• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Rabu, 7 Desember 2022

Matraman

Rais NU Nganjuk: Zuhud Pondasi Dasar untuk Akhirat

Rais NU Nganjuk: Zuhud Pondasi Dasar untuk Akhirat
Rais Syuriyah PCNU Nganjuk, KH Ali Musthofa Said (Foto: NOJ/ Haafidh Nur Siddiq Yusuf)
Rais Syuriyah PCNU Nganjuk, KH Ali Musthofa Said (Foto: NOJ/ Haafidh Nur Siddiq Yusuf)

Nganjuk, NU Online Jatim
KH Ali Musthofa Said, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Nganjuk, menyebut bahwa berkhidmat di NU sama dengan bertarekat. Sebab definisi tarekat yaitu jalan ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 

“Orang yang mencintai dzikir, menjadi guru ngaji, dermawan kepada dhuafa dan berjuang di Nahdlatul Ulama ini juga tarekat,” terang Kiai Ali saat memberikan pengajian Kitab Minahussaniyah pada Jumat (05/03/2022) di Kantor PCNU setempat.
 

Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Hasan Tankila itu mengatakan, tidak sedikit jumlah orang yang wushul ilallah dikarenakan memiliki keihklasan hati yang besar ketika berjuang melalui Nahdlatul Ulama. Wushul ilallah adalah pengalaman rohani di mana seseorang merasakan kedekatan dengan Allah.
 

“Mari kepada Nahdliyin senantiasa menjaga niat agar tetap lurus mencari keridhaan Allah SWT,” sambungnya.
 

Disampaikan Kiai Ali, salah satu faktor sukses agar seseorang bisa dekat dengan Allah SWT adalah mennggalkan hubbuddunya atau mencintai dunia. Menurutnya, orang yang tidak bisa zuhud kepada  dunia maka tidak bisa membangun akhirat sebab tidak memiliki pondasi dasar.
 

“Zuhud itu membersihkan hati dengan menghilangkan cinta terhadap dunia. Apabila seorang hamba cinta dunia 90 persen maka Allah cinta kepada hamba itu 10 persen. Jika seorang hamba mencintai dunia 0 persen maka Allah akan cinta kepadanya 100 persen,” paparnya.
 

Kiai Ali menceritakan, terdapat  salah seorang sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah SAW akan masuk surga yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia merupakan orang sangat kaya yang dermawan dan bahkan pernah mendermakan semua hartanya demi membela Islam.
 

Pada suatu hari Abdurrahman bin Auf sangat sedih mendengar Rasulullah SAW mengatakan orang yang paling akhir sekali masuk surga adalah orang kaya karena dihisab paling lama. Dia kemudian berfikir bagaimana cara agar cepat miskin supaya dapat masuk surga lebih cepat.
 

Sepulang dari perang Tabuk, kurma di Madinah milik para sahabat busuk dan harganya jatuh. Mendengar hal itu, Abdurrahman bin Auf ikut prihatin dan berfikir dengan menolong sahabat-sahabatnya itu akan menjadi jalan menjadi miskin.
 

Tak lama setelah itu, Abdurrahman bin Auf menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik para sahabatnya dengan harga yang cukup tinggi. Para sahabat pun merasa gembira karena tiba-tiba kurma busuk mereka terjual dengan harga yang bagus. Disisi lain Abdurrahman bin Auf juga sangat bahagia karena yakin akan jatuh miskin.
 

  

Namun, bukannya menjadi miskin justru bertambah kaya karena kedermawanannya. Tiba-tiba datang seorang utusan dari negeri Yaman membawa berita, bahwa Raja Yaman mencari kurma busuk untuk obat wabah yang sedang menular di sana.
 

“Rezeki itu maqsum, sudah ada bagiannya sendiri-sendiri. Kalau sibuk mengurus dunia kita akan rugi,” pungkasnya.


Editor:

Matraman Terbaru