• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Pendidikan

Kenali Gejala Penyakit Paru Obstruktif Menurut Dokter Paru RSI Unisma

Kenali Gejala Penyakit Paru Obstruktif Menurut Dokter Paru RSI Unisma
Kenali gejala penyakit paru obstruktif menurut dokter paru RSI Unisma. (Foto: NOJ/humas)
Kenali gejala penyakit paru obstruktif menurut dokter paru RSI Unisma. (Foto: NOJ/humas)

Malang, NU Online Jatim
PPOK kepanjangan dari Penyakit Paru Obstruktif  Kronik dahulu disebut dengan Penyakit Paru Obstruktif Menahun. Penyakit ini ditandai dengan adanya perlambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Perlambatan Aliran udara umumnya bersifat progresif dan berkaitan dengan respons inflamasi yang abnormal terhadap partikel atau gas iritan.


PPOK adalah peradangan pada paru-paru yang berlangsung dalam jangka panjang. PPOK umumnya ditandai dengan kesulitan bernapas, batuk berdahak, dan mengi (bengek). PPOK merupakan penyakit yang sering terjadi pada perokok aktif dan pasif.


Seseorang dengan PPOK ringan dapat tanpa keluhan atau gejala. Hal ini berbahaya karena apabila faktor risikonya tidak dihindari maka penyakit ini akan semakin progresif. PPOK dapat menimbulkan gejala sebagai berikut seperti sesak napas, batuk-batuk kronis (batuk 2 minggu), sputum yang produktif (batuk berdahak).


Pada PPOK eksaserbasi akut terdapat gejala yang bertambah parah seperti bertambahnya sesak napas, kadang-kadang disertai mengi, bertambahnya batuk disertai meningkatnya sputum (dahak), sputum menjadi lebih purulen dan berubah warna, gejala non-spesifik: lesu, lemas, susah tidur, mudah lelah, depresi


Penyebab Penyakit PPOK
Penyakit paru obstruktif  kronis terjadi ketika saluran pernapasan dan paru-paru rusak serta mengalami peradangan. Beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit ini antara lain, kebiasaan merokok merupakan satu-satunya penyebab kausal yang terpenting, jauh lebih penting dari faktor penyebab lainnya.


Dalam pencatatan riwayat merokok perlu diperhatikan tentang, riwayat merokok, Perokok Aktif, Perokok Pasif, Bekas perokok. Bila merupakan bekas perokok harus dinilai derajat berat merokok dengan menggunakan Indeks Brinkman (IB), yaitu perkalian jumlah rata-rata batang rokok dihisap sehari dikalikan lama merokok dalam tahun: • Ringan : 0-200 • Sedang : 200-600 • Berat : >600, riwayat terpanjang polusi udara di lingkungan dan tempat kerja, hipereaktiviti bronkus, riwayat infeksi saluran napas bawah berulang,defisiensi antitripsin alfa 1, umumnya jarang terdapat di Indonesia.


Diagnosis Penyakit PPOK yakni pirometri merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur secara obyektif kapasitas/fungsi paru (ventilasi) pada pasien dengan indikasi medis. Alat yang digunakan disebut spirometer, radiologi (Rontgen Thoraks), bila eksaserbasi akut: analisis gas darah, DPL, Sputum gram, Kultur MOR.


Prinsip terapi PPOK meliputi edukasi dan motivasi untuk berhenti merokok, farmakoterapi: bronkodilator, steroid, mukolitik, antioksidan, terapi non-farmakologis, rehabilitas: latihan fisik, latihan pernapasan, terapi oksigen jangka panjang (15 jam sehari) pada PPOK Stadium III, nutrisi, dan pembedahan pada PPOK berat.


Pendidikan Terbaru