• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 26 September 2022

Madura

Ketua LDNU Sumenep Beberkan Ciri-ciri Kelompok Radikal

Ketua LDNU Sumenep Beberkan Ciri-ciri Kelompok Radikal
​​​​​​​Kiai Imam Sutaji (pegang mik), Ketua LDNU Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)
​​​​​​​Kiai Imam Sutaji (pegang mik), Ketua LDNU Sumenep. (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep, Kiai Imam Sutaji menyampaikan bahwa ada beberapa ciri orang tersebut termasuk kelompok radikal. Salahnya satunya adalah menganggap pemerintah salah semua, bahkan terkadang berupaya untuk merusak otoritas ulama NU. Lewat ghazwul fikr, mereka memunculkan ulama-ulama baru yang baik daripada yang lainnya.


Pernyataan ini ia sampaikan saat jadi pemantik kajian Qanun Asasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Pragaan, Sumenep, Ahad (17/04/2022) malam di aula Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat.


“Kita selaku kader NU, apakah kita masih ragu kepada Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Anwar Manshur Lirboyo, dan kiai lainnya? Para masyaikh tidak mudah mengeluarkan dalil,” sergahnya.


Dosen Institut Sains dan Teknologi (IST) Annuqayah Guluk-Guluk itu menceritakan, saat mengampu mata kuliah Aswaja di pendidikan tinggi, dirinya membuat klausul analisis kawan dan lawan.


“Bagi yang tidak paham, pasti mengatakan bahwa NU mencari musuh. Padahal lawan sesungguhnya adalah kompetitor. Artinya, bagaimana kita memenangkan Indonesia tetap berideologi Pancasila,” terangnya.


Kiai Imam pun menceritakan, Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari didesak untuk mendirikan wadah jamiyah, bahkan telah mendapat restu dari gurunya Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Namun, Mbah Hasyim berhati-hati dengan tidak semerta-merta mendirikan jamiyah tersebut.


“Itulah sebuah kehati-hatian dari ulama pendahulu. Karena wadah yang akan ia dirikan merupakan barisan ulama,” curahnya.


Tenaga pendidik Pondok Pesantren Al-Ihsan Jaddung itu mengimbau bahwa problem tersebut tidak bisa dihadapi sendiri. Kalimat-kalimat yang acap kali didengungkan tentang proxy war dan ghazwul fikr wajib diimbangi oleh kader NU.


“Jadi, jika ada orang yang mau ikut NU-nya Mbah Hasyim dan tidak mau mengikuti NU yang sekarang, sama halnya dengan orang yang mau mengikuti Islamnya Nabi Muhammad SAW dan tidak mau mengikuti Islam zaman sekarang. Oleh karena itu, mari kita perkokoh di NU. Minimal ada 3 hal yang harus kita lakukan, yaitu saling mengingatkan, silaturahim, dan mendekatkan diri pada Allah SWT,” pintanya.


Pada saat yang sama, Ach Zubairi Karim Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep ikut menanggapi dengan mengatakan, Ahlussunnah wal Jamaah dipahami pada nilainya, bukan pada personnya. Karena selama ini Aswaja An-Nahdliyah selalu menjadi solusi dalam setiap persoalan, baik di tingkat lokal maupun internasional.


“Karaktertistik fikrah Aswaja An-Nahdliyah adalah tawassuthiyah, tasamuhiyah, ishlahiyah, tathawwuriyah, dan manhajiyah. Jika ada seseorang ataupun kelompok yang ingin merongrong negara yang sah, intoleran atau tidak mau menghargai perbedaan pendapat, ini ciri-ciri radikalisme,” ungkapnya.


Madura Terbaru