• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Kamis, 18 Agustus 2022

Matraman

Sejumlah Pesantren Muadalah di Tanah Air Gelar Pertemuan di Tremas

Sejumlah Pesantren Muadalah di Tanah Air Gelar Pertemuan di Tremas
Suasana silaturahim nasional FKPM bersama santri dan Pengasuh Pondok Tremas. (Foto: NOJ/Muhdhori Ahmad)
Suasana silaturahim nasional FKPM bersama santri dan Pengasuh Pondok Tremas. (Foto: NOJ/Muhdhori Ahmad)

Pacitan, NU Online Jatim
Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) se-Indonesia menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) di Hotel Parai Beach Resort Teleng Ria, Sidoharjo, Kecamatan/Kabupaten Pacitan sejak Sabtu hingga Ahad (12-13/02/2022). Kegiatan dilanjutkan dengan konvoi muadalah dari hotel menuju Perguruan Islam Pondok (PIP) Tremas Kecamatan Arjosari kota setempat.
 

"Kegiatan yang dihadiri kiai seluruh Indonesia tersebut merupakan agenda tahunan. Tujuannya dalam rangka memperkuat jaringan pesantren muadalah baik itu pada jenis salafiyah maupun ashriyah yakni modern," kata Pengasuh PIP Tremas Pacitan, KH KRT Luqman Al-Hakim Harits Dimyathi.

Dirinya mengatakan bahwa, KH Harist Dimyathi merupakan orang yang mempertahankan jati diri Pondok Tremas. Walaupun pada waktu itu pemerintah tidak mengakui legalitas pendidikan tersebut. 
 

"Muadalah merupakan pengakuan negara kepada pesantren yang masih eksis dengan tipologinya masing-masing," ungkapnya. 
 

Kiai yang juga Sekretaris Jenderal FKPM tersebut mengungkapkan bahwa, pendiri Pondok Tremas KH Abdul Mannan Dipomenggolo merupakan salah seorang Indonesia pertama yang belajar di Universitas Al-Azhar Mesir.
 

"Hampir sekian puluh tahun, bahkan ratusan tahun pondok pesantren salafiyah kesulitan untuk belajar di Al-Azhar Mesir. Tapi, setelah ini para santri salafiyah se-Indonesia akan kami mudahkan untuk dapat belajar ke sana," jelasnya.
 

Sementara itu, guru besar bidang Sastra Arab modern Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Sangidu mengatakan bahwa, keinginannya berkunjung ke Tremas sudah ada  sejak 12 tahun silam, namun baru terlaksana saat ini. Dia pun menceritakan beberapa pengalamannya pada masa itu. Salah satunya tentang pembuatan buku 'Hubungan Indonesia dengan Mesir'. 
 

“Pada waktu penyusunan buku tersebut saya bersama tim mencari manuskrip berbagai bahasa, mulai bahasa Arab hingga bahasa Belanda untuk mengetahui awal hubungan Indonesia dengan Mesir,” terangnya. 
 

Dalam perjalanannya ditemukan arsip bahasa asing yang di dalamnya terdapat nama Pondok Pesantren Tremas dan pendirinya. 
 

"Waktu itu, kami hendak mencetak buku 'Hubungan Indonesia dengan Mesir' terdapat nama Pondok Pesantren Tremas dan pendirinya,” ungkap dia. 
 

Tahun 1850 Masehi, KH Abdul Manan Dipomenggolo bertemu dengan grand syeikh ke-19 Al Azhar, Syeikh Ibrahim al-Bajuri. Sekarang Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Toyib adalah yang ke-44. 
 

“Maka dengan ini, saya ada buku yang di dalamnya terdapat sejarah beliau," jelas alumnus Pondok Pesantren Modern Pabelan Muntilan Jawa Tengah itu. 

 

Penulis: Muhdhori Ahmad dan Anwar Sanusi


Editor:

Matraman Terbaru