• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 6 Desember 2022

Tapal Kuda

Cerita Karomah Kiai Sayyidul Anam, Pengamal Wirid Wali Kutuban

Cerita Karomah Kiai Sayyidul Anam, Pengamal Wirid Wali Kutuban
KH Abdul Matin Djawahir saat memberikan ijazah Wirid Wali Kutuban kepada ribuan kader penggerak NU Jember. (Foto: NOJ/Mohammad Haris)
KH Abdul Matin Djawahir saat memberikan ijazah Wirid Wali Kutuban kepada ribuan kader penggerak NU Jember. (Foto: NOJ/Mohammad Haris)

Jember, NU Online Jatim

KH Abdul Matin Djawahir mengijazahkan Wirid Wali Kutuban dalam acara Apel Kader penggerak NU Kabupaten Jember, Ahad (30/01/2022) malam. Wirid ini diterima langsung Kiai Djawahir dari gurunya, KH Sayyidul Anam, yang dikenal memiliki karomah.

 

Dihadiri lebih dari 2000 kader, apel ini merupakan kegiatan semarak harlah NU yang dilaksanakan oleh PCNU setempat. Kiai Djawahir merupakan salah satu kiai sepuh Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Jombang, dan merupakan santri asli dari KH Sayyidul Anam, shahibul wirid Wali Kutuban.

 

"Wirid ini saya dapat langsung dari shahibul wirid, saya sangat tahu beliaunya dan saya tahu kalau wirid ini salah satu dari amalan beliau, karena saya merupakan santrinya dari kecil hingga besar yang selalu mengikuti langkah beliau, " jelasnya.

 

Kiai Djawahir menceritakan, salah satu karomah Kiai Sayyidul Anam adalah selalu naik haji dengan jalan yang tidak bisa masuk akal. “Tanggal 8 Dzulhijjah mesti beliau minta diantar ke suatu langgar di tengah kuburan, dan kalau sudah tanggal 15 Dzulhijah disuruh dijemput. Orang di sana mengatakan bahwa beliau sedang naik haji," cerita Kiai Djawahir.

 

Dia juga menceritakan bahwa Kiai Sayidul selama hidupnya sering tirakat. Dia cuma makan daun pohong atau ketela yang dimasak, dan lauknya adalah tempe yang didiamkan hingga tjuh  hari hingga basi. "Beliau setiap hari selalu berpuasa sejak kecil hingga  wafat," jelas Kiai Djawahir.

 

"Makan pun beliau tidak menggunakan piring, namun menggunakan batok kelapa, bantal beliau juga batok kelapa, dan ahamdulillah bantal batok, baju satu, dan gelasnya beliau dulu masih saya simpan hingga sekarang," tuturnya.

 

Adapun manfaat wiridan ini yaitu, yang pertama, agar negara kita, daerah kita, keluarga kita, dan diri kita diberikan aman, yang kedua tolak bala dan yang ketiga untuk hajat apa saja. "Tapi kalau kita bicara hakikat dari wirid ini, sudah jangan tanya untuk apa, tapi untuk apa saja," ungkap kiai asal Jombang tersebut.


Tapal Kuda Terbaru