• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 1 Oktober 2022

Tapal Kuda

Ning Widad Tegaskan Santri Harus Mampu Berpikir Kritis

Ning Widad Tegaskan Santri Harus Mampu Berpikir Kritis
Ning Widad Bariroh. (Foto: NOJ/DianaS)
Ning Widad Bariroh. (Foto: NOJ/DianaS)

Pasuruan, NU Online Jatim

Santri zaman sekarang harus bisa kritis, tapi harus disertai adab dalam menyampaikan pendapatnya. Pernyataan ini disampaikan Ning Widad Bariroh, Pengurus PW Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jatim saat menjadi narasumber dalam Talkshow yang diselenggarakan Ala NU, Senin (15/08/2022) malam.

 

Selain critical thinking atau berpikir kritis, dua hal lain yang harus diajarkan di pondok pesantren ialah creative thinking (berpikir kreatif) serta problem solving (penyelesaian masalah). Dalam pengaktualisasian ketiganya sangat dibutuhkan andil dari setiap pemimpin pesantren. Sebab, merekalah konseptor atas semua manajemen di pesantren.

 

“Pemangku pesantren punya andil yang besar untuk mengajarkan creative thinking, critical thinking, serta problem solving di pesantren. Apabila berkenan, pengajian para gus dan ning jangan sampai satu arah saja, tapi juga dengan memantik santri untuk berdiskusi agar mereka memiliki pemikiran yang terbuka,” terang Ning Widad.

 

Menurut Ning Widad, stigma yang selama ini ada di pesantren adalah santri yang kritis biasanya dianggap tidak beradab, pun sebaliknya. Zaman sekarang sebaiknya pesantren mulai mengubah stigma tersebut dan punya pemikiran yang lebih terbuka. Karena membangun dan mengasah daya nalar kritis santri dapat menjadi salah satu faktor untuk mengembangkan pesantren itu sendiri agar lebih baik.

 

“Santri boleh kritis, tapi dilisankan atau mengopinikannya harus dengan adab,” tegas Wakil Kepala Pesantren Bayt Al-Hikmah Kota Pasuruan tersebut.

 

Dalam talkshow bertajuk “Upaya Pencegahan Kasus Pelecehan Seksual di Pesantren” ini, Ning Widad mengungkapkan bahwa pesantren juga harus melek ilmu psikologi. Caranya dengan mendatangkan seseorang yang ahli di bidang tersebut untuk memberikan pembekalan pada para pengurus tentang cara menyikapi pelecehan seksual, bullying, dan problem lainnya.

 

Cara lainnya yakni dengan menghadirkan guru Bimbingan Konseling (BK) untuk menerapkan sistem konseling bagi para santri, megajarkan cara menyelesaikan masalah, dan mengembangkan karakter.

 

“Guru BK tidak harus yang ahli di bidang konseling, asalkan ia pernah ada di pesantren dan punya kepekaan yang tinggi itu bisa. Mending seperti itu daripada memasukkan yang ahli tapi dia tidak punya background pesantren. Karena mengerti dunia pesantren itu sulit,” imbuh istri Gus Muhammad Nailurrochman itu.

 

Pencegahan pelecehan seksual di pesantren, dikatakan Ning Widad, adalah dengan berani berdiri di kaki sendiri. Artinya memiliki ketegasan dan keberanian untuk mengakatakan iya apabila setuju dan tidak apabila tidak setuju. Dia juga menekankan agar tidak menormalisasi pelecehan seskual mesipun dari kasus yang terlihat sepele.

 

Dirinya juga menuturkan, pesantren harus terbuka dengan aduan atau protesan dari pihak manapun dan selalu mau berbenah.

 

“Belajar mengatakan tidak dan melaporkan pada orang yang solutif. Jangan sampai menutup-nutupi, kalau perlu dilaporkan ke pihak yang berwajib ya harus. Karena memang tugas santri adalah ta'dzim, tapi tugas guru di pesantren adalah pantas untuk dita'dzimi,” pungkasnya.


Tapal Kuda Terbaru