• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 8 Agustus 2022

Keislaman

Berikut Hukum dan Panduan bagi Pelaksanaan Haul

Berikut Hukum dan Panduan bagi Pelaksanaan Haul
Haul Sunan Ampel Surabaya. (Foto: NOJ/Jawa Pos)
Haul Sunan Ampel Surabaya. (Foto: NOJ/Jawa Pos)

Pada Ahad (23/05/2021), setidaknya di Jawa Timur ada pelaksanaan haul tokoh yang demikian dihormat jamaah. Yakni Habib Soleh bin Muchsin al-Hamid, Tanggul, Jember dan Syaikh Muhammad Hasan Seppuh, Genggong, Probolinggo.

 

Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, pelaksanaan haul harus taati protokol kesehatan. Pembatasan jamaah dilakukan demi memastikan tidak terjadi penyebaran virus Corona. Demikian pula prosedur lain harus diindahkan.

 

Pertanyaannya, bagaimana panduan Islam dalam pelaksanaan acara memperingati meninggalnya tokoh yang demikian dihormati tersebut? Demikian pula apa saja yang disarankan saat acara digelar?

 

Pelaksanaan haul ada yang dilakukan atas nama perorangan maupun organisasi. Ada yang dilangsungkan secara sederhana, dengan memanggil kerabat serta tetangga dekat, untuk bersama-sama melaksanakan tahlil atau khataman Al-Qur’an. Ada pula yang mengundang dai atau ulama untuk memberikan wejangan keagamaan  dan mauidlah hasanah, dalam suatu forum terbuka yang populer dengan pengajian umum.

 

Meski budaya haul sudah berjalan sejak lama di Indonesia dan menjadi tradisi, ada sebagian orang yang menganggapnya sebagai perbuatan terlarang dengan anggapan bid’ah dan  tidak bermanfaat.

 

Untuk mengetahui status hukum haul, tidak bisa dilepaskan dari bentuk kegiatan dalam rangkaian acaranya. Artinya, menghukumi haul sama saja dengan menghukumi perbuatan yang  terdapat dalam perhelatan itu sendiri.

 

Artikel diambil dariCara dan Hukum Melaksanakan Haul

 

Haul sebenarnya diserap dari bahasa Arab al-haul yang berarti tahun. Dalam bab zakat sebagaimana kita jumpai dalam literatur-literatur fiqih, haul menjadi syarat wajibnya zakat hewan ternak, emas, perak, serta harta dagangan. Artinya, kekayaan tersebut baru wajib dikeluarkan zakatnya bila telah berumur satu tahun. Dari hal itu tampak adanya kesesuaian antara makna lughawi haul dengan acara ‘haul’ dimaksud. Sebab, dalam kenyataannya acara haul dilakukan satu tahun sekali, pada hari kematian /wafatnya orang yang di hauli.

 

Jika kita perhatikan, muatan peringatan haul tidak lepas dari tiga hal. Pertama, tahlilan dirangkai doa kepada si mayit. Kedua, pengajian umum yang kadang dirangkai dengan pembacaan secara singkat sejarah orang yang dihauli, yang mencakup nasab, tanggal lahir atau wafat, jasa-jasa, serta keistimewaan yang kiranya patut diteladani.

 

Ketiga, adalah sedekah, baik diberikan kepada orang-orang yang berpartisipasi pada dua acara tersebut, atau diserahkan langsung ke rumah masing-masing.

 

Status hukum tiga hal tersebut, dengan sendirinya akan menentukan hukum haul.

 

  1. Tahlil/baca Al-Qur’an/mendoakan mayit.

Mayoritas ulama dari empat mazhab, sebagaimana diterangkan Syeikh KH Ali Ma’sum al-Jogjawi (dari Yogyakarta) dalam kitab Hujjah Ahlus Sunnah wal Jam’ah, berpendapat pahala ibadah atau amal saleh yang dilakukan orang yang masih hidup bisa kepada kepada mayit.

 

Pengertian atau amal saleh di sini umum, mencakup bacaan Al-Qur’an, dzikir, sedekah dan lain-lain. Mendoakan juga berguna baginya. Mendoakan orang yang telah meninggal jelas berbeda dengan berdoa kepadanya.

 

Yang pertama berarti memintakan kepada Allah SWT agar mendapat pengampunan, tempat yang layak di akhirat atau agar dibebaskan dari siksa. Hal itu tentu saja diperbolehkan. Bahkan, termasuk beberapa amal jariyah yang pahalanya terus mengalir adalah anak saleh yang mendoakan orang tuanya.

 

Sedang yang kedua, berdoa kepada si mayit, jelas dilarang dan bisa menjurus kepada perbuatan syirik (surat Yunus ayat 106). Berdoa atau meminta sesuatu pada mayit berbeda pula dari tawassul (surat Al-Maidah ayat 35)

 

  1. Pengajian

Pengajian merupakan salah satu dakwah billisan (dengan ucapan). Untuk memberikan wawasan, bimbingan dan penyuluhan yang bertujuan meningkatkan kualitas ketakwaan kaum muslimin, dengan jalan memperluas pemahaman mereka tentang ajaran agamanya.

 

Peningkatan iman dan takwa diharapkan akan mendorong melakukan amal saleh, baik ibadah ritual, individual, maupun sosial. Dari sana pula diharapkan moralitas dan etika di kalangan masyarakat meningkat.

 

Pola dakwah dalam bentuk pengajian memiliki beberapa kelebihan, di samping kekurangan. Kelebihannya, peserta tidak perlu mengeluarkan biaya, dapat menampung jumlah yang banyak dari berbagai lapisan, temanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat, dan pesan-pesanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dicerna sesuai kadar intelektual pesertanya.

 

Melihat tujuan-tujuan tersebut, kita tidak perlu mempermasalahkan status hukum pengajian, asal pesan-pesan yang disampaikan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Pengajian termasuk pelaksanaan amal ma’ruf nahi munkar.

 

  1. Sedekah

Adapun sedekah yang pahalanya diberikan/hadiahkan kepada mayit, pada dasarnya diperbolehkan. Karena hal itu termasuk amal saleh, seperti disinggung di atas.

 

Dari keterangan tersebut, jelas aktivitas dalam rangkaian upacara haul dibenarkan adanya. Maka dengan sendirinya haul itu sendiri tidak dilarang.


Editor:

Keislaman Terbaru