• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 10 Agustus 2022

Rehat

Soal Metode Hisab, Mbah Hasyim Juga Tegur Sang Menantu

Soal Metode Hisab, Mbah Hasyim Juga Tegur Sang Menantu
Suasana rukyatul hilal bagi penentuan awal Ramadhan. (Foto: NOJ/Syarofi)
Suasana rukyatul hilal bagi penentuan awal Ramadhan. (Foto: NOJ/Syarofi)

Sesuai dengan prediksi sejumlah kalangan, bahwa penentuan awal Ramadhan 1443 H atau tahun 2022 terdapat perbedaan. Kalangan yang menggunakan metode hisab telah menyatakan bahwa awal Ramadhan jatuh pada Sabtu (02/04/2022). Namun dalam kenyataannya, golongan yang melakukan rukyat ternyata tidak berhasil melihat hilal. Dengan demikian awal Ramadhan tahun ini menurut mereka adalah Ahad (03/04/2022). 


Terkait hal ini, ada baiknya membuka lembaran sejarah dan belajar dari kisah para pendahulu. Bahwa di lingkungan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), banyak sekali ahli ilmu falak (astronomi). Memang biasanya seorang kiai tidak hanya menguasai satu ilmu, tapi lebih, biasanya seorang generalis. Tidak sedikit ulama yang ahli ketabiban, falak, dan kanuragan, bahkan itu menjadi tradisi ulama pesantren. 


KH Maksum Ali, Jombang, seorang ahli falak yang juga menulis kitab tentang falak. Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi/melihat hilal)-nya sendiri. 


Pada suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kiai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu. Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadratussyeikh KH M Hasyim Asy’ari kaget. Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur, 


“Hei, bagaimana kau ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?” 


Mendapat teguran dari mertuanya itu Kiai Maksum segera menjawab dengan tawadlu (hormat).


“Ya, Kiai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya.” 


“Soal keyakinan, ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” gugat Kiai Hasyim, pendiri NU tersebut. 


“Tetapi bukankah pengetahuan ini harus diikhbarkan (diwartakan), Romo?” tanya Kiai Maksum.


“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri, dan nabuh bedug itu artinya sudah mengajak, mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Kiai Hasyim. 


“Inggih (iya) Romo,” jawab Kiai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.

 


Dengan demikian, mari bijak dalam melihat perbedaan dengan memastikan persatuan dan kebersamaan tetap dijaga.


Editor:

Rehat Terbaru