Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

Menjadi Pewarta Harus Tebar Manfaat

Menjadi Pewarta Harus Tebar Manfaat
Romza, Redaktur Pelaksana NU Online Jatim saat menyerahkan SK kepada kontributor di PWNU Jatim, Sabtu (06/03/2021). (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli).
Romza, Redaktur Pelaksana NU Online Jatim saat menyerahkan SK kepada kontributor di PWNU Jatim, Sabtu (06/03/2021). (Foto: NOJ/ Madchan Jazuli).

Malang, NU Online Jatim

Menjadi seorang pencari berita atau wartawan harus menata diri dengan sebaik-baiknya. Menata niat supaya mencapai manfaat dan barokah, menata mental supaya memiliki etos kerja yang baik, serta menata pengetahuan supaya profesional.

 

Upaya ini penting terutama bagi wartawan pemula. Supaya bisa mekasimal menjadi pewarta. Seperti yang disampaikan Romza ‘Gawat’, Redaktur Pelaksana NU Online Jatim.

 

"Pertama soal mental. Kita harus meyakini diri kita sebenarnya memiliki kemampuan yang bisa seperti mereka (wartawan senior). Kemudian pengetahuan seorang wartawan itu harus kaya. Kaya wawasan di semua bidang. Baik itu olaraga, hukum, kriminal, pendidikan, sosial, kesehatan dan seterusnya," kata Romza ditemui di Gedung PWNU Jawa Timur, Sabtu (06/03/2021).

 

Menurutnya, berdasarkan pengalamannya tidak sedikit oknum yang mengaku wartawan, tetapi pengetahuannya minim tentang jurnalistik. Padahal seharusnya, untuk menjadi seorang wartawan minimal belajar dasar-dasar jurnalistik. "Setidaknya kalau ilmu jurnalistik ya mulai teknik menulis berita dan reportase," ujar pria yang pernah berkarir di tvOne wilayah Kabupaten Nganjuk tersebut.

 

Terkait wartwan pemula yang tidak percaya diri atau bahkan grogi saat bertugas, ia mengatakan sesuatu yang lumrah. Salah satu upaya menghilangkan rasa tidak percaya diri itu, lanjutnya, mempelajari materi wawancara sebelum bertemu narasumber.

 

"pelajari materinya terlebih dahulu, serta pastikan sudah paham apa yang ingin ditanyakan kepada narasumber," ungkap alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Urwatul Wutsqo tersebut.

 

Romza juga menegaskan, seorang wartawan juga harus bisa memposisikan diri dengan siapa lawan bicara. "Kalau interaksinya, menjadi wartawan itu harus mudah bergaul, mengalir dalam berinteraksi. Serta memang harus pintar dalam membangun pola komunikasi," terangnya.

 

Terkait pengalamannya menjadi wartawan di lapangan, ia pernah meliput kegiatan Presiden Joko Widodo saat peresmian Museum Islam Nusantara KH Hasyim Asy’ari di komplek Pesantren Tebuireng. Selain itu meliput kegiatan Muktamar ke-33 NU di Jombang tahun 2015.

 

Banyak cerita menarik darinya karena memang awalnya berkiprah di berbagai media mainstream. Salah satunya kisah ketika meliput ketimpangan sosial. Ia memberitakan seseorang warga yang secara ekonomi sangat membutuhkan, namun belum mendapat bantuan dari pemerintah. "Kita beritakan, akhirnya dia dapat. Akhirnya disitu menjadi sebuah kepuasan. Itu yang pernah saya alami. Setidaknya keberadaan kita melalui jalan wartawan itu bermanfaat untuk orang lain," papar mantan aktivis PMII tersebut kepada kontributor NU Online Jatim.

 

 

Ia mengingatkan, seorang wartawan tidak hanya sebatas menyampaikan informasi. Namun juga sebagai kontrol sosial, keberpihakan kepada masyarakat dan kemanusiaan.

 

"Mengawal kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Kita kritisi melalui cara-cara media sehingga akhirnya harus berpihak kepada msayarakat. Itu yang perlu dilakukan oleh wartawan pemula. Harus menjadi ghirah," pungkasnya.

 

Editor: Romza

PWNU Jatim