Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Menyelami Perbedaan Pesantren Salaf dan Khalaf

Menyelami Perbedaan Pesantren Salaf dan Khalaf
Buku 'Jejak Intelektual Pendidikan Islam; Generasi Salafiyah dan Khalafiyah'. (Foto: NOJ/ Firdausi)
Buku 'Jejak Intelektual Pendidikan Islam; Generasi Salafiyah dan Khalafiyah'. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Raut wajah pendidikan Islam di Indonesia tidak lepas dari pemikiran tokoh dan institusi pendidikan yang menjadi ciri khas tersendiri. Seperti adanya pesantren, madrasah, perguruan tinggi, dan lembaga lainnya.

 

Dalam buku ini, Zaitur Rahem sebagai penulis menjelaskan sejarah masuknya pendidikan Islam di Indonesia yang bermula pada abad ke-7 M. Bahasan tersebut dilakukan sebelum dijelaskan rinci tentang pesantren sebagai pusat candradimuka penggemblengan santri.

 

Islamisasi yang bersifat informatif dan dilakoni oleh para pedangang dari tanah Arab, Gurajat, India, dan China (sekedar singgah) mampu mengenalkan Islam pada warga pribumi yang mayoritas beragama Hindu dan Budha. Data empiris membuktikan, keberadaan kedua agama ini bisa diamati dari sejumlah bangunan dan kebudayaan masyarakat.

 

Menetapnya para muballigh yang menyatu dengan sistem sosial penduduk pribumi bisa menyapa dengan cara perkawinan, masuk dalam hirarkhis kekuasaan, dan membangun komunitas keagamaan. Tentu saja pendekatan yang digunakan oleh Wali Songo bersifat kultural, mekanisme sosial, dan berkolaborasi dengan para raja. Kebudayaan menjadi sentral proyek islamisasi fase kedua, sebab kelenturan budaya pribumi bisa menerima komunikasi luar, serta ajaran adiluhung yang menebar welas asih bagi semesta dinilai toleran.

 

Di fase selanjutnya, terbentuklah lembaga pendidikan Islam yang beragam dan disesuaikan dengan konteks kewilayahan. Hal tersebut karena Indonesia terkenal dengan kekayaan bahasa, dialek, dan budaya. Di aceh dikenal Meunasyah, Rangkang, Dayyah, dan masjid. Sementara Sumetera menyebut Surau dan masjid. Warga Jawa menyebutnya langgar, masjid, dan pesantren. Sedangkan Madura, Langgar/Kobung, Congkop, dan Wekap.

 

Buku ini pun berusaha menelaah tetek bengek sejarah panjang orang Madura menganggap langgar sebagai lembaga pendidikan yang paling afdhal bagi anak-anaknya. Bentuknya unik, miniaturnya segi empat sama sisi dengan ditambah tempat khusus bagi kiai yang disebut pa-imam-an yang dipasang di tengah-tengah kayu penyanggah ukuran panjang horizontal.

 

Meskipun bentuk fisiknya sederhana, langgar mampu membentuk kepribadian lulusan yang luar biasa. Jebolan langgar menjadi guru agama, pendakwah, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya. Terbukti yang belajar di langgar memiliki ketelatenan, sikap disiplin, dan sikap hormat kepada yang lebih tua. Bahkan, langgar memiliki manfaat serbaguna, di antaranya, majelis ta’lim, acara perkumpulan, pembacaan macopat, dan sejenisnya. Lewat institusi itulah, pesantren dan madrasah hadir dengan menggunakan metode Wetonan atau Bandongan, Sorogan, hafalan, dan problem solving (Bahtsul Masail).

 

Terkait pesantren, Zaitur Rahem membaginya menjadi dua bagian, yaitu pesantren yang menganut sistem salafiyah (tradisonal murni) dan sistem khalafiyah (sistem salafi-modern). Istilah salafiyah digunakan untuk mempertahankan budaya ulama-ulama masa lalu yang manajemen pengorganisasiannya bersifat sentralistik. Artinya, semua tugas menyangkut kegiatan pesantren ditangani oleh kiai/pengasuh dengan model kurikulum pesantren yang menjunjung tinggi literatur keislaman berbahasa Arab (kitab turas) sebagai sumber rujukan. Jenjang pendidikannya pun non klasikal, yakni dengan memanfaatkan potensi alam dan tanpa intervensi produk teknologi modern.

 

Berbeda khalafiyah yang menggunakan manajemen koperasi dan kurikulum nasional serta jenjang klasikal. Literatur ilmu agama dan umum jadi sumber rujukan dan diajarkan secara sepadan. Bahan, fasilitas yang dipergunakan sudah memanfaatkan teknologi atau produk modern.

 

Buku terbitan Pustaka Ilmu ini juga mengulas tentang teori BAAI, yakni Bismillah, Alhamdulillah, Astaghfirullah, dan Innalillah. Tujuannya adalah untuk menciptakan perilaku anak yang lebih baik di pesantren maupun di madrasah. Konsep ini berorientasi pada penguatan daya psikomotorik dan afektif anak.

 

Bismillah atas basmalah dalam literatur agama dianggap simpul dari ayat suci Al-Qur’an. Metode ini menginginkan segala tindakan dimulai dengan basmalah. Makna ini memotivasi anak didik sejak dini agar selalu mengingat Allah SWT dalam semua kondisi. Terkait alhamdulillah, setelah terbiasa memulai semua aktifitas dengan basmalah, maka alhamdulillah menjadi bagian kedua untuk mensyukuri semua yang diberikan. Jika hasilnya negatif, maka anak didik akan mengembalikan pada Allah.

 

Selanjutnya, astaghfirullah, yakni agar anak-anak menahan diri ketika menemukan tindakan keliru atau menyimpang dari agama. Sedangkan innalillah, merupakan lafadz yang diucapkan untuk mengembalikan segala sesuatu yang terjadi kepada Allah. Artinya anak didik merasa takut melakukan perbuatan tidak baik karena akan mendapat sanksi dari Allah.

 

Identitas Buku

Judul: Jejak Intelektual Pendidikan Islam; Generasi Salafiyah dan Khalafiyah

Penulis: Zaitur Rahem

Editor: Agus Salim Chamidi

Penerbit: Pustaka Ilmu

Tahun Terbit: Februari 2019, II

Tebal: 166 halaman

ISBN: 978-602-6835-05-5

Peresensi: Firdausi, Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Sumenep

Terkait

Pustaka Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini