Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Keislaman Tokoh Khutbah Opini Nusiana Rehat Jujugan Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Imsakiyah

NU Sarana Pengabdian kepada Umat dan Mengawal Bangsa

NU Sarana Pengabdian kepada Umat dan Mengawal Bangsa
Wakil Ketua PWNU Jatim, KH A'la Basyir membuka Konfercab NU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Wakil Ketua PWNU Jatim, KH A'la Basyir membuka Konfercab NU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Salah satu visi besar Khittah NU adalah menjadi pelopor terbaik bagi umat. Bukan saja di internal warganya, melainkan terhadap seluruh umat manusia.

 

Penegasan ini disampaikan KH Abd A'la Basyir bahwa NU titipan para nabi yang diberikan kepada Syaikhana Khalil, kemudian diteruskan kepada Hadaratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari.

 

"Apa yang diberikan kita kepada NU?" tanya Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut. Hal itu disampaikan di hadapan peserta Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin, Gapura, Ahad (27/9/2020).

 

Selanjutnya, guru besar Universitas Islam Negeri Dunan Ampel Surabaya ini menceritakan bahwa almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah adalah orang kaya. Tapi ketika wafat tidak mewariskan harta kepada keluarga, melainkan seluruh harta diberikan kepada NU.

 

Dewan masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk tersebut mengutarakan bahwa NU adalah sarana pengabdian pada umat dan mengawal negara. Karenanya, para pengurus jangan sampai mudah menerima pemberian dari orang di luar NU.

 

"Jika kita menerima, maka ada beban. Ini sudah tidak murni lagi," tegasnya. Kemaslahatan umat jangan sampai dikendalikan oleh orang luar yang memberi sesuatu, lanjutnya.

 

Berikutnya, Kiai A’la melarang untuk menjadikan NU sebagai kendaraan politik praktis. Semestinya kader NU yang aktif di partai politik harus membawa visi dan misi NU.

 

"Bukan membawa NU ke permainan partai politik,” katanya.

 

Tak sampai di situ, NU mandiri bukan diajak Amerika dan China. Persaingan global tersebut jangan dihubungkan dengan NU. Karena selama ini berjalan pada garis khittah.

 

Lebih lanjut dikemukakan bahwa semestinya pandemi sudah selesai. Namun ada oknum dari kalangan masyarakat dan pemerintah yang mengambil keuntungan di balik fenomena tersebut.

 

"Patuhi protokol kesehatan dan luruskan seluruh informasi agar masyarakat tidak kebingungan," pintanya.

 

Tradisi NU adalah menjaga akhlakul karimah. Di mana setiap permasalahan apa pun selalu menjunjung tinggi kejujuran. "Jangan sampai NU kotori dengan uang. Karena itu kejahatan, dan jika demikian maka akan berdampak secara psikis kepada generasi selanjutnya,” jelasnya.

 

Dikemukakan bahwa seluruh Nahdliyin harus ikhlas dan membersihkan jiwa serta kotoran seperti halnya santri Latee. Yakni  mencintai NU dengan sepenuh hati.

 

Konfercab akhirnya dibuka secara resmi dengan membaca surat al-Fatihah.

 

Editor: Syaifullah

F1 Promosi Iklan