• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 5 Desember 2022

Madura

Habib Ba’adud Pesan Fatayat NU Harus Mencontoh Fatimah Azzahra

Habib Ba’adud Pesan Fatayat NU Harus Mencontoh Fatimah Azzahra
Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud di acara Isra' Mi'raj di Pragaan. (Foto: NOJ/Firdausi)
Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud di acara Isra' Mi'raj di Pragaan. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Habib Abdul Qodir bin Zaid Ba’abud menegaskan, dibentuknya Fatayat NU agar pemudi bisa berperan sebagai perempuan yang berkarakter Ibu Nyai. Dalam lingkungan NU dan pesantren, Ibu Nyai adalah sebutan untuk ulama perempuan. Nah, menurut Habib Ba’adud, Ibu Nyai adalah representasi dari Sayyidah Siti Fatimah Azzahra.


Hal itu disampaikan Habib Ba’adud saat mengisi pengajian di acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pragaan di Lapangan Pakamban Laok, kecamatan setempat, Rabu (23/02/2022).


“Alkisah, ada seorang perempuan di masa Nabi ingin meniru Rasulullah SAW. Nabi berkata, bagi kaum perempuan yang ingin meneladani (Nabi), Fatimah Azzahra adalah bagian dari Nabi. Bahkan Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar kaget, karena Fatimah mirip dengan Nabi, mulai dari cara jalannya, duduknya, akhlaknya, dan lainnya,” katanya.


Menurut Habib Ba’adud, seluruh yang dilakukan oleh Fatimah Azzahra diamalkan oleh ulama pada istri mereka yang biasa dipanggil Ibu Nyai. Itulah kemudian kenapa sebabnya badan otonom yang mengurusi pemudi NU, yakni Fatayat NU, sejatinya adalah untuk mengamalkan apa yang dicontohkan Fatimah Azzahra.


“Dibentuknya Fatayat agar wanita memiliki panutan yang pada akhirnya bermuara pada Fatimah Azzahra,” terang penceramah asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, itu.


Lantas apa yang harus dilakukan kader Fatayat NU agar bisa meneladani Fatimah Azzahra? “Pengurus Fatayat harus masuk ke tempat kiai melalui suaminya untuk belajar tentang sejarah Ibu Nyai pendahulu. Baik dari kesabarannya dan lainnya,” pintanya.


Kedua, memiliki niat dan menanamkan tekad untuk berbuat seperti dicontohkan para Ibu Nyai pendahulu. Ketiga, mengambil apa yang dicintai oleh Ibu Nyai pendahulu dan menerapkannya di setiap kehidupan. Seperti dzikir, shalawatan, tahlilan, dan amaliyah lainnya.


Keempat, menjauhi kemegahan dunia. Karena hiasan seorang wanita pada kemuliaan dan ketakwaannya. “Dulu, Nabi pernah menutup pintu saat melihat Fatimah Azzahra memakai gelang. Kemudian Fatimah menjual emas itu dan hasilnya disedekahkan pada fakir miskin. Setelah dijual, Fatimah bergegas menghadap Nabi, hingga nabi memberikan kecupan pada anaknya,” pungkas Habib.


Madura Terbaru