
KH Syafrudin bersama sejumlah kiai di Jatim memperjuangkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa. (Foto: NOJ/Syaifullah)
Syaifullah
Kontributor
Surabaya, NU Online Jatim
Berita duka meninggalnya KH Syafrudin Syarif selaku Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyisakan duka mendalam. Karena almarhum dikenal sebagai konseptor dan pejuang konsep Ahlul Halli wal Aqdi atau Ahwa yang kini digunakan dalam pemilihan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan rais di seluruh kepengurusan NU berbagai level.
Sebelum pelaksanaan Muktamar ke-32 NU di Makasaar, konsep Ahwa sudah mulai didiskusikan di internal PWNU Jatim. Dan Kiai Syafrudin adalah salah satu tokoh kuncinya, tentu bersama pengurus yang lain.
Di banyak kesempatan, selalu membincang masalah ini. Awalnya diberlakukan bagi pemilihan rais dan ketua. Namun dalam perjalanannya masih diperuntukkan bagi rais aam dan rais di sejumlah level kepengurusan NU.
“Kita ingin mengembalikan supremasi kiai dan ulama di NU,” katanya suatu ketika kepada NU Online Jatim.
Dengan sejumlah argumen, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatuddin al-Islami, Kota Probolinggo ini menegaskan bahwa tidak selayaknya kepemimpinan tertinggi di NU harus dipilih layaknya pemilihan kepala daerah; one man one vote.
“Kita ingin mengembalikan supremasi ulama. Dan untuk di NU, hal tersebut diwakili oleh sosok rais syuriyah,” katanya di sebuah acara di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang.
Karenanya, sejumlah perbaikan dalam pemberlakuan Ahwa dilakukan dari waktu ke waktu. Termasuk meyakinkan sejumlah peserta dalam ajang Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Jakarta sebelum Muktamar ke-34 NU.
“Kita melihat, banyak mudharat yang ditimbulkan akibat pemilihan langsung bagi jabatan rais aam dan rais,” katanya di hadapan peserta.
Alumnus Pesantren Lirboyo, Kota Kediri ini tidak bisa menyembunyikan kegundahannya lantaran ada kabar bahwa antara kepengurusan di salah satu Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Timur yakni antara rais dan ketua tidak berjalan seiring.
“Karena itu, kami akan terus memperjuangkan konsep Ahwa dapat diterima oleh semua peserta Konbes NU ini, meski mendapat penolakan dari sejumlah peserta,” ungkapnya.
Dalam perjalanannya, memang tidak mudah meyakinkan konsep Ahwa bisa diterima, termasuk peserta Muktamar ke-34 NU di Lampung. Namun, Kiai Syafrudin bersama kiai dan ulama dari Jawa Timur telah sepakat memperjuangkan hal ini.
Perjuangan tersebut sepertinya akan membutuhkan waktu yang demikian lama dan bisa jadi berliku. Dan sebelum semuanya dapat berjalan sesuai harapan, sang konseptor dan pejuang Ahwa ini akhirnya harus wafat. Selamat jalan, Kiai Syafrudin.
Terpopuler
1
Innalillahi, Nyai Hj Djamilah Ibunda Ning Jazil Ploso Kediri Wafat
2
Profil Nyai Hj Djamilah Hamid Baidlowi, Ibunda Ning Jazil Ploso
3
Almarhumah Nyai Hj Djamilah Dimakamkan Esok Hari di Komplek Masjid Jami Lasem
4
Innalillahi, Gus Alamuddin Dimyati Rois Wafat Usai Kecelakaan di Tol Pemalang
5
Khutbah Jumat: 5 Golongan Manusia Dikhawatirkan Meninggal Su’ul Khatimah
6
Inilah 4 Perbedaan Ibadah Haji dan Umrah, Cek Penjelasannya
Terkini
Lihat Semua