• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Senin, 27 Juni 2022

Malang Raya

HSN, Wasekjen PBNU Minta Nahdliyin Gali Spirit Perjuangan Santri

HSN, Wasekjen PBNU Minta Nahdliyin Gali Spirit Perjuangan Santri
Wasekjen PBNU, Imam Pituduh. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)
Wasekjen PBNU, Imam Pituduh. (Foto: NOJ/Madchan Jazuli)

Malang, NU Online Jatim

Imam Pituduh, Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengungkapkan bahwa Hari Santri Nasional (HSN) adalah spirit rekognisi, afirmasi, proteksi, dan fasilitasi terhadap warga santri. Warga negara Indonesia sangat heterogen dan bermacam-macam, salah satunya warga Nahdliyin jumlahnya sekitar 102 juta jiwa.

 

"Sudah selayaknya sebagai salah satu pendiri bangsa, Nahdliyin jumlahnya terbesar serta kontribusinya, terutama pajak. Sudah selayaknya negara memberikan rekognisi pengakuan," kata Imam Pituduh ditemui NU Online Jatim di Universitas Islam Malang (Unisma), Kamis (21/10).

 

Selanjutnya, kaum santri juga harus mendapat perhatian. Karena kontribusi jika dirunut sejarah, ikut memperjuangkan kemerdekaan. Terlebih, adanya resolusi jihad merupakan langkah konkret kaum santri berperang melawan penjajah.

 

Jauh sebelum ada Tentara Nasional Indonesia (TNI), kaum santri sudah terdepan dalam melawan ketidak adilan penjajah. Hingga tercetuslah resolusi jihad pasca kemerdekaan sampai puncaknya dengan rentetan aksi heroik di 10 November 1945.

 

"Pertempuran panjang ini untuk memenangkan pertempuran panjang sampai menuju kemerdekaan, ini yang harus negara lakukan rekognisi, proteksi, dan fasilitasi," bebernya.

 

Kaum santri sudah dicetak pejuang-pejuang oleh Pangeran Diponegoro sebelum kemerdekaan. Pengikut Pangeran Diponegoro tersebut ketika beliau kalah, murid-muridnya berdiaspora ke pelosok-pelosok menyebarkan agama dan antipenjajah.

 

"Kaum santrilah yang berperang melawan penjajahan jauh sebelum itu. Bisa dicek mulai era Pangeran Diponegoro yang perang, ya, kaum santri melawan penjajah," imbuh alumnus Unisma tersebut.

 

Imam menambahkan, dunia santri ini menjadi hal penting untuk diperhatikan. Kontribusi tidak hanya berhenti pada peperangan masa kolonial, tetapi juga masa milenial.

 

"Selama ada santri, insyaallah NKRI akan terjaga dengan baik. Ini komitmennya, NKRI akan terjaga dengan santri," terang pria yang masa mudanya aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia itu.


Malang Raya Terbaru