• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Tapal Kuda

Pesantren Manarul Qur’an Lumajang Arahkan Santri Giat Berbisnis

Pesantren Manarul Qur’an Lumajang Arahkan Santri Giat Berbisnis
KH Abdul Wadud Nafis Pengasuh Pondok Pesantren Manarul Qur'an. (Foto: NOJ/Syaifullah)
KH Abdul Wadud Nafis Pengasuh Pondok Pesantren Manarul Qur'an. (Foto: NOJ/Syaifullah)

Lumajang, NU Online Jatim

Seiring dengan perkembangan zaman, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia kini mulai merambah bidang lain. Beberapa pesantren di Indonesia sudah mulai mengarahkan santrinya ke sektor teknologi dan ekonomi.

 

Sebut saja Pondok Pesantren Manarul Qur’an di Lumajang. Pesantren asuhan KH Abdul Wadud Nafis ini mengajarkan santrinya untuk berwirausaha.

 

“Santri di sini punya income dari berwirausaha. Salah satu produk unggulannya adalah kripik pisang,” kata Gus Wadud, sapaan akrabnya, Ahad (19/10/2020).

 

Santri Manarul Qur’an memilih pisang sebagai salah satu produknya tidak lain karena Lumajang dikenal sebagai kota dengan penghasil pisang terbaik di Jawa Timur. Jadi, buah pisang mudah didapatkan di sekitar pesantren. Rata-rata para wali murid dan kolega pesantren juga mempunyai pisang di rumahnya.

 

“Selain itu, pisang juga mudah diolah sebagai bahan pembelajaran santri. Sehingga tidak mengganggu kewajiban belajar yang utama tapi malah bermanfaat karena menambah skill para santri,” jelas kiai yang juga dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember ini.

 

Ketika ditanya terkait alasan mengajarkan wirausaha kepada santri, menurutnya tidak semua santri yang lulus dari pesantren akan menjadi pemuka agama, akademisi, atau dosen.

 

“Kami punya pandangan bahwa santri-santri yang sudah lulus tidak harus menjadi kiai atau pemuka agama. Bisa saja mereka kelak akan menjadi pedagang, petani, atau pengusaha,” tegasnya.

 

Oleh karena itu santri di pesantren ini dilatih berwirausaha dengan membuat keripik pisang, keripik beras, ternak ayam, dan lain sebagainya. Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk membangun jiwa entrepreneur dan agar mereka memiliki skill dan pengalaman yang luas.

 

“Jadi, ketika lulus nanti bisa menerapkan skill ini untuk mengembangkan usah-usaha di kampung halaman, sehingga tidak jadi sumber masalah ketika pulang,” jelasnya.

 

KH Abdul Wadud Nafis melanjutkan, usaha yang berjalan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, omset keripik pisang (Kripang) produksi santri Manarul Qur’an sudah mencapai 5 hingga 10 juta setiap bulan. Pencapaian ini sudah cukup bagus jika dilihat dari sistem pemasaran yang belum maksimal.

 

“Karena kekurangan SDM, jadi pemasarannya hanya dari mulut ke mulut dan sistem reseller saja. Ke depannya kami ingin pemasarannya bisa lewat sosial media,” pungkasnya.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru