• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 23 April 2024

Kediri Raya

IAIFA Kediri Gelar Daurah Aswaja Demi Perkuat Ideologi Mahasantri

IAIFA Kediri Gelar Daurah Aswaja Demi Perkuat Ideologi Mahasantri
Gelaran Daurah Aswaja ke-1 oleh IAIFA Kediri di aula lantai 2 kampus putri IAIFA Kediri, Sabtu-Ahad (06-07/01/2024). (Foto: jurnalistik.iaifa.ac.id)
Gelaran Daurah Aswaja ke-1 oleh IAIFA Kediri di aula lantai 2 kampus putri IAIFA Kediri, Sabtu-Ahad (06-07/01/2024). (Foto: jurnalistik.iaifa.ac.id)

Kediri, NU Online Jatim

Institut Agama Islam Faqih Asy’ary (IAIFA) Kediri menggelar Daurah Aswaja ke-1 yang dipusatkan di aula lantai 2 kampus putri IAIFA Kediri, Sabtu-Ahad (06-07/01/2024). Kegiatan ini mengusung tema ‘Internalisasi Aswaja: Memahami, Mengamalkan dan Mendakwahkan bagi Generasi Post Gen Z Mahasantri IAIFA’.

 

Kegiatan wajib bagi mahasantri IAIFA Kediri semester 1 dan 3 ini dibuka langsung oleh Rektor IAIFA Kediri, H Soewarno. Dalam sambutannya, Rektor IAIFA menyampaikan pentingnya keterlibatan para mahasantri dalam mengambil peran sebagai penerus titah Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

 

“Karena memang sudah seharusnya para mahasiswa, khususnya mahasantri IAIFA yang berlatar belakang pesantren, menguasai dan paham secara menyeluruh tentang keaswajaan,” ujarnya dilansir dari jurnalistik.iaifa.ac.id.

 

Dalam kesempatan itu, Dr Asyhari selaku narasumber memaparkan tentang arti Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja. Ia menyebutkan, bahwa Aswaja yaitu meraka yang mengikuti ajaran nabi dan para sahabat.

 

“Aswaja sendiri mempunyai ciri khas yakni assawadlul a’dhomi (mayoritas umat Islam) sejak dahulu sampai sekarang. Di samping itu, akidah yang dianut oleh kalangan Aswaja berpegang pada ajaran Imam Abu Hasan Al Asy’ary dan Imam Abu Manshur Al Maturidy,” jelasnya.

 

Sementara Ketua Aswaja NU Center PWNU Jatim KH Ma’ruf Khozin selaku narasumber lainnya, menjelaskan dalil-dalil yang dijadikan acuan pengambilan hukum bagi kalangan Aswaja, yakni dalil naqli dan dalil aqli.

 

Dalil naqli yaitu dalil-dalil yang berasal dari nash Al-Qur’an dan hadist. Sedangkan dalil aqli yaitu dalil-dalil yang bukan berasal dari nash Al-Qur’an dan hadist, yakni berupa penggalian hukum melalui proses Ijtihad dan istinbath,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, penggalian hukum baik berupa aqli maupun naqli cukup penting untuk menjadikan mereka mujtahid. “Seperti halnya sebuah santan yang tidak akan ditemukan pada kelapa ketika tidak mengetahui unsur-unsur yang ada di dalamnya,” terangnya.

 

Di samping itu, Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim ini menjelaskan, di zaman setelah wafatnya Rasulullah SAW para ulama menggali hukum menggunakan metode istihsan, yakni menemukan sebuah solusi dengan acuan dasar asas kemanfaatan.

 

“Dewasanya praktik istihsan ini d temukan pada jual beli pulsa atau paket data. Secara tekstual jual beli seperti itu tidak sah karena tidak ada ijab qabul (serah terima). Akan tetapi Ketika melihat pada asas kemanfaatannya maka akad seperti ini dilegalkan,” katanya.

 

Ia juga menyampaikan alasan kenapa madzhab Syafi’i lebih dominan dalam dunia Islam tak lain karena secara geografis madzhab Syafi’i disebarkan ke wilayah Asia, khususnya Indonesia.

 

“Dan karena di Indonesia jumlah muslimnya terbesar di dunia, tentu secara rasional menunjukkan bahwa madzhab Syafi’i memang menjadi yang terbesar,” tandasnya.


Kediri Raya Terbaru