• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Jumat, 19 Agustus 2022

Keislaman

Dalil Puasa 9 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Sangat Dianjurkan

Dalil Puasa 9 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Sangat Dianjurkan
Di antara ibadah yang sangat dianjurkan saat 9 hari pertama pada bulan Dzulhijjah adalah puasa. (Foto: NOJ/NU Network)
Di antara ibadah yang sangat dianjurkan saat 9 hari pertama pada bulan Dzulhijjah adalah puasa. (Foto: NOJ/NU Network)

Alhamdulillah umat Islam telah memasuki bulan Dzulhijjah pada Jumat (01/07/2022). Dan sebagai bentuk syukur lantaran dikarunia panjang umur, maka sudah selayaknya mengisi bulan Dzulhijjah tersebut dengan ibadah yang disarankan.


Seperti diketahui, Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya. Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat, dan puasa. 


Karenanya, kesempatan beribadah tidak hanya diberikan kepada jamaah haji. Siapa pun mendapat kesempatan beramal meski dalam bentuk yang berbeda. Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi sebagai berikut: 


 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر 


Artinya: Rasulullah SAW bersabda: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti 10 hari ini. (HR At-Tirmidzi). 


Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di 10 hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan. Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits di atas sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah. Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut. 


Ibnu Majah memberi judul bab hadits di atas dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”. Dalam kajian hadits, pemberian judul bab sekaligus menunjukkan pemahaman seorang rawi terhadap hadits yang diriwayatkan. Artinya, secara tidak langsung Ibnu Majah selaku perawi menjadikan hadits itu sebagai dalil kesunahan puasa. Karenanya, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengatakan: 


 واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل 


Artinya: Hadits ini menjadi dalil keutamaan puasa 10 hari di bulan Dzulhijjah, karena puasa termasuk amal saleh. 


Kendati disebutkan puasa 10 hari dalam hadits di atas, ini bukan berarti pada tanggal 10 Dzulhijjah juga dianjurkan puasa. Malah puasa pada tanggal itu dilarang karena bertepatan dengan Idul Adha. 


Terkait maksud “ayyamul ‘asyr” ini, An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan: 


 والمراد بالعشر ها هنا الأيام التسعة من أول ذي الحجة 


Artinya: Yang dimaksud 10 hari di sini ialah 9 hari, terhitung dari tanggal 1 Dzulhijjah. 


Berdasarkan pendapat An-Nawawi ini, siapa pun disunahkan untuk beramal sebanyak-banyaknya di bulan Dzulhijjah khususnya puasa 9 hari di awal bulan. 


Dalam hadits lain, saking penasarannya sahabat tentang keutamaan beramal sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, mereka bertanya kepada Rasul SAW: Apakah jihad juga tidak sebanding dengan beramal pada 10 hari tersebut? Rasul menjawab: Tidak, kecuali ia mengorbankan harta dan jiwanya di jalan Allah (mati syahid). (HR Ibnu Majah). 

  

Dengan demikian, Rasul menyetarakan pahala beramal di 10 hari Dzulhijjah dan mati syahid. Karena konteks negara kita bukan peperangan, dalam kondisi aman dan damai, tentu memperbanyak amal di bulan Dzulhijjah, terutama puasa, lebih diprioritaskan. Wallahu a’lam.


 


Editor:

Keislaman Terbaru