• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Selasa, 27 September 2022

Matraman

Gus Romzi Ahmad: Literasi Digital Faktor Pengembangan Peradaban

Gus Romzi Ahmad: Literasi Digital Faktor Pengembangan Peradaban
Gus Romzi Ahmad (kanan) bersama narasumber dari Ais Nusantara saat acara seminar nasional di Ponpes Al Fattah Kikil. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)
Gus Romzi Ahmad (kanan) bersama narasumber dari Ais Nusantara saat acara seminar nasional di Ponpes Al Fattah Kikil. (Foto: NOJ/ Anwar Sanusi)

Pacitan, NU Online Jatim

Arus Informasi Santri Nusantara (Aisnu) menggelar seminar nasional bertajuk ‘Santri Makin Cakap Digital’ di Pondok Pesantren Al Fattah, Kikil, Arjosari, Kabupaten Pacitan, pada Kamis (19/05/2022). Dalam kegiatan ini turut menghadirkan, Wakil Ketua Umum Siberkreasi Romzi Ahmad, Koordinator Nasional Ais Nusantara Anifa Hambali, dan Founder Media ‘Cah Pondok’ Ulinnuha Lazulfa.


Wakil Ketua Umum Siberkreasi, Romzi Ahmad mengatakan, urusan agama bukan sebatas hukum, doktrin, akidah, dan syariah. Namun, agama juga berbicara peradaban dan kebudayaan. 


“Produk peradaban hari ini adalah teknologi digital. Karena jadi produk peradaban, jadi anak santri harus sudah mulai memahami isu-isu peradaban dan kebudayaan. Jadi, literasi digital juga berkaitan dengan pengembangan peradaban itu ,” kata Gus Romzi sapaan akrabnya.


Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa literasi digital juga berkaitan dengan perilaku manusia. Pasalnya, pola interaksi seseorang akan berpindah dari dunia nyata menuju dunia digital. “Sebagai seorang muslim, kalau ada di internet harus fokus pada akhlak dan adab,” imbuhnya.


Islam juga berkaitan tentang masyarakat yang peduli dengan peradaban dan kemanusiaan. Begitu juga dalam ruang digital santri harus mampu meningkatkan urusan kemanusiaan karena santri bukan sekedar sosok yang mencari ilmu dan amal saja melainkan mencari keberkahan dan keridhoan.


“Jadi kalau di pesantren jangan sekedar mencari ilmu, akan tetapi juga mencari keterampilan dan pengalaman hidup,” tuturnya.


Menurutnya, kebudayaan adalah produk interaksi antar manusia. Namun, apabila kebudayaan telah masuk ke dunia digital, maka bukan sekedar interaksi antar manusia melainkan hubungan manusia dan teknologi agar mampu berkembang. 


“Lalu bagaimana hubungan dunia digital dengan spiritual atau keberagamaan seseorang?. Jadi, anak muda zaman sekarang ini banyak yang tergugah oleh konten-konten instagram. Akibat ada konten tentang sedekah akhirnya seseorang teringat bahwa hari ini belum melakukan sedekah, lalu ia bersedekah. Nah itu merupakan bukti media sosial mempengaruhi keberagamaan kita,” pungkasnya.


Editor:

Matraman Terbaru