriq)
Ketua F PKB DPRD Jawa Timur, Fauzan Fuadi. (Foto: NOJ/A Toriq)

Surabaya, NU Online Jatim

Tepat tanggal ini 1 Juni, Soekarno berpidato tentang konsep awal Pancasila di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1945 silam.  Tanggal tersebut pun Presiden Joko Wododo menetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila dan menjadikannya sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016. 


“Hari lahir Pancasila tidak cukup hanya dijadikan peringatan atau refleksi saja. Butuh implementasi nyata dalam mengamalkannya dalam kehidupan bersosial, bahkan lebih dari itu juga harus diamalkan dalam bermedia sosial,” kata Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F PKB) DPRD Jawa Timur, Fauzan Fuadi, Rabu (01/06/2022). 


Maraknya kasus pelanggaran etika dalam interaksi sosial di dunia maya telah menyita perhatian. Ia katakan, beraneka problematika terjadi di jagat digital, saling membully hingga hujat. 


“Perilaku netizen yang saling serang setiap hari menjadi pemandangan wajib pengguna media maya,” ungkapnya. 


Apalagi sekarang memasuki tahun-tahun politik di 2024, yang notabene lebih sensitif dari pada tahun-tahun biasa. Akibatnya para buzzer mengambil tempat dan memegang kendali dalam perilaku tak beretika tersebut . 


Karenanya, di hari lahir Pancasila ini menjadi momentum dalam sosialisasi peremajaan nilai filosofi yang terkandung dalam tubuh Pancasila. Apalagi rata-rata pengguna media sosial dipegang generasi milenial, yang tertafsir masih butuh pendalaman nilai-nilai tersebut. 


"Pancasila tidak cukup hanya diteriakkan, mesti harus diamalkan dengan maksimal. Dalam konteks kekinian, generasi muda kita perlu direfresh terus menerus nilai-nilai Pancasila," kata Fauzan. 


Bendahara DPW PKB Jatim ini menuturkan, perilaku dalam mengungkapkan eskpresi saat ini mengalami perubahan secara besar-besaran ke dalam sistem yang baru. Netizen cenderung mengabaikan sikap menghormati kesetaraan hak dan hukum yang dimiliki oleh masing-masing pengguna media sosial. Seharusnya hal itu tidak terjadi jika nilai Pancasila menjadi pegangan dalam bertindak sehari-hari. 


"Di era disrupsi informasi saat ini, persatuan nasional katakanlah, sebagai sila ketiga pancasila, dalam manifesto kehidupan bersosial media, cenderung  pudar," tuturnya. 


Lucunya, lanjut Fauzan, netizen malah dibuat lempeng adem ayem saat postingan tak bermutu, yang lebih mengarah kepada hal tak senonoh muncul di media sosial. Bahkan, tagar dengan tulisan pemersatu bangsa acapkali teramini dansering menjadi tranding pembahasan. 


"Netizen justru bersatu ketika merespon content yang tidak bermutu. Muncul tagar pemersatu bangsa, yang isinya jauh dari nilai edukasi," ujar politisi asal dapil Bojonegoro-Tuban ini. 


Ke depan, bagi mantan aktifis PMII ini berharap, jagat media terisi dengan konten-konten yang lebih bermutu dan berbobot. 


“Konten edukasi begitu sangat dibutuhkan, agar anak muda bangsa ini tetap berada dalam koridor berakhlakul karimah,” pungkasnya.


Editor:

Parlemen Terbaru