• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Sabtu, 28 Mei 2022

Malang Raya

MUI Jatim Ingatkan Anak Yatim Akibat Covid-19 Perlu Diperhatikan

MUI Jatim Ingatkan Anak Yatim Akibat Covid-19 Perlu Diperhatikan
Ketua Badang Kesehatan MUI Jatim Djoko Santoso. (Foto: NOJ/ Hilyatul Maknunah)
Ketua Badang Kesehatan MUI Jatim Djoko Santoso. (Foto: NOJ/ Hilyatul Maknunah)

Malang, NU Online Jatim

Pandemi menyisakan kesedihan mendalam bagi sebagian orang, tidak terkecuali anak-anak. Pasalnya, seiring meningkatnya kasus kematian akibat covid-19, banyak anak-anak mendadak menyandang status yatim sebab kehilangan orang tuanya. 

 

Merespon hal ini, Kepala Badan Kesehatan (Kabakes) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Djoko Santoso mengingatkan pemerintah dan masyarakat memperhatikan hal tersebut.

 

"Harus disadari, anak yatim memiliki hak sandang pangan papan yang sama dengan yang memiliki orang tua," kata Djoko di webinar seri literasi pandemic yang diadakan MUI Jatim pada Jumat (03/09/2021) malam.

 

Guru Besar bidang klinis di Universitas Airlangga tersebut menjelaskan bahwa usia krusial anak-anak yang sangat berpengaruh terhadap kondisi di masa depannya adalah di saat usia tujuh tahun pertama dalam kehidupannya.

 

"Jika kebutuhan gizi mereka tidak terpenuhi pada usia tersebut, mereka akan mengalami stunting," jelas Djoko.

 

Fenomena stunting ini dijelaskan sebagai sebuah masalah kesehatan pada anak yang mengalami penghambatan pertumbuhan tinggi badan dari anak seusianya. 

 

Namun lebih dari itu, mereka juga akan mengalami penghambatan dalam proses berpikir, kesehatan mental dan sosial.

 

"Pada akhirnya akan memengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan," kata pria yang menyelesaikan pendidikan doktoral di Jepang tersebut.

 

Adapun prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2019 menyentuh angka 27-28 persen, angka tersebut berada di atas standar WHO yaitu 20 persen.

 

"Pemerintah sedang mengupayakan hal ini bisa tercapai pasa tahun 2024-2025, asumsinya jika tidak ada pandemi," papar Djoko

 

Terlantarnya nasib anak yatim, lanjut Djoko, adalah kesalahan bersama, baik bagi mereka yang diamanahi oleh pemerintahan maupun yang dianugerahi kemuliaan dengan akal budi yang tinggi sehingga semestinya tidak boleh ada keterlantaran. 

 

"Berdayakanlah inovasi bersama pemerintah beratnya mengawal generasi utamanya yatim," paparnya.

 

Djoko mengatakan bahwa tanggung jawab pengasuhan anak yatim setelah kehilangan orang tuanya adalah keluarga terdekatnya dahulu, seperti kakek, paman dan keluarga terdekat lain.

 

"Plot pertama yang harus dikuatkan adalah kepekaan keluarga terdekat, dan ini adalah panggilan nurani," kata Djoko.

 

Jika tidak bisa, lanjut Djoko, bergeserlah kepada bapak ibu asuh yang bersedia selain memenuhi kebutuhan kesehatan, tak kalah penting pendidikan yang baik bagi mereka. 

 

 

"Hakikat mendidik ada beberapa hal, dari tidak tahu menjadi tahu, lalu menerapkan kemudian mampu hidup bersama ekosistem dan  mengembangkan jiwa inovasi," lanjutnya. 

 

Hal tersebut, menurut Djoko dilakukan tidak lain untuk mengawal masa depan yatim menjadi sehat tidak hanya lepas dari permasalahan stunting namun sehat jiwa, spiritual, sosial dan mental

 

Editor: Romza


Editor:

Malang Raya Terbaru