Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Kisah Sarat Haru Meninggalnya Istri Salihah

Kisah Sarat Haru Meninggalnya Istri Salihah
Prof Aswadi (memakai batik) menceritakan kisah jelang kewafatan sang istri. (Foto: NOJ/Ist)
Prof Aswadi (memakai batik) menceritakan kisah jelang kewafatan sang istri. (Foto: NOJ/Ist)

Suatu ketika, Aisyah RA bercerita bahwa Rasulullah SAW pernah kembali dari Baqi’ (makam di Madinah). Ketika itu Nabi menemui yang saat itu sedang sakit kepala. Aisyah mengeluh: Duh kepalaku. Beliau bersabda: Saya juga Aisyah, duh kepalaku. Kemudian Nabi menyatakan:

 

«مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، وَصَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ»

 

Artinya: Tidak jadi masalah bagimu, jika kamu mati sebelum aku. Aku yang akan mengurusi jenazahmu, aku mandikan kamu, aku kafani, aku shalati, dan aku makamkan kamu. (HR Ibn Majah 1465).

 

Hadits di atas merupakan dalil bolehnya seorang suami atau istri memandikan jenazah pasangannya. Dan hadits tersebut kemudian diaplikasikan secara nyata dalam berbagai kisah inspiratif. Di antaranya adalah saat Ruqayyah, putri Rasulullah wafat dan dimandikan oleh suaminya, yaitu Utsman bin Affan RA.

 

Rasulullah SAW yang saat itu baru sampai di Madinah setelah perang Badar, mendapati bahwa Ruqayyah sudah dikuburkan. Setelah mendengar kabar puterinya sudah meninggal dan dikuburkan, Nabi bersabda:

 

الحمد لله دفن البنا ت من المكرما ت

 

Artinya: Segala puji bagi Allah, mengubur anak perempuan ini termasuk perbuatan mulia.

 

Hadits ini berarti, mengubur orang perempuan yang telah meninggal adalah suatu perbuatan mulia dan terpuji. Sehingga tindakan sahabat Utsman yang mengubur Ruqayyah sekalipun belum mendapat izin dari ayahnya merupakan perbuatan yang baik dan lebih utama sehingga Nabi memujinya.

 

Kisah penuh haru nan inspiratif tentang kepergian seorang istri yang dikuburkan suami, juga yang terjadi saat istri H Aswadi, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Hj Masluhah wafat.

 

“Dini hari sebelum istri saya wafat, yaitu sekitar jam 3 pagi, saya bangunkan beliau. Karena susah dibangunkan, saya sampai adzan di sebelah telinganya. Dua kali saya adzan, beliau lantas bangun. Kemudian kami ajak untuk laksanakan shalat malam, langsung saya antar ke RSI Mabaarrat MWCNU Bungah. Di sinilah shalat Subuh kami laksanakan,” kisah Prof Aswadi.

 

“Sambil menunggu dokter, saya mengajak istri melakukan thawaf rohani di rumah sakit (RSI Mabarrat MWCNU Bungah). Kami berkeliling tujuh kali dengan membayangkan bahwa saat itu kami sedang mengelilingi Ka’bah baitullah. Thawaf rohani tersebut, kami lakukan berdua. Saya pun membimbing istri saya untuk terus mengucapkan: Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.

 

Kemudian setelah dokter datang, dilakukan pemeriksaan dan hasilnyapun menghendaki untuk dirujuk ke rumah sakit yang memungkinkan untuk merawatnya.

 

Dalam beberapa waktu dari hasil koordinasi dengan beberapa teman dan kolega, maka RSI Ahmad Yani Surabaya menjadi tempat rujukan utamanya.

 

Setelah beberapa waktu, keduanya pun berpisah karena istri harus dirawat tanpa bisa didampingi. Dan Allah SWT mentakdirkan pasangan ini ternyata benar-benar berpisah setelah shalat Dluhur siang harinya dan menunggu beberapa waktu sambil mendoakan istri dan pasien lainnya di ruang Jeddah RSI Ahmad Yani Sby.

 

“Setelah mendapat penjelasan dari dokter tentang kondisi istri saya, sambil menyampaikan permohonan maaf dan menyampaikan pesan bahwa beliau wafat, tepat sebelum adzan Ashar. Posisi istri saya seperti sedang tertidur. Tidak ada warna biru ataupun hal lainnya yang biasa terlihat pada jenazah. Bahkan saat saya menyentuh tangannya, terasa hangat. Tapi memang sudah wafat. Saya berpikir, bahwa saat itu, kami sedang berkomunikasi secara rohani. Sehingga saya merasakan bahwa kami masih bisa saling berkomunikasi.”

 

“Saat melihat jenazahnya, saya seakan melihatnya sedang menatap saya. Kemudian saya meminta dokter agar mengizinkan untuk memandikan dan mengkafani istri. Saya lantas mengatur posisi tangannya. Namun beberapa kali tangan istri terlepas, hingga saya berkata: Dik, tangan pean harus seperti shalat, bergandengan bagaikan mengikat dua kalimah syahadat. Kemudian tangannya pun bisa saya atur. Dan saya melakukan prosesi shalat dan pemakamannya setelah shalat Isya di tempat kelahirannya persis berdampingan dengan bapak dan ibunya.

 

Kisah yang disampaikan oleh Prof Aswadi tersebut terasa mengharukan dan menunjukkan sebuah kepergian istri salihah yang sangat indah. Kepergian yang tentu menjadi impian kita semua. Sebuah husnul khatimah. Terlebih, sebelum wafat beliau telah menunaikan shalat tepat waktu, bahkan menunaikan tawaf rohani dengan ucapan yang sangat disukai Allah SWT.

 

Dalam sebuah hadits dijelaskan:

 

عَنْ سَمْرَةَابْنِ جُنْدُبِ رَضِىَ اللّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّه عَلَيْهِ وَسَلَمَ : اَحَبَّ الْكَلَامِ اِلَى اللّهِ ارْبَعٌ سُبْحَانَ اللّه وَالحَمْدُ اللّه وَلآَاِلَهَ إلَّا اللّه وَ اللّهُ اكْبَرُ لَايَضُرُّكَ بِاَيْهِنَّ بَدَاْتَ

 

Artinya: Dari Samurah bun Jundub RA katanya: Rasullullah SAW bersabda, ucapan yang paling disukai Allah SWT ada empat, yakni subhanallah walhamdullillah walaa ilaha illallahu allahu akbar. Tidak akan membahayakannya dari mana saja ia memulainya. Di lain riwayat disebutkan bahwa ucapan ini ada dalam al-Qur’an.

 

Dan bagi kita semua, marilah mendoakan istri salihah yang telah mendahului dengan doa:

 

اللهم اغفر لها وارحمها وعافهاواعف عنها واغفر لنا ولها واجعلالجنة مثواها.

 اللهم اجعل قبرها روضة من رياض الجنة ولا تجعل قبرهاحفرة من حفر النيران.

 دوعاء اونتوك فروفسور دوكتور الشيخ الحاج اسودي شهداء.

 

Iklan promosi NU Online Jatim