• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 28 September 2022

Madura

Kiai Fakhri, Penjaga Benteng NU di Bangkalan

Kiai Fakhri, Penjaga Benteng NU di Bangkalan
Foto: NOJ/ Rifqi
Foto: NOJ/ Rifqi

Bangkalan, NU Online Jatim

Wafatnya Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, RKH Fakhrillah Aschal pada Sabtu (14/05/2022) pagi menyisakan rasa kehilangan berbagai kalangan, utamanya Nahdliyin. Kiprah Kiai Fakhri dalam menebar kebaikan selama hidup disaksikan banyak orang. Termasuk saat menjadi tokoh penjaga NU di Kabupaten Bangkalan.


Hal ini diungkapkan KH Ma’ruf Khozin Ketua Aswaja NU Center Jawa Timur melalui akun facebooknya. Ia menulis kabar duka wafatnya Kiai Fkhri sekaligus memberikan kesaksian tentang sosoknya sebagai penjaga benteng NU di Bangkalan. 


Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Telah wafat guru kami, Cicit Syaikhona Kholil Bangkalan, Rais Syuriyah PCNU Kab. Bangkalan sekaligus Pengasuh PP Syaikhona Kholil, KH Fachrillah bin KH Abdullah Sachal. Pagi ini jam 05.25 WIB,” tulisanya.


Kiai Ma’ruf kemudian menceritakan bahwa dirinya berkeinginan bertemu dengan Kiai Fakhri. “Ahad besok saya berharap bisa berjumpa dengan beliau di acara Salawatan. Namun Allah berkehendak lain setelah beberapa hari lalu beliau sakit mendadak,” ujarnya.


Menurut Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur itu, Kiai Fakhri gemar menghadiri acara shalawat di kampong-kampung. “Setiap hari beliau (Kiai Fakhri) keliling memenuhi undangan bersalawat, dari kampung ke kampung, dari pelosok bukit hingga ke lembah yang sulit ditempuh kendaraan,” ungkapnya.


Bahkan, lanjt Kiai Ma’ruf, berkat Kiai Fakhri masyarakat yang pernah tidak mengikuti ajaran NU akhirnya bisa berubah menjadi Nahdliyin.


“Warga Bangkalan yang sempat "bergeser" ke-NU-annya kembali ikut bersama Kiai Fakhri. Mereka yang suka meramaikan pernikahan dengan orkes musik berubah menjadi pengajian dan salawatan. Kota ini pun memiliki sebutan "Bangkalan Kota Shalawat",” tandas Kiai Ma’ruf.


Editor:

Madura Terbaru