• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 23 Mei 2022

Rehat

Mahasiswa Drop Out Itu Ceramah di Hadapan Guru Besar UGM

Mahasiswa Drop Out Itu Ceramah di Hadapan Guru Besar UGM
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menjadi pembicara kunci di UGM. (Foto: NOJ/ISt)
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menjadi pembicara kunci di UGM. (Foto: NOJ/ISt)

Jumat pagi, 25 Januari 2019, sebuah anomali terjadi di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Hari itu ada perhelatan besar digelar di Balai Senat UGM, salah satu ruangan paling ‘keramat’ di kampus yang terletak di kawasan Bulak Sumur tersebut. Yaitu: Seminar Internasional bertopik “Islam Indonesia di Pentas Global: Inspirasi Damai Nusantara untuk Dunia.” 
 

Dalam acara yang sekaligus menjadi momen penting bagi Rektor UGM untuk menyampaikan nominasi Hadiah Nobel Perdamaian bagi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama tersebut, hadir sejumlah pembicara berkelas dunia termasuk mantan Presiden Timor Leste yang juga penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1996 H.E. Jose Manuel Ramos Horta. 
 

Pembicara kunci lainnya dalam acara itu adalah Ahmad Syafii Ma’arif (mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Azyumardi Azra (mantan Rektor IAIN Jakarta) dan Mark Woodward (dosen senior dari Arizona State University). Hadir juga Wakil Menteri Luar Negeri RI, Abdurrahman Mohammad Fachir. 
 

Yang menjadi anomali adalah ini: Acara tersebut mengundang seorang ‘jebolan’ UGM untuk menjadi pembicara kunci yaitu KH Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya, demikian acap dipanggil, memang tidak merampungkan studi sarjananya di departemen Sosiologi UGM. Alih-alih menyelesaikan studinya yang cemerlang dan skripsinya yang nyaris kelar, anak sulung dari KH Cholil Bisri dan keponakan dari KH Mustofa Bisri, mantan Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, justru memilih meninggalkan Tanah Air pergi ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama di sana. Anomali berikut adalah: Terjadi peristiwa ger-geran di ruangan akademik yang acap dianggap ‘sakral’ tersebut. 
 

Gus Yahya mengawali pidato kuncinya—setelah H E Ramos Horta dan Buya Syafii Ma’arif yang bergaya akademik serius—dengan menceritakan semacam anekdot. Dia menyebut Mohtar Mas’oed, mantan Dekan Fisipol UGM dan guru besar Ilmu Hubungan Internasional UGM yang juga hadir di kursi barisan depan pagi itu, pernah menyebut dirinya sebagai “orang yang bernasab baik tapi bernasib kurang baik”. 
 

Selain hebat dan dihormati, Prof Mohtar juga senang guyon dan penuh humor. Lalu Gus Yahya menyambung uraiannya dengan secara takzim menyebut Prof Mohtar Mas’oed: “Mohon izin, Pak Mohtar, saya ingin melaporkan: Selain bernasab baik, alhamdulillah sekarang saya juga bernasib lumayan baik. Jadi, mohon maaf, sekarang ini giliran mahasiswa DO (drop out) untuk berceramah di depan guru besar…” Maka ruangan berkapasitas sekitar 400 orang yang penuh sesak itu pun riuh dengan tawa. 
 

Memang pada saat itu, Gus Yahya selain menjadi Katib Aam PBNU juga berkedudukan sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Joko Widodo. Juga hadir di ruangan itu sejumlah Anggota Wantimpres termasuk Malik Fadjar (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dan Jenderal Subagyo HS (mantan KSAD). 
 

Dalam pidatonya yang menyampaikan tesis utama: “Mengapa Islam Indonesia berpotensi menjadi kekuatan strategis di panggung internasional” Gus Yahya juga menyitir sejenis parikan lucu dalam bahasa Jawa: Sor mejo ono ulone. Kalimat yang secara leksikal berarti: Ada ular di bawah kolong meja, itu kira-kira bermakna metaforis bahwa setiap perkara punya rahasia dan cara untuk menyelesaikan. 
 

Ya demikianlah, setiap orang memang punya cerita dan jurus sukses masing-masing. Seperti sang “DOHC” (drop out honoris causa—gelar 'kehormatan' yang diberikan sejumlah teman buat Gus Yahya) yang saat ini menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung. 
 

Entahlah, 'ular' jenis apa yang akan atau sedang keluar dari kolong meja Presiden Terong Gosong itu.


Editor:

Rehat Terbaru