• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 2 Juli 2022

Keislaman

Sinetron Ikatan Cinta dan Tantangan dalam Rumah Tangga

Sinetron Ikatan Cinta dan Tantangan dalam Rumah Tangga
Salah satu episode sinetron Ikatan Cinta. (Foto: NOJ/RCTI)
Salah satu episode sinetron Ikatan Cinta. (Foto: NOJ/RCTI)

Seperti diketahui, sinetron Ikatan Cinta menjadi salah satu sajian unggulan sebuah televisi nasional di Tanah Air. Karena sejak ditayangkan perdana pada 19 Oktober 2020 lalu, sinetron yang dibintangi Amanda Manopo, Arya Saloka, Glenca Chysara dan Evan Sanders ini selalu berhasil menguras emosi penonton.

 

Sinetron Ikatan Cinta mengisahkan tentang dua bersaudara, Andin (Amanda Manopo) dan Elsa (Glenca Chysara), yang sama-sama mencintai Nino (Evan Sanders). Hubungan kakak beradik tersebut menjadi berantakan saat Andin menikah dengan Nino. Hal itu membuat Elsa nekat menjebak Andin supaya dipenjara atas tuduhan telah membunuh Roy. Setelah keluar dari penjara, Andin dinikahi oleh Aldebaran (Arya Saloka).

 

Rating sinetron Ikatan Cinta terus menanjak naik. Catatan tertinggi diraih episode 25 Januari 2021 dengan rating 14,1 dan audience share 48,3. Angka tersebut berhasil melampaui rekor musim ketiga sinetron Cinta Fitri yang mendapatkan rating 12,6 dan audience share sebesar 39,2. Tak hanya itu, capaian tersebut menobatkan Ikatan Cinta sebagai sinetron dengan rating tertinggi di Indonesia dalam 15 tahun terakhir.

 

Melanggengkan Pernikahan

Dalam setiap acara pernikahan bisa dipastikan adanya sebuah doa yang diucapkan untuk kedua mempelai; semoga sakinah mawadah wa rahmah. Sebuah doa yang dimaksudkan agar keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai selalu berada dalam kondisi ketenangan penuh cinta dan kasih sayang di antara suami istri dan setiap anggota keluarga lainnya.

 

Ada lagi satu doa yang sering dipanjatkan pada setiap acara pernikahan di lingkungan masyarakat suku Jawa. Doa ini biasanya diucapkan oleh sang pembawa acara dengan kalimat: Semoga langgeng sampai kaken-kaken ninen-ninen. Artinya berharap keluarga dan rumah tangga yang dibangun oleh kedua mempelai diberi kelanggengan sampai keduanya lanjut usia menjadi kakek dan nenek.

 

Ya, siapa pun pasti berharap tali pernikahan yang diikat untuk sekali seumur hidup, tak pernah putus di tengah jalan. Siapa pun pasti berkehendak ikatan suami istri yang dilakoninya akan terus berlanjut sampai ajal menjemput. Keluarga dan rumah tangga yang dibangun menjadi keluarga yang tenang, tenteram, penuh kasih sayang di antara sesama anggota keluarga sampai dengan semuanya dipisahkan oleh kematian.

 

 

Bila kita mau membaca dan memahami ajaran Al-Qur’an dengan seksama semestinya kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang ditawarkan oleh Islam tidaklah sebatas sampai kematian memisahkan semuanya. Islam justru menawarkan kelanggengan dan kebahagiaan berkeluarga yang abadi sejak masih di dunia hingga di akhirat kelak.

 

Di dalam Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 21 Allah menyatakan:

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

 

Artinya: Orang-orang yang beriman dan keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan maka Kami pertemukan mereka dengan keturunannya dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari amal mereka.

 

Dengan ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan berbagai kitab tafsir, Allah ingin memberitahukan perihal anugerah, kasih sayang dan kebaikan kepada hamba-Nya. Bahwa orang-orang mukmin bila anak keturunannya ikut beriman kepada Allah maka akan mempertemukan anak-anak keturunan itu dengan orang tuanya pada satu tempat dan derajat yang sama yakni surga, meskipun para anak keturunan tersebut tidak melakukan amalan yang mencapai derajat sebagaimana yang dicapai orang tuanya.

 

Perlakuan ini diberikan oleh Allah untuk memuliakan para orang tua yang mukmin itu agar mereka merasa bahagia dapat berkumpul kembali dengan anak-anaknya.

 

Lebih jauh dari itu Imam Ahmad As-Shawy meriwayatkan bahwa kelak ketika seorang ahli surga telah memasuki surga ia akan menanyakan keberadaan orang tua, istri dan anak-anaknya. Kepadanya diberitahukan bahwa mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan oleh si ahli surga tersebut. Maka ia berkata kepada Allah: Saya beramal untuk diri saya dan juga untuk mereka. Maka dengan anugerah dan kemurahan Allah mereka yang derajatnya lebih rendah diangkat untuk dipertemukan dengan ahli surga yang derajatnya lebih tinggi.

 

Apa yang diberitakan Al-Qur’an di atas adalah sebuah kebenaran yang pada saatnya nanti akan terjadi. Sebuah keluarga besar, setelah sekian tahun lamanya dipisahkan oleh kematian, di akhirat kelak bisa kembali bertemu dan berkumpul pada satu tempat yang mulia dengan catatan setiap anggotanya memiliki keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Untuk itu semestinya setiap pasangan pengantin yang baru membangun rumah tangga semestinya tidak hanya memiliki keinginan terwujudnya rumah tangga yang langgeng di dunia tanpa perceraian, namun lebih dari itu mesti bercita-cita agar keluarganya akan tetap langgeng dan terus hidup bersama bukan saja di dunia tapi juga di akhirat kelak.

 

Karenanya usaha-usaha untuk menjaga dan melestarikan keimanan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga menjadi wajib dilakukan sebagai modal utama demi terwujudnya keluarga sakinan yang langgeng dari dunia hingga akhirat.


Editor:

Keislaman Terbaru