• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 7 Juli 2022

Madura

Jalan Berliku Lakpesdam NU Sampang Selesaikan Konflik Sosial

Jalan Berliku Lakpesdam NU Sampang Selesaikan Konflik Sosial
Rangkain kegiatan pembinaan keagamaan PC Lakpesdam NU Sampang kepada Tajul Muluk dan pengikutnya. (Foto: NOJ/Fahromi N)
Rangkain kegiatan pembinaan keagamaan PC Lakpesdam NU Sampang kepada Tajul Muluk dan pengikutnya. (Foto: NOJ/Fahromi N)

Sampang, NU Online Jatim

Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kabupaten Sampang terus melakukan pembinaan keagamaan. Khususnya  kepada pengungsi mantan pengikut Syiah di Rusun Puspo Agro Jemundo, Sidoarjo.

 

Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil kesepakatan yang telah terjalin antara Pemerintah Kabupaten Sampang bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat. Tujuannya untuk menyelesaikan konflik sosial keagamaan yang sudah lama terjadi di kabupaten berjuluk Kota Bahari tersebut.

 

Ketua PC Lakpesdam NU Sampang, Faisol Ramdhani menjelaskan bahwa sebenarnya pembinaan keagamaan adalah kegiatan rutin setiap bulan. Hal itu dilaksanakan pemerintah daerah bekerja sama dengan PCNU Sampang.

 

"Kegiatan itu berawal dari permintaan tokoh masyarakat dan warga dua desa lokasi konflik yakni Desa Blu'uran dan Karanggayam. Tokoh masyarakat menyampaikan kepada kiai pasca ikrar Tajul Muluk dan pengikutnya, bahwa masyarakat masih ragu terhadap ikrar tersebut," jelasnya kepada NU Online Jatim, Senin (06/12/2021).

 

Menurut pria yang akrab disapa Ra Faisol itu, keraguan tersebut terjadi lantaran masih banyak warga yang menganggap di dalam ikrar tersebut ada sebuah taqiah. Sehingga, untuk meyakinkan masyarakat perlu dilakukan pembinaan keagamaan.

 

"Karena pasca ikrar itu, ada tiga kelompok di masyarakat,” terangnya. Ada yang percaya penuh, setengah percaya, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali, dan yang paling banyak mereka yang kurang percaya dan tidak percaya. Dari situlah PCNU dan Pemkab sepakat melakukan pembinaan.

 

Kemudian terbentuklah tim pendamping yang terdiri dari 7 kiai, Di antaranya, KH Syafiuddin Abdul Wahid, KH Moh Itqan Bushiri, KH Mahrus Abdul Malik, KH Bukhori Maksum (MUI Sampang), Kiai Ahsan Jamal, Kiai Luai Imam, dan almarhum KH Lutfillah Ridwan.

 

"Ketujuh kiai tersebut meminta Lakpesdam NU selalu hadir mendampingi. ketujuh kiai secara bergantian datang setiap bulan pasca ikrar. 2 kiai berbeda datang setiap bulannya memberikan ceramah keagamaan, penguatan paham keagamaan terutama paham Ahlussunnah wal Jama’ah," terangnya.

 

Selain memberikan pemahaman, tentunya sekaligus menjalin silaturahim dengan Tajuk Muluk dan pengikutnya. Ini merupakan bukti adanya penerimaan sosial yang dilakukan kiai sehingga bisa didengar warga. Bahwa para mantan pengikut Syiah benar-benar sudah berikrar dan kembali ke ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

 

"Sehingga masyarakat kemudian nantinya bisa menerima kepulauan mereka kembali ke kampung halaman,” terangnmya. 

 

Proses ini akan terus dilakukan, denghan demikian diharapkan masyarakat di dua lokasi konflik menerima kepulangan mereka dengan rasa persaudaraan tinggi.

 

“Sesuai konsep Madura 'tretan dibi' (saudara sendiri, red)," pungkasnya.

 

Editor: Syaifullah

 

 


Editor:

Madura Terbaru