• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 4 Maret 2024

Rehat

MUSKERWIL NU JATIM

Tiga Alasan Pondok Mojosari Jadi Tuan Rumah Muskerwil NU Jatim

Tiga Alasan Pondok Mojosari Jadi Tuan Rumah Muskerwil NU Jatim
Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk. (Foto: NOJ/Haafidh)
Pondok Pesantren Mojosari, Nganjuk. (Foto: NOJ/Haafidh)

Nganjuk, NU Online Jatim
Kesiapan Pondok Pesantren Mojosari menjadi tuan rumah Muskerwil NU Jatim pada Sabtu-Ahad (24-25/12/2022) mendatang sudah dibahas secara matang oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk dan stakeholder setempat.

 

Adapun terdapat beberapa alasan kuat ditunjuknya Pondok Pesantren Mojosari sebagai tuan tumah pelaksanaan Muskerwil NU Jatim.

 

Pondok Pesantren Sepuh

Pondok Pesantren Mojosari merupakan salah satu pesantren salaf yang tergolong sepuh yang ada di Kabupaten Nganjuk. Berdirinya pesantren ini diprakarsai oleh KH Ali Imron pada tahun 1720, sebelum Indonesia merdeka.

 

Tercatat ribuan santri berasal dari luar daerah yang ngalap berkah dan menimba ilmu di pesantren tersebut. Kendati perkembangan zaman semakin canggih, namun peranan Pondok Pesantren Mojosari tetap eksis dan bahkan mengalami perkembangan hingga generasi ke-11 sekarang ini.

 

Asuhan KH Zainuddin, Sosok Waliyullah Alim sekaligus Unik

KH Zainudin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Mojosari, Loceret, Nganjuk. KH Zainudin dikenal sebagai Waliyullah, kegiatan beliau sehari-hari sama halnya seperti petani pada umumnya. Karamahnya tak pernah diperlihatkan, bahkan beliau lebih nampak sebagai seorang ulama syari’ah yang kokoh.

 

Kiai Zainuddin juga sangat peduli dengan lingkungan, ini dibuktikan dengan banyaknya hewan peliharaan di rumahnya, seperti sapi, kuda, kambing, bebek, ayam dan lainnya. Para kiai yang tercatat pernah nyantri kepada KH Zanudin diantaranya KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Djazuli Usman Ploso.

 

Dikisahkan, pada suatu hari para santri Mojosari bersama pengurus pondok dan tokoh-tokoh masyarakat berkumpul melakukan musyawarah untuk melaksanakan slametan dan pengajian pada akhir tahun yang biasa dilaksanakan beberapa hari baik melibatkan pondok maupun masyarakat Desa Ngepeh.

 

Peserta musyawarah bersepakat bahwa perayaan slametan harus dilakukan semeriah mungkin. Sebagian masyarakat pun mengusulkan digelar pertunjukan wayang wong, kuda lumping, pencak, ketoprak dan sebagainya. Usulan tersebut akhirnya disetujui oleh KH. Zainudin tetapi dengan syarat, kegiatan tersebut dilakukan di awal dan di luar pondok.

 

Masyarakat sekitar Mojosari merasa sangat senang atas terkabulnya permintaan mereka yang pada waktu itu mayoritas masih penganutnya masih abangan dan terkenal sebagai tempatnya maksiat.

 

Berita ini ternyata terdengar sampai KH Hasyim Asyari. Akhirnya KH Hasyim Asyari sejumlah ulama lainnya berkumpul untuk melakukan musyawarah. Mereka khawatir bahwa kegiatan tersebut akan memberikan dampak yang buruk terhadap santri. Karena dari musyawarah tersebut sama sekali tidak menemukan kesepakatan siapa saja yang akan datang menemui KH Zainudin, akhirnya KH Hasyim Asyari berniat untuk mengirimkan surat kepada KH Zainudin agar melarang santrinya menyelenggarakan kegiatan yang berbau maksiat.

 

Ketika surat itu akan dikirim, malam harinya Kiai Hasyim bermimpi shalat berjama’ah dengan banyak alim ulama di sebuah masjid. Tampak peristiwa mengherankan yakni KH Hasyim Asy’ari melihat bahwa yang menjadi imamnya adalah KH Zainudin Mojosari, sedangkan KH. Hasyim sendiri berada di shaf belakang. Atas mimpi itulah Kiai Hasyim mengurungkan niatnya mengirimkan surat tersebut karena segan dan sangat menghargai Kiai Zainudin.

 

Tempat merumuskan perlawanan kepada DI/TII

Diceritakan oleh Mustasyar PCNU Nganjuk sekaligus alumni Pondok Pesantren Mojosari, KH Qolyubi Dahlan, pada tahun 1948 Kartosoewirjo mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI) yang berafiliasi terhadap Tentara Islam Indonesia (TII), yang dipelopori oleh anggapan dari daerah seperti menganggap pemerintah tidak becus dan mengkhianati rakyat.

 

Tak hanya itu, Kartosoewirjo juga mengklaim sebagai amirul mukminin dengan tujuan untuk membentuk pemerintahan tandingan dengan menentang pemerintahan sah Ir Soekarno.

 

Sebagai organisasi Islam yang peduli terhadap keutuhan bangsa dan negara, NU tidak tinggal diam. Pada tahun 1954 di Pondok Pesantren Mojosari tepatnya di Langgar Wetan diadakan pertemuan besar-besaran para ulama dan tokoh NU Jawa Timur.  

 

Pada saat itu hadir KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Zahid Cepoko, KH Dahlan Abdul Qohar, KH Makhrus Aly Lirboyo, KH Zaini Shobiri yang merupakan pengasuh pesantren Mojosari dan ulama sepuh lainnya . Peretemuan tersebut membahas tentang sikap NU mendukung Kartosoewirjo atau Bung Karno.

 

“Singkat cerita hasil pertemuan tersebut adalah tidak diperkenakan mendukung Kartosoewirjo dan hukumnya harus ditumpas dengan dalil bughat,” kata Kiai Qolyubi Dahlan yang menjadi saksi atas pertemuan tersebut.

 

Akhirnya dari bahtsul masail tersebut kemudian dibawa dan menjadi salah satu rekomendasi KH Wahab Chasbullah pada Munas Alim Ulama NU dan rapat parlemen. Dari Mojosari tadi pula kemudian Bung Karno diberi gelar dengan Waliyyul Amri Adl Dloruri Bisyaukah atau pemegang otoritas yang bersifat sementara dengan kekuasaan penuh.

 

Keputusan mengangkat Bung Karno menjadi Waliyyul Amri Adl Dloruri Bisyaukah melalui sidang parlemen dan Munas Alim Ulama NU tersebut membuat arah gerakan DI/TII semakin sulit karena tidak mendapat dukungan dari mayoritas umat Islam. Hal ini juga membuat pemerintah Indonesia lebih agresif menumpas pergerakan DI/TII.

 

Kartosoewirjo pun berhasil ditangkap tanggal 4 Juni 1962, militer Indonesia juga berhasil menangkap para anggota DI/TII beserta jajaran petingginya. Kartosoewirjo juga dijatuhi hukuman mati berdasarkan keputusan Pengadilan Mahkamah Darurat Perang (Mahadper) tanggal 16 Agustus 1962. Ia dieksekusi di Kepulauan Seribu.


Rehat Terbaru