• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 Februari 2024

Jujugan

MUSKERWIL NU JATIM

Peserta Muskerwil NU Jatim Sempatkan Ziarah ke Makam Syeikh Sulukhi

Peserta Muskerwil NU Jatim Sempatkan Ziarah ke Makam Syeikh Sulukhi
Pintu utama makam Syaikh Sulukhi di desa dan Kecamatan Wilangan, Nganjuk. (Foto: NOJ/NetralNews).
Pintu utama makam Syaikh Sulukhi di desa dan Kecamatan Wilangan, Nganjuk. (Foto: NOJ/NetralNews).

Nganjuk, NU Online Jatim
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur akan menggelar Musyawarah Kerja Wilayah atau Muskerwil. Kegiatan akan berlangsung di Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Mojosari, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Nganjuk sejak Sabtu hingga Ahad (24-25/12/2022). 


Kegiatan yang akan menghadirkan sejumlah pengurus dari tingkatan PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Timur tersebut tentu akan mengundang minat banyak kalangan untuk datang. Para simpatisan yang ternyata tidak menjadi pengurus NU, dapat dipastikan turut hadir memeriahkan pertemuan. Yang diburu bukan mengikuti rapat, melainkan bisa bertemu apalagi bersalaman dengan para ulama dan kiai. 


Nah, selama berada di kota yang memiliki julukan "kota angin" tersebut, peserta dapat menyempatkan diri untuk melakukan wisata religi sekaligus melakukan tawassul kepada para ulama terdahulu. Dan salah satunya yang layak dikunjungi adalah makam Syeikh Sulukhi yang berada di kawasan Kecamatan Wilangan.


Makam Syeikh Sulukhi merupakan tempat wisata religi yang banyak dikunjungi para peziarah. Letaknya berada sekitar 16 kilometer ke barat dari alun-alun Kota Nganjuk. 


"Makam ramai dikunjungi para peziarah, apalagi setiap Kamis malam Jumat," kata Ny Damiran, istri juru kunci makam sebagaimana dilansir Koranmemo.com.


Menurut informasi warga setempat, Syeikh Sulukhi berasal dari kerajaan Demak yang diutus menyebar agama Islam. Makam ini berada di pinggir sungai, yang menurut cerita sungai tersebut digunakan untuk menghanyutkan padi yang ditaruh di dalam bambu menuju kerajaan Demak. Makam ini terbilang unik lantaran lokasinya berada di bawah akar pohon besar, dan hanya ada satu makam tanpa ada makam lain. Berbeda dengan waliyullah lain yang mayoritas terdapat banyak makam di sampingnya, misal makam Wali Songo. Untuk masalah ukuran hampir sama dengan makam kebanyakan, hanya saja bagian nisan dibungkus dengan kain kafan.


Di dalam area makam terdapat buku-buku tahlil dan Al Qur'an untuk memudahkan peziarah. Di sini tersedia juga fasilitas seperti toilet, mushala dan warung. 


"Tidak ada kontribusi untuk berziarah di makam, namun disediakan kotak amal bagi peziarah yang ingin bersedekah," imbuh Ny Damiran.


Sosok dan Kiprah Syeikh Sulukhi 

Dalam catatan portal nunganjuk.or.id, Syeikh Sulukhi bernama asli Dewo Agung Pranoto Kusumo dan merupakan ulama pribumi keturunan dari kerajaan Majapahit. Dikenal sebagai putra dari Raja Brawijaya V yaitu Dyah Ranawijaya (berkuasa 1478-1527). 


Syeikh Sulukhi mempunyai nama kecil Suryo Kusumo dan masih saudara dengan Raden Patah (Sultan Demak). Dewo Agung Pranoto Kusumo atau yang dikenal dengan nama Syeikh Sulukhi pernah menjabat sebagai Bupati Mbarat, yang sekarang bernama Kecamatan Purwodadi, salah satu kecamatan di Magetan, Jawa Timur.


Ketika pembangunan masjid Agung Demak yang merupakan tempat berkumpulnya para ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa akan dimulai, Syekh Sulukhi diberi tugas khusus. Dia bersama Temenggung Singo Lawean, Demang Sukaten, Abdul Sa’i, Yusak dan Jalal Abdulsari harus mencari perbekalan (material) guna mendukung kegiatan pembangunan Masjid Agung tersebut sekaligus berdakwah.


Dalam melaksanakan pengabdiannya menyuplai perbekalan untuk pembangunan masjid yang dibangun Kerajaan Demak tersebut, Syeikh Sulukhi menjalaninya dengan lampah suluk yang merupakan makna dari menempuh jalan untuk menuju Allah. Maka dari itu wajar saja apabila penderek (pengikut/santrinya) sering menyebutnya dengan Syeikh Sulukhi.


Seperti disebutkan di atas, bahwa sebelah sungai yang berada persis di sebelah barat makam Syeikh Sulukhi dipergunakan sebagai sarana mengirimkan perbekalan untuk dikirim ke Raja Demak. Perbekalan yang dikirim untuk pembangunan Masjid Demak itu tidak terbatas jumlahnya, hingga berlipat-lipat. Dalam bahasa Jawa disebut ”Wilangan” (tiada batas jumlah bilangannya). Dan karena kisah ini pula, akhirnya desa setempat diberi nama Wilangan.Versi lain menyebut bahwa saat Syekh Sulukhi mencari bambu di daerah itu jumlahnya demikian banyak, sehingga juga disebut Wilangan. 


Saat mendekati usia lanjut, Syeikh Sulukhi berwasiat bahwa kalau meninggal, hendaknya kebumikanlah di timur sungai. Akan tetapi sejumlah santri tidak bisa melaksanakan wasiat tersebut karena tinggal di sebelah barat sungai. 


Dan kejadian aneh terjadi beberapa hari setelah penguburan. Sungai yang sebelumnya mengalir di timur makam, akhirnya melintas di sebelah barat. Maka dengan sendirinya, makam Syeikh Sulukhi pun berada di timur sungai sesuai dengan wasiat yang telah dipesankan.


Dengan begitu, makam Syeikh Sulukhi berada di wilayah Desa Wilangan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk bukan berada di wilayah Desa Caruban Kabupaten Madiun. Karena sungai itu merupakan pembatas dua kabupaten tersebut. 


Peserta Muskerwil PWNU Jatim maupun kaum muslimin yang lain, terutama warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) dapat melakukan ziarah ke makan tersebut. Cerita singkat ini bisa menambah kecintaan sekaligus takdzim kepada almaghfurlah Syeikh Sulukhi yang telah menderma bhaktikan jiwa, raga, waktu, tenaga dan pikiran untuk penyebaran agama Islam.


Jujugan Terbaru