• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Parlemen

Khidmah NU, Modal untuk Kemajuan Bangsa

Khidmah NU, Modal untuk Kemajuan Bangsa
Bendera Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ/cb)
Bendera Nahdlatul Ulama. (Foto: NOJ/cb)

Surabaya, NU Online Jatim

Hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) pada 31 Januari kemarin menjadi momentum penting untuk menegaskan khidmatnya bagi negeri tercinta. Kontribusinya selama 95 tahun ini tidak perlu diragukan. Tidak hanya di bidang keagamaan, melainkan sudah masuk ke semua sendi kehidupan masyarakat.

 

Dari rahim NU lahirlah ribuan sekolah yang diyakini telah menyelamatkan sebagian anak usia sekolah yang tidak dapat masuk ke sekolah-sekolah negeri. Meskipun disebut sebagai organisasi tradisional, saat ini NU telah memiliki ribuan doktor dari berbagai disiplin keilmuan.

 

“Tidak heran jika kalangan professional NU ini mampu membangun 33 rumah sakit dan 150 perguruan tinggi yang menyebar di seluruh penjuru negeri,” kata Anik Maslachah, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Kamis (04/02/2021).

 

Respons positif atas kiprah NU terus bermunculan dari berbagai pihak. Bertambahnya warga NU menjadi salah satu buktinya.

 

“Survey Lingkaran Studi Indonesia (LSI) mengatakan, bahwa pada tahun 2015, jumlah warga NU mencapai 35,5 persen dari seluruh populasi warga Indonesia. Dan pada 2019, jumlah warga NU tercatat mencapai angkai 49,5 persen. Data tersebut membuktikan, bahwa ada sekitar 91,2 juta dari 260 juta jiwa penduduk Indonesia adalah warga NU,” terangnya.

 

Anik menambahkan, bahwa perkembangan NU yang sedemikian rupa menimbulkan tantangan yang juga tidak mudah. Mengelola sekian banyak jumlah warga NU bukan pekerjaan yang ringan.

 

“Tidak berhenti di situ saja, jika NU mampu memberdayakan kapasitas 91,2 juta nahdliyin dengan optimal, niscaya akan menjadi modal untuk kemajuan bangsa,” ujarnya.

 

Menurutnya, jika nahdliyin dikembangkan dengan maksimal akan dapat menunjukkan citra positif wajah umat Islam moderat pada level dunia.

 

“Diakui, paradigma Islam wasathiyah terbukti ampuh menolak paham fundamentalisme ekstrem yang dapat merusak keutuhan NKRI,” ungkapnya.

 

Politisi asal Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) DPRD Jawa Timur ini mengatakan, jika 91,2 juta jiwa nahdliyin memiliki paradigma keagamaan yang tertutup dan kontraproduktif dengan nilai-nilai kebangsaan maka akan dapat merusak citra bangsa.

 

“Radikalisme kelompok kecil saja cukup mempengaruhi kondusifitas bangsa, apalagi jika 49,5 persen warganya memiliki paradigma yang ekstrem,” pungkasnya.


Parlemen Terbaru