• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 29 September 2022

Kediri Raya

Membanggakan, Santri di Blitar Juara Lomba Tahfidz Tingkat Pelajar

Membanggakan, Santri di Blitar Juara Lomba Tahfidz Tingkat Pelajar
Anisatuzzahro', santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kabupaten Blitar yang meraih juara Lomba Tahfidz. (Foto: NOJ/Ika NF).
Anisatuzzahro', santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Kabupaten Blitar yang meraih juara Lomba Tahfidz. (Foto: NOJ/Ika NF).

Blitar, NU Online Jatim

Prestasi membanggakan diraih Anisatuzzahro’, siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sekaligus santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Desa Satreyan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Pasalnya, ia baru saja meraih juara 1 dalam Tahfidz 10 juz tingkat MA/SMA sederajat.

 

Ajang lomba tersebut digelar dalam rangka hari lahir yang ke-5 Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar. Acara yang menerapkan protokol kesehatan ini dipusatkan di gedung Kampus 1 UNU Blitar, Jalan Masjid Nomor 22 Kota Blitar.

 

Anisa, sapaan akrabnya, mengaku tidak menyangka mendapatkan nilai tertinggi dan menyisihkan belasan peserta putri lain utusan MA/SMA se Kabupaten Blitar. Atas penobatannya sebagai juara I ini, ia berhak mendapatkan Golden Tiket untuk masuk dan berkuliah di UNU Blitar. Menurutnya, semua ini diraih tidak terlepas dari doa orang tua.

 

“Alhamdulillah, saya bersyukur dan senang sekali bisa terpilih jadi pemenang. Tapi juga sedih karena teman seperjuangan saya belum beruntung merasakan juara seperti saya,” ungkapnya kepada NU Online Jatim, Ahad (15/08/2021).

 

Dirinya menyebutkan, motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an karena ketika nanti orang tuanya sudah tiada, masih ada amal yang mengalir kepadanya.

 

“Selain itu, saya juga ingin melewati alam barzah tanpa ditanya oleh malaikat karena ada Al-Qur’an yang menemani saya,” ujarnya.

 

Ia pun menceritakan, bahwa dirinya mulai meghafal Al-Qur’an saat masih duduk di bangku kelas IV Madrasah Ibtidaiyah (MI). Masa-masa awal menghafal Al-Qur’an dijalaninya dengan keterpaksaan.

 

“Namun, lambat laun rasa terpaksa itu menghilang seiring bertambahnya usia dan semakin mengerti keutamaan menghafal Al-Qur’an,” imbuh Anisa.

 

Meskipun perjalanannya dalam menghafal kerap banyak cobaan, baik dari keluarga, teman maupun rasa malas pada diri sendiri, namun itu semua bisa diatasi olehnya. Untuk menjaga hafalannya, Anisa selalu meluangkan untuk murojaah, yaitu ketika ada waktu kosong baik ketika pulang sekolah, sore hari ataupun malam sebelum tidur.

 

“Selain murojaah wajib satu juz bersama-sama di pondok, biasanya saya murojaah sendiri. Kadang juga bersama teman dikala waktu luang. Dan alhamdulillah, itu dilakukan secara rutin dengan murajaah setengah sampai satu juz sehari,” ungkapnya.

 

Ia berpesan kepada penghafal Al-Qur’an yang lain agar tidak pantang menyerah meskipun banyak banyak cobaan. Menurutnya, seorang penghafal Al-Qur’an harus sabar, ikhlas, dan istiqamah.

 

 

“Sebab, terkadang jalan dalam menghafal Al-Qur’an tidak selalu lurus, terkadang ada pula rintangan yang berliku,” pungkasnya.

 

Editor: A Habiburrahman


Kediri Raya Terbaru