• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 15 Agustus 2022

Madura

Penjelasan Islah Bahrawi Soal Kesimbangan Identitas Negara Kurangi Perpecahan

Penjelasan Islah Bahrawi Soal Kesimbangan Identitas Negara Kurangi Perpecahan
Islah Bahrawi saat acara Halaqah Islam Wasathiyah di Sumenep. Senin (27/06/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)
Islah Bahrawi saat acara Halaqah Islam Wasathiyah di Sumenep. Senin (27/06/2022). (Foto: NOJ/ Firdausi)

Sumenep, NU Online Jatim

Identitas menjadi persoalan dalam suatu negara. Ketika identitas dimunculkan untuk menguasai manusia, maka bisa jadi menciptakan hegemoni kekerasan. Artinya, ketika manusia ingin menjadi yang paling unggul, bisa jadi menguasai supremasi pemeluk agama, suku, organisasi dan sebagainya.


Pernyataan ini disampaikan oleh Islah Bahrawi saat mengisi Halaqah Islam Wasathiyah dengan tajuk ‘Mari Kembalikan Madura yang Rendah Hati dan Penuh Toleran’, Senin (27/06/2022) di Hotel Azmi Pajagalan, Kota, Sumenep.


Acara ini diselenggarakan oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sumenep.


“Selama identitas dibagi dalam hak yang seimbang, seperti halnya Rasulullah yang memberikan keseimbangan antara pemeluk agama dan suku di Madinah, barulah dikatakan seimbang. Pasalnya, Nabi betul-betul menjaga hak dan kewajiban. Misalnya, orang Islam dikenakan zakat maal dan non Islam dikenakan jizyah. Juga orang Islam harus berperang saat kondisi negara terancam, maka yang non Islam harus berperang. Jika menolak perang atau tidak membela negara, maka dikatakan orang munafik,” ujarnya.


Dalam konteks Indonesia adalah keseimbangan. Gus Islah menegagaskan bahwa, Indonesia adalah khilafatul Indonesia yang ashabiyahnya adalah Pancasila. Seumpama Indonesia ada di Arab dan Eropa, pasti terpecah menjadi 12 atau 20 negara.


“Arab ada negara Oman, Bahrain, Kuwait, Qatar dan sebagainya. Itu negara kecil karena dulu ada konflik sebab persoalan hegemoni identitas. Padahal dalam satu kawasan tersebut, bahasa dan agamanya sama. Contoh lainnya, Ceko, Slovakia, Bosnia pecah dengan Serbia, dan negara Eropa lainnya yang tidak mau bersatu,” imbuhnya.


Alumni Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil Bangkalan itu mengatakan, Indonesia menjadi satu negara dengan soliditas tinggi melalui segala perbedaan. Ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama, tetapi bisa disatukan dalam konsep Pancasila. Seumpama, jika tidak ada bejana bernama Bhinneka Tunggal Ika dalam Pancasila, bisa jadi ada perpecahan.


“Ada upaya dari oknum yang ingin menghancurkan bangsa kita. Dulu negara raksasa ingin menguasai Timur Tengah. Ketika bangsa di sana menyadari bahwa minyaknya dijadikan tunggangan, negara raksasa tersebut bergeser ke Asie Selatan. Afghanistan dihajar dengan Al-Qaeda sehingga Taliban menjadi stigma terorisme dan gerakan radikal. Gerakan itu tidak nyaman karena tidak bisa dijadikan kekuatan global, hingga pada akhirnya bergeser ke Asia Pasifik,” ungkap Gus Islah.


Menurutnya, Indoneia negara katulistiwa yang secara klimatologis dan geografis berada di garis persimpangan. Seorang pakar sejarawan mengatakan, jikalau ingin menguasai dan memecah belah Indonesia, maka hajar Pancasila, pecah belah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, karena kekuatan global dimulai dari sini.


Alumni Universitas Nasional Jakarta itu mengutarakan, bagian penting di Indonesia ada di Madura. Ini menjadi pertarungan terakhir atau benteng yang memiliki militansi tinggi. Artinya, Madura menjadi simpul militansi. Jika bisa ditaklukkan, maka dijadikan gerakan robot untuk kepentingan pragmatis itu. 


“Sementara ini gerakan teror di Madura masih berbasis jaringan. Belum terdeteksi kuat seperti kasus di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sumatera bagian Selatan. Penangkapan di Madura, karena mendeklarasikan diri sebagai ketua organisasi daerah,” tandasnya.


Editor:

Madura Terbaru