• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 8 Juli 2022

Tapal Kuda

Hari Ibu, Ketua Muslimat NU Lumajang: Jadilah Surga untuk Anak

Hari Ibu, Ketua Muslimat NU Lumajang: Jadilah Surga untuk Anak
Tutuk Fajriatul Mustofiah, Ketua PC Muslimat NU Lumajang. (Foto: NOJ/ Imam Malik Hakim).
Tutuk Fajriatul Mustofiah, Ketua PC Muslimat NU Lumajang. (Foto: NOJ/ Imam Malik Hakim).

Lumajang, NU Online Jatim                                

Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember adalah momen paling spesial bagi perempuan. Pada momentum ini menjadi pengingat bagi seorang anak atas jasa ibunya selama ini. Sekaligus diharapkan menjadi hari penting bagi seorang ibu terhadap anaknya.
 

Momen Hari dinilai penting untuk diperingati. Sebab tanpa adanya sosok ibu, seseorang tidak bisa lahir ke dunia.
 

“Makanya anak yang berhasil sebagai apapun, menjabat sebagai apapun masih tetep punya hutang kepada ibu. Dengan peringatan momen Hari Ibu ini semua anak harus tahu dan menghayati serta menanamkan didalam hatinya seperti apa perjuangan seorang ibu,” kata Tutuk Fajriatul Mustofiah, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Lumajang saat ditemui di Ponpes Al Maliki Sukodono, Kabupaten Lumajang, Rabu (22/12/2021).
 

Bu Tutuk menceritakan perjuangan seorang ibu saat hamil. Menurutnya, ketika seorang ibu mulai hamil keringatnya biasanya merasakan sakit kemudian lesu, tidak enak makan, mau tidur dan bangun juga tidak nyaman. Sehingga berkeringat dan terkadang keluar keringat dingin.
 

“Selama 9 bulan darahnya ibu ini dihisap oleh anak dalam kandungan. Kemudian ketika kandungan sudah membesar merupakan beban tersendiri. Sehingga kemanapun ibu pergi, kandungan selalu dibawa olehnya. Dengan momen ini sebagai anak-anak dari ibu, kita harus menghayati dan harus tahu bagaimana naluri seorang ibu,” ungkapnya.
 

Ia kemudian menyatakan bahwa ibu adalah sosok ‘Madrasatul Ula’ atau madrasah perdana bagi seorang anak. Dengan demikian, sebelum seorang anak masuk sekolah formal, maka yang mendidik dan bertangung jawab mengenai perkembangan dan pertumbuhan fisik dan naluri adalah sosok ibu.
 

“Makanya, sampai Rasulullah SAW menyampaikan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, sampai jannah ada di telapak kaki kita sebagai seorang ibu,” imbuhnya.
 

Bu Tutuk mengajak kader Muslimat NU untuk menjadi ibu sekaligus istri panutan keluarga. “Ketika kita sempat untuk berkomunikasi dengan anak-anak walau 5 menit, tapi buatlah waktu yang sebentar itu sarana komunikasi yang efektif. Sehingga anak-anak nalurinya dengan orang tua tetap terjalin dengan baik,” ujarnya.
 

 

Selain itu, ia juga mengingatkan peran ibu di keluarga. “Fungsinya ibu ini melakukan pendampingan karena figur ayah lebih banyak mencari nafkah untuk keluarga. Maka kita selaku ibu harus benar-benar mendampingi anak-anak kita sehingga kader Muslimat ini betul-betul menjadi surga bagi anak-anaknya,” tandasnya.


Editor:

Tapal Kuda Terbaru