• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Rehat

Kisah Kitab Alfiyah Tulisan Tangan Syaikhana Kholil Bangkalan

Kisah Kitab Alfiyah Tulisan Tangan Syaikhana Kholil Bangkalan
Kitab Alfiyah tulisan tangan Syaikhana Kholil Bangkalan. (Foto: NOJ/A Salmana Z)
Kitab Alfiyah tulisan tangan Syaikhana Kholil Bangkalan. (Foto: NOJ/A Salmana Z)

Moh Rowi, Mancengan, Modung, Bangkalan merupakan salah seorang santri Syaikhana Kholil al-Bangkalani atau Kiai Kholil (1820-1923 M) yang beruntung. Dari seorang ulama kharismatik dari pulau Madura, dia mendapatkan kitab Alfiyah yang dikarang sendiri oleh sang guru.

 

Moh Rowi muda awalnya mondok di Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Kesehariannya disibukkan dengan mengaji berbagai macam kitab. Selain itu, juga sering bertapa di waktu malam. Tempat pertapaannya agak aneh karena selalu berendam di sungai yang ada di samping pondok. Yang dilakukan berdzikir terus-menerus sampai Subuh menjelang.

 

Suatu ketika di malam yang gelap dan dingin, turun ke sungai seperti biasanya, berendam sambil berdzikir tiada henti. Dalam kekhusyuannya, tiba-tiba tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi itu, bertemu dengan seseorang berpakaian putih serta berwibawa. Di atas sebuah bukit, orang itu berkata:

 

“Kalau kamu ingin alim ilmu nahwu, datanglah ke Pondok Demangan, belajarlah kepadaku!”.

 

Moh Rowi terbangun dari tidurnya, sekujur tubuhnya yang dingin kemudian terasa hangat dan gemetar. Segeralah naik ke darat dan kembali ke kamarnya di pondok. Sampai menjelang Subuh, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata karena mimpi yang baru dialaminya terus membuat berpikir apa yang harus dilakukan.

 

Setelah berpikir lama, ia akhirnya memutuskan untuk memenuhi perintah orang berwibawa itu yang dilihatnya dalam mimpi.

 

Keesokan harinya, Moh Rowi segera sowan kepada KH Ya’qub (Pengasuh Pondok Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo saat itu) dan menceritakan mimpi yang dialami.

 

Mendengar penuturan santri yang disayanginya itu, KH Ya’qub langsung memerintahkan untuk segera melaksanakan petunjuk dalam mimpi tersebut.

 

Setelah mendapatkan izin dari gurunya, Moh Rowi segera menuju ke Demangan Bangkalan, tanpa pulang dulu ke rumahnya di Mancengan Modung. Sebelum ke Pondok Demangan, dia mampir dulu ke rumah familinya yang ada di Bangkalan untuk sekadar membersihkan tubuh dan melakukan persiapan untuk berangkat menuju Pondok Demangan.

 

Setelah sampai di Pondok Demangan, Moh Rowi segera sowan kepada Syaikhana Kholil. Namun belum sempat menyampaikan tujuan untuk mondok, tiba-tiba Syaikhana Kholil langsung mengusir. Moh Rowi langsung keluar karena ketakutan yang luar biasa.

 

Tetapi dia sadar, bahwa ini adalah cara Syaikhana Kholil untuk menguji kesungguhan mengaji dalam menuntut ilmu. Keesokan harinya dia kembali sowan lagi, namun Syaikhana Kholil kembali mengusirnya, begitu seterusnya sampai beberapa hari.

 

Moh Rowi dengan sabar menerima ujian ini, sehingga dia tidak berani lagi untuk sowan. Ia bingung dan hanya bisa menunggu dan menunggu di luar komplek Pesantren Demangan.

 

Tibalah di hari keempat, Syaikhana Kholil memerintahkan salah satu santri untuk mencari Moh Rowi dan membawanya ke rumah beliau. Bukan main gembiranya dia dan segera saja langsung sowan kepada sang kiai legendaris tersebut.

 

Sesampainya di rumah, Syaikhana menanyakan maksud kedatangannya ke Pondok Demangan dan dengan penuh takzim Moh Rowi menyampaikan keinginan untuk mengaji.

 

Syaikhana Kholil kemudian berkata: “Saya menulis Kitab Alfiyah dan akan saya jual kepada kamu. Ayo tawar harganya.”

 

Tentu saja Moh Rowi gembira luar biasa, tapi dia bingung mau menawar berapa karena Syaikhana Kholil tidak menyebutkan berapa harganya.

 

Namun karena diperintah, Moh Rowi akhirnya berani mengajukan tawaran 100 uang sen.

 

“Itu terlalu mahal, turunkan lagi,” minta Syaikhana Kholil.

 

Kemudian diturunkan 20, namun ditolak, diturunkan lagi 20-20, sampai akhirnya tinggal 20 duit sen dan disetujui oleh Syaikhana Kholil.

 

Setelah mendapatkan Kitab Alfiyah tulisan tangan sang guru, Moh Rowi gembira tiada tara. Tiap waktu kitab itu selalu dibaca dan dipelajari, sampai hafal seluruh isinya.

 

Mengetahui hal tersebut, teman-teman santri berebutan untuk meminjam, sehingga kitab itu kemudian berpindah dari satu tangan santri ke tangan santri lain.

 

Hal ini ternyata diketahui oleh Syaikhana Kholil hingga suatu ketika mendatangi kamar Moh Rowi dan menanyakan tentang kitab Alfiyah tersebut. Dengan badan gemetar, Moh Rowi menyampaikan bahwa kitab itu dipinjam oleh teman santri.

 

Syaikhana Kholil marah dan menyuruh Moh Rowi segera mengambil kembali kitabnya. Setelah kitab itu diambil dari temannya, segera kitab Alfiyah itu dihaturkan kepada sang guru dan kemudian Syaikhana Kholil menulis di bagian sampul kitab itu:

 

الا يا مستعير الكتب دعني فان اعارتي للكتب عار

فمحبوبي من الدنيا كتابي فهل ابصرت محبوبا يعار

 

Ketika di kitab itu terdapat tulisan tangan oleh Syaikhona Kholil, para santri tidak ada lagi yang berani meminjamnya.

 

Setelah mengaji kepada Syaikhona Kholil dengan kitab Alfiyahnya, Moh Rowi menjadi alim ilmu nahwu, hafal seluruh isinya dari awal sampai akhir, bahkan konon juga bisa menghafal sekali pun di balik dari bagian belakang ke bagian depan, persis seperti mimpi yang dialaminya waktu bertapa berendam di sungai Panji.

 

Setelah KH Moh Rowi wafat, kitab Alfiyah tersebut diwariskan kepada putra tertuanya KH Tolhah Rowi yang juga merupakan santri Syaikhana Kholil. KH Tholhah inilah yang mendampingi Syaikhana Kholil ketika menjelang wafat.

 

Dari KH Tholhah, kitab tersebut diwariskan kepada putranya KH A Shidiq Muslim dan kini diwariskan kepada Lora Ahmad Rowi Shidiq Muslim.

 

Kitab tersebut sudah berusia 122 tahun lebih yang (terhitung dari tahun yang ditulis di bagian belakang kitab) dan kondisinya masih utuh dan tersimpan rapi di Pondok Pesantren At-Tholhawiyyah, Sumur Nangka, Modung, Bangkalan.

 

Cerita ini ditulis di media sosial, dan tentu saja sangat menarik bila dilakukan penelusuran ulang.  

 


Editor:

Rehat Terbaru