• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 26 Juni 2022

Rehat

Melihat dari Dekat Perjuangan Santri di Pulau Terdepan Indonesia

Melihat dari Dekat Perjuangan Santri di Pulau Terdepan Indonesia
Di Pondok Assunniyah II Desa Ladan, Palmatak, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. (Foto: NOJ/Istimewa)
Di Pondok Assunniyah II Desa Ladan, Palmatak, Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau. (Foto: NOJ/Istimewa)

Keberadaan pesantren dan dakwah Islam di kawasan Pulau Jawa tentu saja demikian meriah. Kondisi tersebut semakin semarak kala memasuki hari besar agama. Aneka perayaan digelar dengan melibatkan banyak kalangan.

 

Tapi, bagaimana kondisi di kawasan pulau terdepan? Adalah Rijal Mumazziq Z berkesempatan melakukan kunjungan ke kawasan dimaksud. Tepatnya di Desa Ladan, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Catatan Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember tersebut disampaikan secara khusus kepada media ini.

 

------

 

Alhamdulillah, bersama Gus Iqbal Rodli akhirnya saya sampai di Pondok Pesantren Assunniyah II Desa Ladan Kecamatan Palmatak di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

 

Medan menuju lokasi lumayan berat. Di tengah hutan. Licin sehabis hujan. Melewati sungai kecil pula. Di sini, Ustadz Ahmad Fauzan dan istri, Ustadz M Anwaruddin, Ustadz Mahfudz Ali, diberi amanah oleh KH Achmad Sadid Jauhari mengembangkan cabang Pondok Pesantren Assunniyah Kencong Jember.

 

Pesantren ini dirintis sejak 2017, bangunan asrama mulai ada setahun berikutnya. Perpustakaan selesai dibangun tahun ini. Awalnya jumlah santri hanya tujuh. Anak-anak dari warga setempat dan pulau sekitar. Kini, jumlah santri mencapai lima puluh. Mereka dididik 5 ustadz, dan 4 ustadzah. Semua merupakan delegasi yang diutus oleh KH Sadid Jauhari.

 

Saya mengagumi orang-orang ikhlas dan tawadlu yang berjuang mendidik para santri dalam kondisi penuh keterbatasan seperti ini. Orang-orang pesantren dari Jawa yang merantau di pelosok dan kawasan terluar Indonesia.

 

Selama ini keberadaan dan perjuangan mereka jarang diekspos. Padahal perjuangan dakwah para penggerak pendidikan Islam ini membutuhkan dukungan semangat, doa dan tentu saja dana.

 

Yang lebih bikin saya sewot, ada sebagian kecil dari orang NU yang ‘cerewet’ yang selalu memuji-muji gerakan dakwah kelompok lain, tapi nyinyir menilai apabila orang NU tidak peduli dakwah di pedalaman. Padahal, banyak pesantren yang setiap tahun mengirimkan ratusan guru tugas di pulau-pulau terdepan maupun pelosok daerah.

 

Beberapa ranting maupun Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) juga tumbuh di beberapa kawasan luar Jawa. Belum lagi madrasah diniyah yang dirintis, atau pesantren yang didirikan di kawasan terdepan maupun pedalaman yang digerakkan alumni pesantren. Biasanya, kepada orang-orang yang punya gejala inferioritas begini, saya hanya bisa bilang: "Ayo, siapkan duwitmu, kuantar kau ke pondok yang didirikan santri Nahdliyyin di berbagai pelosok. Datang, bantu dana! Sebab mereka nggak butuh kritik sok tahumu. Mereka butuh dukunganmu!"

 

Semoga para guru dan santri Pondok Pesantren Assunniyah II Anambas ini senantiasa sehat dan bersemangat.

 

Editor: Syaifullah


Editor:

Rehat Terbaru