• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 7 Agustus 2022

Madura

Lesbumi Sumenep Diskusi Peran Seni dalam Dakwah NU

Lesbumi Sumenep Diskusi Peran Seni dalam Dakwah NU
Diskusi Lesbumi di kantor PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)
Diskusi Lesbumi di kantor PCNU Sumenep. (Foto: NOJ/Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Dakwah yang dilakukan wali songo melalui kesenian dan kebudayaan agar Islam diterima oleh masyarakat tanpa meninggalkan sastra. Jadi, penyebaran Islam di Nusantara menggunakan pendekatan akulturasi sehingga Al-Qur'an dapat dibaca, dipahami, dan sebagainya.
 

Pernyataan ini disampaikan oleh KH Ahmad Halimi, Wakil Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, di acara Malem Salekoran yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Sumenep di aula PCNU setempat, Senin (21/02/2022).
 

"Kesenian, kebudayaan dan sastra tidak dipisahkan dari NU. Oleh karena itu, anak-anak muda kita harus diajak ke acara pergelaran kesenian yang dibungkus melalui lagu, puisi, gambar, dan lainnya. Namun dalam tanda kutip, nilai-nilai ke-NU-an harus ada di dalamnya," ujarnya.
 

Pada tahun 2000-an, lanjutnya, lagu Sheila on 7 mudah dihafal oleh anak-anak. Guna mempermudah santri menghafal isi kitab kuning, lirik lagu tersebut dijadikan nadlaman oleh sebagian guru.
 

"Kenyataan kesenian menjadi satu hal yang berpengaruh dalam kehidupan anak-anak kita. Jadi, yang dikenalkan oleh muassis seperti burdah, diba'an, barzanji, samman, dan sejenisnya, merupakan bagian dari unsur kesenian dan kebudayaan untuk berdakwah," tuturnya.
 

Sementara itu, Kiai M Faizi yang didaulat sebagai narasumber mengutarakan, Lesbumi NU yang berorientasi pada pengembangan seni dan budaya, tidak lepas dari jalur kesastraan, teater, musik, pertunjukan, wayang, tari, dan sejenisnya.
 

"Kegiatan lembaga ini butuh dana besar dalam satu kali saat membuat acara pertunjukan. Membutuhkan massa banyak, dan didukung oleh stakeholder agar kesenian dan kebudayaan Sumenep tak termakan zaman, seperti Tari Sintung, Tari Muang Sangkal, seni pahat, wayang, ketoprak, seni besi, macapat, mamacah, dan musik tradisional lainnya," terangnya.
 

Masih segar dalam ingatan manusia, lanjutnya, Blackberry tenggelam ketika Android datang. Sama halnya dengan kesenian dan kebudayaan harus dipertahankan dengan mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, mempublikasikan lewat platform layaknya para Youtuber yang eksis memberikan konten pada khalayak luas.
 

"Media sosial mengambil peran sendi-sendi kehidupan. Di era 5.0 ini, seniman dan budayawan NU harus memanfaatkannya. Jika tidak tau mengoperasikannya, bekerja samalah dengan Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) yang merintis dua sayap media dakwah ala An-Nahdliyah. Ingat, program Lesbumi tak hanya bergelut dengan pertunjukan, antologi puisi, dan semacamnya. Misi kita saat ini adalah bagaimana mengenalkannya pada khalayak lewat jejaring internet," pinta Kiai Faizi.


Madura Terbaru