Home Metropolis Warta Pendidikan Malang Raya Pemerintahan Madura Parlemen Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Mitra Pustaka

Cerita Pengampunan Dosa dengan Membahagiakan Anak

Cerita Pengampunan Dosa dengan Membahagiakan Anak
Membahagiakan anak dapat menjadi penebus dosa. (Foto: NOJ/APt)
Membahagiakan anak dapat menjadi penebus dosa. (Foto: NOJ/APt)

Islam sangat menghargai upaya yang dilakukan umatnya dalam membahagiakan anak dan keluarga. Karena kafarah atau penebusan atas dosa dapat diraih dari membahagiakan anak. 


Kisah terkait pengampunan dosa ayah karena membahagiakan anaknya antara lain diceritakan Syekh M Nawawi al-Bantani dalam kitab Qami‘ut Thughyan ala Manzhumah Syu’abil Iman (Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun), halaman: 26 sebagaimana berikut:

 

Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA menceritakan bahwa suatu hari seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad SAW. Ia duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW yang sedang duduk bersama sahabat lainnya. 

 

Ia datang dengan maksud mengadukan persoalannya. 

 

 

“Ya Rasulullah. Aku telah berdosa. Aku mohon kau tebus dosaku,” kata laki-laki tersebut memohon dengan kerendahan hati. 

 

“Memang apa dosamu?” tanya Rasulullah SAW. 

 

“Aku malu mengatakannya.” 

 

“Apakah kau malu mengatakannya kepadaku. Tetapi mengapa kau tidak malu kepada Allah. Padahal Dia melihatmu. Bangun! Pergilah agar api (azab) tidak menimpa kami,” kata Rasulullah meninggi. 

 

Laki-laki itu kemudian bangkit dan meninggalkan Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Air matanya jatuh menetes. Ia pergi dengan perasaan sia-sia dan putus asa, lalu hilang dari pandangan para sahabat. 

 

Jibril AS lalu mendatangi Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ia menegur sikap Rasulullah SAW terhadap orang yang datang menyerahkan diri untuk penebusan dosa. 

 

“Wahai Muhammad Rasulullah, mengapa kau membuat laki-laki yang berdosa tadi putus asa? Padahal ia memiliki tebusan (kafarah) meski dosanya begitu banyak,” kata Jibril AS. 


“Apa kafarah yang ia miliki?” tanya Rasulullah SAW. 

 

“Laki-laki itu mempunyai anak kecil di rumah. Kalau ia pulang, anak kecil itu selalu menyambut ayahnya dengan gembira. Laki-laki itu memberikan makanan atau mainan yang membuatnya gembira. Jika anaknya gembira, maka itulah kafarah baginya,” kata Jibril AS. 

 

Wallahu a‘lam.

Terkait

Rehat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

Terkini