• logo nu online jatim
Home Metropolis Malang Raya Madura Tapal Kuda Kediri Raya Matraman Pantura Khutbah Keislaman Tokoh Rehat Jujugan Nusiana Opini Pendidikan Pemerintahan Parlemen Pustaka Video Risalah Redaksi NU Online Network
Minggu, 3 Juli 2022

Metropolis

Ngaji Binnur: Memahami Moderasi Agama dan Beragama

Ngaji Binnur: Memahami Moderasi Agama dan Beragama
Ustadz Ahmad Husain Fahasbu, pengajar Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo. (Foto: Facebook)
Ustadz Ahmad Husain Fahasbu, pengajar Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo. (Foto: Facebook)

Surabaya, NU Online Jatim
Memahami moderasi agama dan beragama bukan sesuatu yang sama. Tetapi pengertian keduanya justru berbeda. Hal itu diungkapkan Ustadz Ahmad Husain Fahasbu, pengajar Ma'had Aly Nurul Jadid Paiton Probolinggo saat acara Ngaji Binnur NU Online Jatim, Senin (25/04/2022).


"(Moderasi agama dan moderasi beragama) ini dua hal yang sebenarnya mirip, tapi beda," katanya di awal-awal pemaparannya.


Menurutnya, moderasi agama adalah Islam sebagai agama terakhir yang datang membawa konsep moderat atau wasathiyah. Dengan kata lain adalah aspek moderasi di dalam sebuah agama.


Ia menyatakan bahwa moderasi agama atau Islam wasathiyah yaitu menggunakan prinsip fair, realistis, dan jujur. "Dalam konteks hari ini Islam wasathiyah yang dimaksud adalah proporsional, yaitu sesuai bagiannya,"


Gus Husain juga mengungkapkan konsep moderasi agama setidaknya ada tiga poin. Pertama, kebenaran di antara dua kebatilan atau kesalahan. Jadi mengambil jalan tengah di antara dua kebatilan. "Misalnya, tengah-tengah antara kikir dan berlebihan atau boros," ungkapnya.


Kedua, perpaduan antara dua hal yang berlainan. Ia menjelaskan bahwa Islam tidak hanya mementingkan dunia, tapi juga akhirat. Islam bukan sekedar rohani tapi juga jasmani.  Islam juga ada ushul dan furu', serta memadukan akal dengan naqli.


"Misalnya dalam mengenal ketuhanan harus mengkombinasikan dalil aqli dengan naqli," ujar Gus Husain.


Konsep moderasi agama ketiga adalah realistis. Yaitu menerima apa adanya. Gus Husain menyampaikan bahwa terkadang manusia menginginkan sesuatu yang ideal. Tetapi karena kondisi tertentu akhirnya tidak sesuai keinginan tersebut.


"Maka menerima apa adanya sembari berikhtiar untuk mencapai yang maksimal," ulasnya.


Dalam kesempatan itu, Gus Husain juga membeberkan bahwa moderasi beragama adalah tentang cara pandang. Baginya, sosialisasi tentang moderasi beragama adalah usaha mengubah cara pandang seseorang yang tidak moderat supaya menjadi moderat.


"Kalau agama tidak perlu dimoderasi, karena dari sananya memang sudah moderat. Tapi yang perlu dimoderasi adalah cara pandangnya," tandasnya.


Metropolis Terbaru