• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 10 Desember 2022

Keislaman

Peringatan Maulid Nabi dalam Pandangan KH. Hasyim Asy'ari

Peringatan Maulid Nabi dalam Pandangan KH. Hasyim Asy'ari
Peringatan maulid membaca barzanji dan shalawat kepada Nabi (Foto:NOJ/jeda.id)
Peringatan maulid membaca barzanji dan shalawat kepada Nabi (Foto:NOJ/jeda.id)

Bulan Rabiul Awal identik dengan maulid Nabi Muhammad yang sarat makna dan nilai keteladanan. Pada bulan itu, umat Islam merayakan sesuai tradisi yang berkembang di daerahnya masing-masing, seperti pembacaan maulid barzanji, shalawat, dzikir dan lain sebagainya.


Peringatan maulid Nabi hampir dapat dijumpai di setiap negara yang berpenduduk muslim, termasuk di Indonesia, sebab sudah menjadi tradisi dan dirayakan seperti hari raya Islam. Tak ayal, tiap desa, kabupaten, bahkan hingga istana negara mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad.


Dari sini, tiap daerah memiliki kekhasan dalam memperingati maulid Nabi yang dilakukan dengan berbagai ekspresi. Misalnya, masyarakat Jawa merayakan maulid dengan membaca tarikh Nabi Muhammad dalam kitab Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba’, Saroful Anam, Burdah, dan lain-lain. Seusai membaca manakib,  masyarakat menyantap hidangan bersama-sama.


Ragam ekspresi di atas merupakan ungkapan rasa syukur dan bahagia atas hari kelahiran Nabi yang telah membimbing, menuntun dan memberikan arahan jalan hidup sesuai ajaran agama Islam.


Meski demikian, tidak semua kegiatan yang diperuntukkan memperingati maulid Nabi itu sejalan dengan aturan agama Islam seperti yang terjadi di daerah Sewulan Madiun. Beberapa kegiatan yang disorot beliau dan tidak pantas dalam acara maulid di Sewulan adalah orkesan, pencak, percampuran laki-laki perempuan, theatre, judi, tarian eksotis, tertawa terbahak-bahak dan perbuatan munkar lain.


Oleh karena itu, KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya berjudul Tanbihat wal-Wajibat memberikan rambu-rambu saat mengadakan acara maulid:


اَلتَّنْبِيْهُ الْأَوَّلُ يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ


Artinya: Peringatan pertama yang dikutip dari pendapat para ulama (yang akan disebutkan nanti), bahwa maulid yang dianjurkan oleh para imam adalah kegiatan berkumpulnya masyarakat, membaca ayat Al-Quran, membaca riwayat tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad, peristiwa luar biasa sejak dalam kandungan dan kelahiran Nabi, dan sejarah yang penuh berkah setelah dilahirkan. Kemudian menyajikan beberapa hidangan untuk masyarakat lalu menyantapnya dan selanjutnya mereka bubar. Apabila mereka menambahkan beberapa kegiatan dengan memukul rebana disertai tetap menjaga adab, maka hal itu tidak apa-apa.


KH. Hasyim menuturkan Kembali dengan mengutip pendapat Abu Syamah dalam kitabnya Al Ba’its Fi Inkari al Bida’I Wa al Hawadits: Kegiatan positif dari bid’ah di zaman kita sekarang ini adalah aktifitas yang biasa dilakukan penduduk Kota Irbil, Irak seperti bersedekah, berbuat baik, menampakkan perhiasan dalam berbusana dan kebahagiaan. Namun hal tersebut tetap disertai dengan berbuat baik kepada fakir miskin yang sebagai bentuk manivestasi rasa cinta dan mengagungkan Nabi SAW serta rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang telah dianugerahkan, dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk seluruh alam semesta dan rahmat atas seluruh para utusan. Semoga Allah senantiasa memperbaiki hari yang bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad  dalam setiap tahunnya.


Dari sini dapat dipahami bahwa peringatan maulid Nabi harus diisi dengan kegiatan yang positif dan mencerminkan kebaikan seperti diisi dengan bacaan Al-Quran, kisah kemuliaan Nabi, disuguhi hidangan makanan atau bahkan diiringi dengan tabuhan rebana, itu semua termasuk perbuatan yang tidak dilarang dalam Islam. Bahkan banyak para imam dan ulama menganjurkan agar senantiasa mengadakan peringatan maulid setiap bulan Rabiul Awal.


Sebab tujuan utama mengadakan peringatan maulid adalah berkumpul untuk meneladani kisah perjalanan hidup disertai membaca shalawat atas Nabi, mengagungkan kedudukannya, dan menampakkan kebahagiaan di bulan kelahirannya. Bahkan menurut Imam Al-Suyuti (w. 911 H), mengadakan peringatan maulid termasuk perbuatan yang akan mendapatkan pahala dari Allah karena telah mengagungkan Nabi Muhammad.


Editor:

Keislaman Terbaru