• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 7 Oktober 2022

Pustaka

Peradaban Sarung; Menakar Eksistensi Pesantren dan Santri

Peradaban Sarung; Menakar Eksistensi Pesantren dan Santri
Buku 'Peradaban Sarung; Veni, Vidi, Santri' karya Ach Dhofir Zuhry. (Foto: NOJ/ ISt)
Buku 'Peradaban Sarung; Veni, Vidi, Santri' karya Ach Dhofir Zuhry. (Foto: NOJ/ ISt)

Nadirsyah Hosen, intelektual muda NU yang diamanahi Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia memberi pengantar buku ‘Peradaban Sarung, Veni, Vidi, Santri’ karya Ach Dhofir Zuhry.  Menurut Gus Nadir, yang menarik adalah pandangan penulis yang mengatakan pesantren adalah matahari dalam sistem tata surya kehidupan dan keindonesiaan. Bahwa, dalam jagat galaksi kehidupan yang sangat luas ini terdapat banyak sekali ragam matahari, hal itu membuat matahari bernama pesantren seakan redup dan padam. 

 

Dalam bukunya, alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo itu menuliskan seputar peradaban pesantren yang sudah barang tentu meliputi kiai dan santri. Khazanah pesantren adalah cakrawala tak berujung, laut tak bertepi, sumur tanpa dasar yang takkan pernah habis dikaji dan diarungi, khususnya di nusantara ini. Sementara Kiai memiliki kedudukan khusus sebagai ‘elite’ di tengah-tengah masyarakat, yang dalam fungsinya sebagai penerus para Nabi.

 

Ach Dhofir Zuhry yang merupakan Pendiri Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Al-Farabi Malang ini mengambil anak judul veni, vidi, santri. Yakni dengan mengadopsi pernyataan jenderal Julius Caesar (100-44) SM dalam orasi ilmiah di hadapan sidang senat Kerajaan Romawi pada tahun 47 SM. Redaksi aslinya adalah ‘vedi, vidi, vici’ yang artinya ‘Saya datang, saya melihat, saya menaklukkan’.

 

Santri yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya, Jakarta dalam bukunya ini membagi empat bagian. Bagian pertama dengan tema besar ‘Veni, Vidi, Santri’ mengulas tiga belas pembahasan. Bagian kedua ‘Pemimpin Orkestra’ mengulas empat belas pembahasan. Bagian ketiga ‘Cita Rasa Pesantren’ mengulas empat belas pembahasan. Bagian keempat ‘Menjadi Santri, Menjadi Indonesia’ yang mengulas dua belas pembahasan.

 

Sebagai seorang santri yang sering ‘ngembel’ di luar negeri, Ach Dhofir Zuhry sangat kreatif dalam pemilihan judul. Semisal OTW Santri, Ibarat Elang, Ada Apa dengan Sarung, Cangkir dari Pesantren, SMS Nabi Muhammad, dan Vedi, Vidi, Santri. Perpaduan pengalaman hidup di pesantren dan menghadiri seminar-seminar di luar negeri menjadikan buku ini kaya akan perspektif.

 

Menurut Ach Dhofir Zuhry, santri adalah istilah dari tradisi cantrik Hindu “shastri” dalam bahasa Sansakerta adalah orang yang mempelajari Shastra (Kitab Suci) di pe-shastri-an atau pesantren adalah gabungan dari huruf Sin, Nun, Ta’, Ra’ dan Ya’. Sin artinya Salik ilal-akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Nun maknanya Na'ib ‘anil masyayikh (penerus para guru). Ta’ maksudnya adalah Tarik ‘anil ma’ashi (meninggalkan maksiat). Ra adalah akronim dari Raghib ilal khair (selalu menghasrati kebaikan). Ya’ adalah singkatan dari Yarjus salamah (optimis terhadap keselamatan). (Hal. 5)

 

Lantas, apa pentingnya Sarung? Buku ini sebenarnya bukan tentang sarung, akan tetapi karena kultur pesantren sangat identik dengan sarung. Maka, sarungan adalah anasir yang pas untuk mewakili kaum santri. Di sisi lain, buku ini berusaha memberi jawaban dengan bertanya dan mempertanyakan kembali persoalan-persoalan iman, dan beragam gaya modern serta berbagai ancaman terhadap keutuhan Islam. (Hal. 95)

 

Kapan pesantren mulai ada di Indonesia? Sementara ini belum ada sumber yang menyebutkan secara pasti dan presesi. Namun demikian, hasil pendataan Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun 1984-1985 diperoleh informasi bahwa pesantren tertua di Indonesia adalah Pondok Jan Tanpes II di Pamekasan Madura Jawa Timur yang didirikan pada tahun 1062 M. (Hal 158)

 

Indonesia ini disujudi para Nabi, ditangisi para wali, dirapal dalam doa para petapa dalam zimat para resi dan munajat para begawan. Tak kurang dari empat juta santri di pesantren selalu menangisinya dengan doa. Namun, banyak yang terjebak gegap gempita keinginan untuk menjadi Arab, Eropa, atau Amerika. Namun santri tetap lebih memilih menjadi Indonesia dari pada memilih yang lain.

 

Editor: A Habiburrahman​​​​​​​​​​​​​​

Identitas Buku

Judul: Peradaban Sarung, Veni, Vidi, Santri
Penulis: Ach. Dhofir Zuhry
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 255 Halaman
ISBN: 978-602-04-7705-3
Peresensi: Boy Ardiansyah (Guru Madrasah & Mahasiswa Pascasarjana Institut Pesantren KH Abdul Chalim Pacet, Mojokerto).


Pustaka Terbaru