Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Berkat Doa Istri, Alumni MINU Lolos Seleksi Jadi Imam Masjid di Uni Emirat Arab

Berkat Doa Istri, Alumni MINU Lolos Seleksi Jadi Imam Masjid di Uni Emirat Arab
H Muhammad Shohibul Huda bersama istri. (Foto: NOJ/Moch Miftachur Rizki)
H Muhammad Shohibul Huda bersama istri. (Foto: NOJ/Moch Miftachur Rizki)

Malang, NU Online Jatim

H Muhammad Shohibul Huda asal Lawang Kabupaten Malang merupakan satu di antara ratusan peserta yang dinyatakan lolos seleksi menjadi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA). Pria kelahiran Probolinggo 01 Agustus1984 ini meyakini berhasil lolos salah satunya karena doa sang istri.

 

Ia tercatat pernah belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Ulama (NU) Probolinggo, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri NU Probolinggo, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Paiton, dan S1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selain itu Ustad Shohib sapaan akrabnya pernah nyantri di PPTQ Riyadhus Sholihin Probolinggo sejak kelas 5 madrasah ibtidaiyyah hingga lulus aliyah.

 

Ia menceritakan, sekitar bulan September tahun 2020 lalu beredar informasi di media sosial bahwa ada pembukaan seleksi Imam di Emirat. Ketika melihat kriteria dan persyaratan yang ada, dirinya merasa belum memenuhinya.

 

“Hanya mungkin usia saja yang sudah melebihi 25 tahun. Nah, ketika itu sebenarnya saya masih kurang percaya diri wong ketika di kampung saya lebih nyaman jadi makmum,” katanya.

 

Ustad Shohib melanjutkan, setelah itu tahu-tahu istrinya menyiapkan segala berkas yang ada. Termasuk membuatkan curriculum vitae dan berkas-berkas penghargaan semasa mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur'an atau MTQ.

 

“Walhasil akhirnya kami kirim berkas pendaftarannnya beberapa jam sebelum ditutup waktu pendaftarannya,” ujar pria yang saat ini sebagai imam tarawih di Masjid Sunan Ampel Surabaya saat ditemui NU Onlne Jatim di kediamannya.

 

Ia memaparkan bahwa seleksi tahap pertamanya kala itu diikuti oleh 200 peserta dari Indonesia.

 

“Setelah itu kami dipanggil untuk mengikuti seleksi di Hotel Butik Jakarta pada Bulan Desember. Sebanyak 200 an peserta mengikuti seleksi tahap awal ini. Saat itu kami menjalani seleksi selama 3 hari dengan materi yang diuji yakni pertama seleksi tentang tahfidz, tilawah murotal, pemahaman Bahasa Arab, dan fiqih seputar perbedaan 4 madzhab yang nantinya diperlukan ketika berada di Emirat,” imbuh mantan Musyrif Ma’had Sunan Ampel Al – Aly UIN Malang tersebut.

 

Ustad Shohib mengatakan bahwa seleksi tahap duanya yang merupakan tes pamungkas ini diuji oleh 4 syekh dari Ermirat secara langsung di Jakarta.

 

“Dari 200 peserta seleksi awal maka terpilihlah 90 peserta yang lolos untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya. Seleksi tahap dua ini dilaksanakan kalau tidak salah pada tangal 15 Maret 2021. Kalau kali ini kami diuji oleh 4 syech dari Emirat secara langsung,” ucapnya.

 

“Alhamdulillah kami dinyatakan lolos menjadi Imam di Emirat bersama 26 hafidz lainnya dari Indonesia. Menurut edaran kami akan berangkat Juni nanti setelah segala persyaratan selesai,” jelas salah satu mushahih Al-Qur’an di UIN Malang tersebut.

 

Ustadz Shohib mengatakan, sebelumnya istrinya sempat memiliki keinginan supaya dirinya bisa menjadi imam di Masjidil Haram. Bahkan, ia didoakan oleh sang istri supaya menjadi imam di Masjidil Haram.

 

“Mungkin sedikit kenangan saya ketika umrah dan haji dulu ketika saya ngimami jamaah di Masjidil Haram. Selepas itu istri tiba-tiba bilang ‘mas aku kok angen-angen sampean jadi imam di sini ya suatu saat.’ Mungkin saat ini adalah jawaban dari doa istri ketika itu,” ungkapnya.

 

 

Rencananya, ia akan berangkat ke UEA bersama keluarganya. “Insyaallah nanti akan berangkat ke UEA bersama keluarga,” ujarnya.

 

Editor: Romza

F1 Promosi Iklan