• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 7 Februari 2023

Madura

Kisah Ahmad Faiz, Santri Bikin Film hingga Lolos Nominasi Piala Citra FFI

Kisah Ahmad Faiz, Santri Bikin Film hingga Lolos Nominasi Piala Citra FFI
Poster Film Basiyat lolos nominasi Piala Citra FFI 2022. (Foto: Dok. Sinemadura)
Poster Film Basiyat lolos nominasi Piala Citra FFI 2022. (Foto: Dok. Sinemadura)

Sumenep, NU Online Jatim
Film Basiyat karya Ahmad Faiz alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep menorehkan prestasi membanggakan. Baru-baru ini film tersebut ditetapkan sebagai nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2022 kategori film cerita pendek terbaik.


Ahmad Faiz mengaku senang dan bangga karena film warga Madura bisa menduduki puncak tertinggi festival film di Indonesia, yakni Piala Citra. Apalagi ajang FFI merupakan salah satu tolak ukur pegiat film Indonesia dalam menilai kualitas film yang dibuatnya.


“Kami sangat senang, karena ini menjadi tolak ukur kami belajar dan terus menggali kreativitas,” ujarnya beberapa waktu lalu.


Capaian tersebut kian apik karena hingga hari ini film Basiyat merupakan satu-satunya film garapan penduduk Madura yang lolos dan jadi nominasi Festival Film Indonesia. Faiz pun merasa sangat bersyukur atas pencapaian tersebut.


“Kami sangat bersyukur. Kami berharap ini menjadi awal yang baik untuk perfilman di Madura dan Jawa Timur,” ungkapnya.


Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menjelaskan, pihaknya bersama tim sebelumnya melakukan submisi film. Sedikitnya ada 309 film mendaftarkan diri ikut serta di ajang tersebut dan dipilih 30 film terbaik sebagai nominasi.


“Kemudian dipilih 6 karya film untuk menjadi nominasi film cerita pendek terbaik Piala Citra Festival Film Indonesia, dan film Basiyat salah satunya,” ungkapnya.


Sebelumnya disebutkan, film ini merupakan alih wahana dari cerita pendek karya M Shoim Anwar berjudul ‘Mandikan Mayatku dengan Tuak’. Adapun lokasi syuting dilaksanakan di Desa Ganding Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep.


Film tersebut mengangkat spirit multikulturalisme di lingkaran masyarakat Madura. Menurut Faiz, film tersebut mengisahkan polemik antara kiai dan bajing dalam menghadapi wasiat (basiyat) seorang bajing lainnya yang pemabuk untuk dimandikan dengan arak atau tuak saat meninggal dunia, bukan air sebagaimana biasanya.


“Film Basiyat ini memiliki tujuan untuk mempertemukan polemik beberapa elemen di masyarakat, khususnya antara kiai dan bajing. Di mana kiai dan bajing mempunyai padanan sosial yang kuat dengan kultur-kultur yang pas pada bagian-bagian tertentu,” katanya.


Hingga saat ini, film yang diproduksi Sinemadura ini telah meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya, anugerah film terbaik East Java Film Call 2021, film fiksi terbaik International Photography and Short Movie Festival 2022, Asian Perspectives Jogja Netpac Asian Film Festival, dan lain sebagainya.


Editor:

Madura Terbaru