• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 9 Agustus 2022

Keislaman

Adab Melaksanakan Ihram bagi Wanita

Adab Melaksanakan Ihram bagi Wanita
Jamaah haji wanita sedang diperiksa petugas (Foto:NOJ/kemenag)
Jamaah haji wanita sedang diperiksa petugas (Foto:NOJ/kemenag)

Haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang diwajibkan bagi kaum muslimin untuk menunaikannya jika dalam keadaan mampu. Terdapat banyak keutamaan dalam ibadah tersebut, bahkan termasuk kategori jihad bagi Wanita.


Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Al-Bukhari (1520), An-Nasa'i (4/115), dan Ibnu Majah (2901) :


عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ أَفَلَا نُجَاهِدُ قَالَ لَا لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ


Artinya: Bersumber dari Aisyah, bahwa dia bertanya, Wahai Rasulullah, kami memandang jika jihad sebagai amalan yang paling utama, tidakkah kami diperbolehkan berjihad?, Nabi menjawab: Tidak, jihad yang paling utama (untuk kalian), adalah haji mabrur.


Tentu untuk meraih haji mabrur bagi seorang wanita harus disertai perjuangan keras atau jihad, seperti memperbanyak ibadah sunah, dan memperhatikan adab ihram, di antaranya:


Pertama, Mandi meskipun sedang dalam masa haid atau nifas. Hal ini berdasarkan hadits bersumber dari Jabir yang bertutur tentang hajinya Nabi Muhammad SAW. Hadits ini terekam lengkap dalam Sahih Muslim, 1218.


Sedangkan dalam Bulughul Maram meringkasnya:


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَجَّ، فَخَرَجْنَا مَعَهُ، حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ، فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ، فَقَالَ: اِغْتَسِلِي وَاسْتَثْفِرِي بِثَوْبٍ، وَأَحْرِمِي


Artinya: Dari Jabir bin Abdillah, sesungguhnya Nabi Muhammad menunaikan haji dan kami keluar bersamanya, sehingga kami sampai di tanah Dzulhulaifah, kemudian Asma binti Umais melahirkan, Rasulullah bersabda: Mandilah dan tutuplah bagian tengah tubuhmu dengan sepotong kain yang melintang, dan berihramlah


Kedua, memakai minyak wangi sebelum melaksanakan ihram. Sebab memakainya saat sedang ihram tidak diperbolehkan.


و يسن تطييب الثوب كالبدن قبل الإحرام كما في المنهاج  و قيل يحرم و اعتمد ابن حجر في التحفة أنه مكروه  (فتح العلام ج ٤ ص ١٨٥ )


Artinya: Dalam keterangan kitab Al-Minhaj disunnahkan memakai wewangian pada baju seperti juga pada tubuh sebelum ihram, meskipun demikian ada pendapat yang mengatakan haram. Sedangkan Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah berpendapat makruh. 


Ketiga, membersihkan diri sebelum ihram, seperti memotong kuku, mencukur rambut (bulu). Sebab ketika ihram itu semua dilarang.


Keempat, Perempuan boleh memakai pakaian apa saja yang diinginkan, tidak ada ketentuan khusus perihal ketentuan warnanya, lebih diutamakan warna yang tidak mencolok seperti putih, dan tidak memakai cadar dan kaos tangan. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:


وَلَاتَنْتَقِبِ المَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ، وَلَا تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ


Artinya: Jangan sekali-kali wanita yang sedang ihram itu mengenakan cadar penutup muka dan jangan pula memakai kaos tangan. (HR. al-Bukhari (1838)


Kelima, Wanita boleh mengeraskan suara talbiyahnya jika memang dirasa aman dari fitnah.


Lima adab ini sebenarnya bisa terealisasi apabila muhrim (orang yang sedang ihram) paham semua perkara yang diperbolehkan dan dilarang ketika ihram. Oleh karena itu, bagi kalangan wanita yang ingin berjihad meraih haji mabrur seyogyanya memperhatikan kelima adab ini.


Keislaman Terbaru